Home » , » Suatu Pengantar menuju Filsafat Romawi

Suatu Pengantar menuju Filsafat Romawi

Sumber Gambar: Home - FC2
Oleh: Galih Rio Pratama

Pada abad ke 6 SM, bermunculan para pemikir kepercayaan yang bersifat rasional (cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural religious berubah menjadi sistem cultural religious.

Pemikiran Yunani dan Romawi tersebut dikenal pula dengan filsafat. Disebut-sebut pemikiran orang barat (Eropa Barat) paling tajam dalam perumusan-perumusannya, jelas, terang dan realistis. Tidak dapat dipungkiri bahwa dasar pandangan dan pemikiran itu berasal dari alam pemikiran Yunani dan Romawi. Dari sinilah perlu mengetahui dan mengkaji perkembangan Pemikiran Yunani dan Romawi.

Pandangan Filsafat Yunani dan Romawi

Heredotus mengagumi kebesaran dan keberanian orang-orang besar, pahlawan, pendeta maupun raja karena perjuangannya dianggap sebagai sebab utama perubahan dalam sejarah. Dalam pandangan Heredotus, ia menganggap kehendak dewa-dewa sebagai penggerak sejarah terutama bagi perkembangan-perkembangan yang tidak dapat menerangkannya.

Sedangkan Thucydides menganggap bahwa sejarah adalah ilmu pengetahuan eksak tentang peristiwa masa lampau. Dari pandangan kedua tokoh ini dianut oleh sejarawan Mesir, Babylonia dan Yunani. Dan pandangan filsafatnya ditentukan oleh Hukum Fatum.

Hukum Fatum dalam diri manusia bersumber dari alam pikiran Yunani.  Alam pikiran yunani adalah dasar dari perkembangan alam pikiran barat. Salah satu sendi penting adalah anggapan tentang manusia dan alam. Pada dasarnya alam raya sama dengan alam kecil, yaitu manusia; makro kosmos sama dengan mikro kosmos.

Kosmos menunjukkan bahwa alam itu teratur dan di alam itu hukum alam berkuasa. Kosmos bukanlah chaos atau kekacauan. Alam raya dan alam manusia itu dikuasai oleh nasib (qadar) yaitu sesuatu kekuatan gaib yang menguasai makrokosmos-mikrokosmos. Perjalanan hidup alam semesta ditentukan oleh nasib, qadar atau fatum.

Perjalanan matahari, bulan, bintang,  manusia dan sebagainya tidak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan oleh nasib. Hukum alam yang menjadi dasar dari segala hukum kosmos adalah hukum lingkaran atau hukum siklus. Segala kejadian, segala peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi.



Apabila digambarkan seperti dibawah ini :

Semi                                                                    Malam                              
                                       
Berbuah                           Tumbuh                               Sore                             Pagi
                                               
                    Berbunga                                                                  Siang                                    
                                                            Musim Hujan

                                        Pancaroba                           Pancaroba
 

                                                               Kemarau

Arti hukum siklus ialah bahwa setiap peristiwa kejadian akan terulang kembali, seperti siklus di atas. Seperti matahari tiap-tiap pagi terbit, demikian tiap-tiap peristiwa akan dialami lagi. Oleh sebab itu, terdapatlah dalil “di dunia tidak terdapat sesuatu (peritiwa) yang baru, segala sesuatu tentu berulang menurut siklus”.

Zaman lampau telah terjadi menurut kodrat alam, terlaksana menurut qadar. Jadi mereka berpikir tak pernah menyesalkan sesuatu yang tak ada faedahnya dan tak meninjau ke belakang. Zaman yang akan datang akan terjadi seperti telah dikodratkan; manusia tidak akan dapat mengubah qadar itu. Maka tak perlu mencemaskan masa yang akan datang dan nikmatilah masa yang sekarang serta menerima nasib dan qadar yang ada. Hal ini disebut dengan amor fati (Cintailah nasibmu).

Qadar, nasib atau fatum bagi alam yunani merupakan kekuatan tanggal yang tak dikenal dan tak perlu dikenal. Penggerak kosmos diterima pemberiannya dengan gembira: amor fati. Oleh sebab itu, cerita sejarah dari masa itu melukiskan kejadian-peristiwa dengan rasa gembira dan menyerah (kepada qadar).

Sifat dari cerita sejarah ialah realistis, menurut kenyataan dengan menceritakan peristiwa-peristiwa itu sedemikian, seolah-olah harus terjadi demikian.

Karakteristik Pemikiran Yunani dan Romawi

Zaman Yunani Kuno yang berlangsung dari abad 8 SM sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap “aninquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis)”, dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap  “receptve attitude mind (sikap menerima segitu saja)”. Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya (zaman Hellenisme) di bawah pimpinan Iskandar Agung (356-323 SM) dari Macedonia, yang merupakan salah seorang murid Aristoteles.

Pada abad ke-0 M, perkembangan ilmu mulai mendapat hambatan. Hal ini disebabkan oleh lahirnya Kristen. Pada abad pertama sampai abad ke-2 M mulai ada pembagian wilayah perkembangan ilmu. Wilayah pertama berpusat di Athena, yang difokuskan dibidang kemampuan intelektual. Sedangkan wilayah kedua berpusat di Alexandria, yang fukos pada bidang empiris.

Setelah Alexandria di kuasai oleh Roma yang tertarik dengan hal-hal abstrak, pada abad ke-4 dan ke-5 M ilmu pengetahuan pegetahuan benar-benar beku. Hal ini di sebabkan oleh tiga pokok penting :
1.    Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir.
2.    Ajaran Kristen tidak disangkal.
3.    Kerjasama gereja dan penguasa sebagai otoritas kebenaran.

Walaupun begitu, pada abad ke-2 M sempat ada Galen (bidang kedokteran) dan tokoh aljabar, Poppus dan Diopanthus yang berperan dalam perkembangan pengetahuan. Pada zaman ini banyak bermunculan ilmuwan terkemuka. Dapat diketahui bahwa pada zaman Yunani Kuno ini perkembangan demi perkembangan mulai tercipta. Karena didorong dengan adanya pemikiran-pemikiran yang diciptkan oleh filosof-filosof seperti Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan filosof lainnya.

Selanjutnya, Filsafat mempengaruhi alam pikiran Romawi dalam dua abad terakhir sebelum masehi, yakni pada saat ketika negara kota berkembang menjadi suatu impremium yang mengorganisasikan bagian dunia yang di kenal pada waktu itu berdasarkan hukum dan peradaban yang sama. Sifat universal impremuim yang berakar pada perdaban yunani akan tetapi yang tak mengandung sifat eksikutif negara yunani. 

Dibawah pengaruh impremium romawi dan gereja kristen bersaa-sama alam pikiran kebudayaan dan politik abad pertengahan bercorak atas keyakinan bahwa umat manusia itu satu dan merupakan satu masyarakat. Zaman-zaman modernpun agama dengan aturan-aturannya yang mempersatukan alam pikiran, kehidupan sosial dan sikap, sepenunya menguasi kehidupan pribadi dan kemasyarakatan semua negara kristen dan islam.

Kekhasan Filsafatnya

Romawi memiliki pemikiran filsafat yang terpengaruhi oleh bangsa Yunani kuno. Romawi itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan Yunani. Salah satu orang Romawi pertama yang menulis filsafat adalah Lucretius, dia mengikuti pandangan filsafat Epicurean Yunani. Epicurean merupakan aliran filsafat yang menekankan bahwa hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek harus ditahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan yang lebih besar, lebih kekal, atau lebih hebat dalam jangka panjang.

Selain itu ada  Cicero yang beraliran filsafat skpetis yang selalu mempertanyaka setiap gagasan atau fakta yang didapat sehingga manusia mampu berfikir lebih logis. Tetapi Cicero juga mengikuti beberapa gagasan stoik, terutama bahwa manusia harus mencoba menjadi sebaik mungkin. Serta aliran Neoplatonisme yang dibawakan oleh Plotinus (filsafat yang berasal dari Alexandria tapi kemudian menetap di Roma). Yang memiliki pemikiran Jiwa disinari oleh cahaya dari yang Esa, sementara materi adalah kegelapan yang tidak mempunyai keberadaan yang nyata. Tapi bentuk-bentuk di alam mendapat sedikit cahaya dari yang Esa. Kegelapan sesungguhnya tidak ada. Ia hanyalah ketiadaan cahaya.

Kekhasan Politiknya

Pada awalnya Romawi kuno memiliki sistem pemerintahan Monarki (Kerajaan) yang dibangun oleh Romulus. Para raja-keturunan raja Romawi (kuno) berasal dari keturunan pendatang, sehingga bangsa latin/penduduk asli tidak menyukai hal itu, terlebih lagi mereka dikenakan undang-undang militer hingga terjadilah pemberontakan penduduk Roma yang berhasil menjatuhkan raja Tarquin (509 SM).

Setelah pemberontakan tersebut, terbentuklah sebuah Republik Romawi yang mampu berkuasa dari 500-27 SM. Pada masa Republik Romawi pembagian penduduk didasarkan atas dua golongan “Patricia” dan “Plabea”. Patricia merupakan keturunan bangsawan, dan Plabea merupakan warga negara yang bisa dikatakan tidak utuh, tetapi masih memiliki hak politik.

Orang-orang dari golongan Patricia memegang kedudukan dalam lembaga-lembaga politik yaitu Konsul (Pemegang Eksekutif), Senat (Dewan yang berasal dari mantan pejabat konsul), dan Majelis. Dan khusus untuk majelis, golongan Plebea juga ikut andil didalamnya.

Kekhasan Ilmu Pengetahuannya

Dalam bidang Ilmu pengetahuan Romawi meneruskan pengetahuan yang telah berkembang pada zaman Yunani kuno. Diantara para ilmuwan romawi sebut saja Galen, ahli dalam bidang obat-obatan, anatomi, dan fisiologi. Serta Lucretius yang mengikuti jejak Epikurus dan berpendapat materi itu terdiri atas atom.

Sumbangan terbesar bangsa Romawi adalah bidang kedokteran. Bangsa Romawi telah menggunakan apa yang dinamakan radas kedokteran. Ini merupakan salah satu diantara 200 perkakas kedokteran untuk memeriksa bagian dalam ibu yang mengandung.

Satu lagi yang terkenal hingga sekarang. Para dokter bangsa Romawi berhasil menolong kelahiran seseorang bayi yang tidak dapat dilahirkan secara normal, saat pertama kali proses tersebut digunakan pada kelahiran Julius Caesar, sehingga istilah kedokteran yang dipakai hingga saat ini adalah operasi “Caesar”.

Kekhasan Keseniannya

Seperti pada umumnya peninggalan bangs kuno, bangunan dan karya sastra. Bangsa romawi juga memberikan suatu peninggalan (Seni bangunan dan Sastra), tetapi kesenian tersebut memiliki ke-khasan tersendiri. Pada seni bangunan bangsa Romawi telah menemukan sistem beton sehingga bangunan-bangunan mereka dapat bertahan lama hingga beberapa abad sehingga bangunan-bangunan tersebut dapat dilihat bekas-bekas kemegahannya.

Jika Yunani memili gedung Teater untuk suatu pertunjukan, maka Romawi memiliki kebanggaan tersendiri untuk hal itu. Sebut saja Amphitetaer dan Colloseum (bangunan berbentuk stadion yang mampu menampung ratusan ribu penonton). Amphiteater digunakan untuk pertunjukan hiburan layaknya gedung teater zaman yunani kuno, beda halnya dengan Colloseum yang digunakan untuk sebuah pertandingan yang sangat terkenal antar manusia dengan manusia “Gladiator”.

Selain itu masih banyak lagi seni bangunan hasil peninggalan Romawi kuno diantaranya Pantheon (rumah dewa), Forum Romanum (gedung pemerintahan), Cloaca Maxima (saluran air). Dan untuk karya sastra yang terkenal adalah Oe Belo Gallica karangan Julius Caesar tentang penaklukan bangsa Galia diperancis selatan dan Aeneis karya Vergellius yang menceritakan tentang  asal-usul berdirinya kerajaan Romawi kuno.
___________________________________________________

Referensi:

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Djaya, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa – Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment