Home » , , » Filsafat? Bagian II: Pengetahuan dan Kedudukan Filsafat dalam Pengetahuan

Filsafat? Bagian II: Pengetahuan dan Kedudukan Filsafat dalam Pengetahuan

Sumber Gambar: YouTube
Oleh: Alarumba Agamsena

<<<Baca Bagian I: Filsafat adalah...

Pengertian Ilmu Pengetahuan
Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial, yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya setiap ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Dalam hal ini, kita akan meluruskan paradigma-paradigma tentang ilmu pengetahuan yang selama ini banyak yang melenceng. Dengan filsafat kita akan mengislamisasi ilmu pengetahuan. Agar nantinya fungsi ilmu pengetahuan tidak melenceng dari norma agama ataupun norma negara.

Pengetahuan sebagai produk berpikir merupakan obor dan semen peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer zaman sekarang. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kenyataan hidup sehari-hari dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya.

Ilmu berkembang pesat, demikian juga dengan cabang-cabangnya. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni, filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu sosial. Sehubungan dengan adanya berbagai sumber, sifat-sifat, karakter, dan susunan ilmu pengetahuan itu orang mengantarakan pembagian ilmu pengetahuan.

Pembagian ilmu pengetahuan tergantung kepada cara dan tempat para ahli itu meninjaunya. Pada Zaman Purba dan Abad Pertengahan pembagian ilmu pengetahuan berdasarkan kesenian yang merdeka, yang terdiri dari dua bagian yaitu: (i) trivium, dan (ii) audrivium Trivium atau tiga bagian ialah:
  1. Gramatika, bertujuan agar manusia dapat menyusun pembicaraan dengan baik.
  2. Dialektika, bertujuan agar manusia dapat berpikir dengan baik, formal, dan logis.
  3. Retorika, bertujuan agar manusia dapat berbicara dengan baik.
Quidrivium atau empat bagian terdiri dari:
  1. Aritmatika, adalah ilmu hitung
  2. Geometrika, adalah ilmu ukur
  3. Musika, adalah ilmu music
  4. Astronomia, adalah ilmu perbintangan
Menurut pembagian klasik, maka ilmu pengetahuan dibedakan atas natural science dan social science.

Sedang C.A Van Peurson membedakan ilmu pengetahuan atas :
  1. Ilmu pengetahuan kemanusiaan
  2. Ilmu pengetahuan alam
  3. Ilmu pengetahuan hayati
  4. Ilmu pengetahuan logika-deduktif
Di dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi Nomor 22 Tahun 1961 di Indonesia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan atas empat kelompok ilmu sebagai berikut
  1. Ilmu agama/kerohanian, yang meliputi ilmu agama dan ilmu jiwa;
  2. Ilmu kebudayaan, yang meliputi ilmu sastra, ilmu sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat;
  3. Ilmu sosial, yang meliputi ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosial-politik, ilmu ketenegaraan dan ketataniagaan
  4. Ilmu eksakta, yang meliputi ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti alam, ilmu teknik, ilmu geologi, ilmu oceanografi.
Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan

Setelah kita mengetahui arti dari filsafat dan ilmu pengetahuan, kali ini kita akan mencoba meletakkan di mana posisi filsafat ilmu ketika dihadapkan dengan islamisasi ilmu pengetahuan. Orang yang tidak berfilsafat tidak akan mengerti bagaimana sebaiknya ilmu pengetahuan tersebut diperlakukan. Yang mana dalam pemanfaatan tersebut tidak didasari dengan rasa keruhanian yang taat akan Tuhannya. Maka dari landasan itulah filsafat ilmu berperan penting dalam islamisasi ilmu pengetahuan.

Filsafat adalah induk dari ilmu Pengetahuan (mater scientiarium) yang melahirkan banyak ilmu penngetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah di kaji dan diteliti didalamnya. Dalam hal metode dan obyek studinya, filsafat berbeda dengan ilmu Pengetahuan, ilmu Pengetahuan menyelidiki masalah dari satu bidang khusus saja, dengan selalu menggunakan metode observasi dan eksperimen dari fakta-fakta yang dapat diamati. Sementara filsafat berpikir sampai di belakang fakta-fakta yang nampak.

Dalam ilmu Pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafat lah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau Pengetahuan. Memang lambat laun beberapa ilmu-ilmu Pengetahuan itu akan melepaskan diri dari filsafat akan tetapi tidaklah berarti ilmu itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari filsafat. Filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia.

Pada dasarnya filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofi untuk memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah.Secara subtantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif.Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.

Sedangkan kajian yang dibahas dalam filsafat ilmu adalah meliputi hakekat (esensi) pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti; ontologi ilmu, epistimologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dari ketiga landasan tersebut, bila dikaitkan dengan Islamisasi ilmu pengetahuan maka letak filsafat ilmu itu terletak pada ontologi dan epistimologinya. Ontologi disini titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan, jadi landasan ontologi ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas. Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris.Manakala realitas yang dimaksud adalah spirit atau roh, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humanoria.

Sedangkan epistimologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dari penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwa kedudukan filsafat ilmu dalam ilmu pengetahuan terletak pada ontologi dan epistemologinya ilmu pengetahuan tersebut.. Ontologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan, jadi landasan ontologi ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas. Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris.Manakala realitas yang dimaksud adalah spirit atau roh, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humanoria. Dan epistimologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.

Peran filsafat sangat penting artinya bagi perkembangan dan penyempurnaan ilmu Pengetahuan. Meletakkan kerangka dasar orientasi dan visi penyelidikan ilmiah, dan menyediakan landasan-landasan ontologisme, epistimologis, dan aksiologis ilmu pada umumnya. Filsafat ilmu melakukan kritik terhadap asumsi dan postulat ilmiah serta analisis-kritis tentang istilah-istilah teknis yang berlaku dalam dunia keilmuan. Filsafat ilmu juga menjadi pengkritik yang sangat konstruktif terhadap system kerja dan susunan ilmu.

Pada dasarnya filsafat bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu displin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoperasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.

Pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk, 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disip;in ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup Pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Gie, 1999) menyebutkan filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).

Bisa disimpulkan bahwa ilmu Pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara lain:
  1. Setiap ilmu Pengetahuan itu mempunyai objek dan problem.
  2. Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu Pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu Pengetahuan itu.
  3. Di samping itu filsafat juga membrikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu Pengetahuan.
  4. Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu Pengetahuan tidak mungkin tiap ilmu itu meninggalkan dirinya sebagai ilmu Pengetahuan dengan meninggalkan syarat yang telah ditentukan oleh filsafat.
  5. Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu Pengetahuan.
 >>>Baca Bagian III: Ciri-ciri Filsafat
___________________________________________________

Referensi:

A.Wiramihardi,Sutardjo. 2006. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama

Modul Mata Kuliah Azaz-azaz Filsafat karya Drs. Sudaryanto, M.Hum.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini