Home » , , , » Thomas Aquinas: Teolog yang Bermain Filsafat

Thomas Aquinas: Teolog yang Bermain Filsafat

Sumber Gambar: Tena Virden
Oleh: Galih Rio Pratama

Penggunaan filsafat dengan pemikiran kritis yang sangat menekankan rasio manusia itu sungguh tidak mendapatkan tempat dalam abad pertengahan. Sebab bagi bapa-bapa Gereja dunia iman – teologi tidak bisa dimasuki oleh akal budi manusia apalagi dengan penggunaan intelek rasio manusia dalam berfilsafat. Sehingga dunia filsafat tidak mendapatkan tempat.

Tetapi bagi Thomas Aquinas rasio atau akal budi dapat membantu manusia untuk menjelaskan ajaran teologi atau iman kepada umat agar umat dapat mengerti tentang wahyu Tuhan itu sendiri. Dan disinilah penggunaan akal budi itu penting dan menjadi bagian dari dunia teologi/iman. Dan dunia teologi/iman dapat menghantar manusia kepada pengenalan akan sumber kebenaran dan pengetahuan yaitu Allah, melalui pengetahuan yang diperoleh melalui proses kerja akal atau campur tangan manusia dalam menerima tawaran keselamatan yang dari wahyu itu sendiri.

Bagaimana Thomas Aquinas dapat memberikan ruang gerak bagi akal dan iman itu sendiri, dua jalur iman dan reasons ini dapat kita temukan pada penjelasannya lewat teori pengetahuannya.

Selayang Pandang Thomas Aquinas

Thomas Aquinas adalah filsuf dan teolog Abad Pertengahan Eropa terbesar. Abad Pertengahan di Eropa adalah zaman keemasan bagi kristianitas. Alam pikir dalam masa ini juga kerap mendapat reaksi keras dari masa-masa sesudahnya, yaitu abad-abad modern. Salah satu usaha yang menjadi minat besar para filsuf abad ini adalah menyelaraskan iman dan rasio.

Thomas Aquinas berhasil mempersatukan ajaran-ajaran Augustinus yang sampai saat itu menentukan pemikiran di Eropa, dengan filsafat Aristoteles, dan dengan demikian memberikan impuls-impuls baru bagi kehidupan intelektual di Barat. Sejak Thomas Aquinas, filsafat mulai berkembang sebagai ilmu tersendiri.

Thomas dilahirkan di Rocca Sicca di Italia pada 1225. Di masa sekolahnya, tubuhnya yang berat dan lamban menyebabkan dia mendapat julukan “lembu bebal”. Di tahun-tahun kemudian tulisan-tulisannya sangat banyak, sangat luas dalam jangkauan maupun tingkat kepentingannya, sehingga ia memperoleh sebutan Doktor Malaikat (Angelic Doctor).

Pengaruhnya telah menjadi sangat luas sehingga pada waktu-waktu kemudian ia disebut sebagai Doktor Umum (Common Doctor) dari Gereja Katolik. Menjelang usia 20 tahun ia bergabung dengan tarekat Santo Dominikus dan menjadi murid Albertus Magnus di Paris dan Köln. Setelah studinya selesai ia mengajar teologi di Universitas Paris dan Köln dan di berbagai tempat lain di Italia.

Ia meninggal dalam usia 49 tahun pada 1274 di biara Fossanuova dalam perjalanannya ke Muktamar Gereja di Lyon. Thomas Aquinas menjadikan Aristoteles dasar pemikirannya tetapi dengan tidak menyingkirkan gagasan-gagasan dasar Augustinus. Ia memperlihatkan bahwa atas dasar kerangka pikiran Aristoteles, teologi Augustinus dapat diberi pendasaran yang lebih mantap. Pengaruh Thomas amat besar.

Berkat dia, Aristoteles menjadi “sang filsuf” (the philosopher) di Barat sampai abad ke-17. Pendekatan Aristoteles yang bertolak dari realita di dunia memungkinkan perkembangan ilmu-ilmu alam yang selama seribu tahun seakan-akan dilupakan di Barat dan dengan demikian menempatkan Eropa Barat pada jalur kerohanian yang akan menghasilkan budaya modernitas.

Dua karya utama Thomas adalah berupa Summae, artinya ikhtisar teologi dan filsafat yang sangat luas. Summae contra Gentilis disusun dan dimaksudkan sebagai sebuah buku pelajaran (textbook) bagi para misionaris. Summae Theologiae (yang edisi kritis terkahirnya sampai terdiri dari 60 jilid) telah digambarkan sebagai “prestasi tertinggi dari sistem teologis Abad Pertengahan dan dasar yang diterima untuk teologi Katolik Roma modern”.

Memang, karya-karya Thomas termasuk sebagai karangan-karangan terpenting dari seluruh kesusasteraan kristiani. Dalam karya-karyanya yang kebanyakan bersifat teologis, terdapat suatu sintesis filsafat yang mencolok, sintesis yang belum pernah ada. Meskipun Thomas mempunyai maksud utama untuk menciptakan suatu teologi, ia tetap mengakui otonomi filsafat yang mendasarkan diri kepada kemampuan akal budi yang dimiliki manusia demi kodratnya. Menurutnya, akal memampukan manusia untuk mengenali kebenaran dalam kawasannya yang alamiah.

Sedangkan teologi memerlukan wahyu adikodrati. Berkat wahyu adikodrati, teologi dapat mencapai kebenaran yang bersifat misteri dalam arti ketat (misalnya, hal trinitas, inkarnasi, sakramen). Oleh karena itu teologi memerlukan iman. Iman adalah suatu sikap penerimaan atas dasar wibawa Tuhan. Dengan beriman manusia dapat mencapai pengetahuan yang mengatasi akal, pengetahuan yang tidak dapat ditembus oleh akal semata. Meskipun misteri ini mengatasi akal, ia tidak bertentangan dengan akal. Ia tidak anti akal. Dan meskipun akal tidak dapat menemukan misteri, akal dapat meratakan jalan yang menuju ke misteri (prae-ambulum fidei).

Dengan perkataan lain, Thomas memperlihatkan adanya dua macam pengetahuan yang tidak saling bertentangan melainkan berdiri sendiri secara berdampingan. Pengetahuan itu adalah pengetahuan alamiah dan pengetahuan iman. Pengetahuan alamiah berpangkal pada terang akal budi dan yang sasarannya adalah hal-hal yang bersifat insani dan umum.

Pengetahuan iman berpangkal pada wahyu adikodrati dan yang sasarannya adalah hal-hal yang diwahyukan Tuhan secara khusus, yang disampaikan kepada kita melalui kitab suci di dalam tradisi Gereja. Meskipun begitu perlu dicatat juga bahwa ada hal-hal yang termasuk baik bidang filsafat maupun teologi (misalnya, pengetahuan tentang Tuhan dan jiwa). Karena itu, filsafat dan teologi dapat diumpamakan dengan dua buah lingkaran yang - sekalipun yang satu berada di luar yang lain - bagian tepinya ada yang bertindihan.

Dua pokok pengajaran yang berhubungan dengan diskusi-diskusi sekarang ini adalah: Pertama, bukti-bukti tentang keberadaan Tuhan (supaya tahu bahwa Tuhan itu ada), dan Kedua, ajarannya mengenai analogi (supaya tahu beberapa sifat Tuhan).

Quinque Viae, The Five Ways

Thomas memang berpendapat bahwa rasio insani dapat mengenal adanya Tuhan, meskipun secara tidak langsung melainkan hanya melalui ciptaan-ciptaan. Oleh karena itu ia menolak pembuktian yang diberikan oleh Anselm dengan argumentasi “ontologis”-nya yang bersifat apriori. Istilah ontologi merupakan cabang filsafat mengenai keberadaan. Tetapi istilah argumentasi ontologis biasanya digunakan untuk argumentasi akan perlunya keberadaan Tuhan, yang tidak bergantung atas fakta-fakta yang nampak atau kelihatan melainkan atas implikasi dari ide-ide tertentu.

Pernyataan Anselm mengenai hal itu muncul dalam Proslogion-nya. Di sini Anselm berusaha menyusun suatu pemaparan logis tentang eksistensi (keberadaan) Tuhan. Ia menggambarkan Tuhan sebagai Yang terbesar yang dapat dipikirkan (tidak ada yang lebih besar dari-Nya yang dapat dipikirkan). Argumentasinya biasa dipikirkan sebagai suatu usaha menarik kesimpulan tentang keberadaan Tuhan dari gagasan mengenai keberadaan yang paling sempurna.

Tidak dapat disangkal bahwa orang-orang memiliki konsep mengenai satu keberadaan yang sempurna seperti itu di dalam pikiran mereka. Maka bagaimana mungkin konsep semacam demikian bisa muncul kalau tidak ada keberadaan yang seperti itu? Kalau itu hanya suatu konsep di dalam pikiran dan tidak benar-benar ada, maka itu tidak mungkin keberadaan yang paling sempurna. Sebab mengurangi kualitas eksistensi akan berarti bahwa pribadi itu tidak sempurna. Menurut tafsiran umum, Anselm menerima sebagian dari teologi natural / kodrati / metafisik (natural theology-cabang filsafat; artinya bukan teologi / teologi wahyu / revealed theology - bukan cabang filsafat).

Ia berusaha membuktikan keberadaan Tuhan tanpa memperhatikan iman serta pengajaran kristen. Ia mencoba menemukan beberapa konsep umum di mana baik orang-orang percaya maupun tidak percaya dapat diteguhkan dengan harapan: “memenangkan” mereka yang tidak percaya, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa percaya terhadap Tuhan bukanlah sesuatu khayalan belaka. Sikapnya ialah: Buktikan dulu kemudian Anda boleh percaya.

Ini mengambil semacam proses dua langkah dalam apologetika. Langkah pertama adalah memakai filsafat untuk meletakkan dasar-dasar; langkah kedua adalah memperkenalkan iman Kristen di atas kekuatan argumentasi-argumentasi filsafat. Kesulitannya memang, jika langkah pertama gagal, langkah kedua akan tinggal terkatung-katung di udara, dan kita dibiarkan berpikir-pikir apakah ada alasan-alasan yang tepat untuk menerimanya.

Thomas sendiri memberikan lima bukti tentang adanya Tuhan. Titik tolaknya adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak terbukti atau nyata dengan sendirinya kepada manusia. Itu menuntut bukti.

1. Bukti dari gerak yang ada di dunia jasmani ini

Sebagaimana suatu sebab dapat diketahui paling tidak sebagian melalui akibatnya, demikian pula Kausa Pertama alam semesta dapat diketahui melalui tatanan ciptaan. Setiap gerak di alam selalu memiliki sebab. Segala sesuatu yang bergerak pasti harus digerakkan oleh sesuatu yang lain. Hal ini juga berlaku untuk hal-hal yang menggerakkan dirinya sendiri, karena “hal yang menggerakkan dirinya sendiri” itu pun memiliki sebabnya. Artinya, ia digerakkan oleh sebabnya itu. Gerak dan menggerakkan itu tidak dapat berjalan tanpa batas sampai tak terhingga. Harus ada penggerak pertama. Penyebab atau penggerak pertama itu adalah Tuhan.

2. Bukti dari tertib sebab-sebab yang berdayaguna

Di dalam dunia yang diamati ini, tidak pernah ada sesuatu yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena seandainya hal itu ada, hal yang menghasilkan dirinya sendiri itu tentu harus mendahului dirinya sendiri. Hal ini tidak mungkin. Oleh karena itu, semua sebab yang berdayaguna menghasilkan sesuatu yang lain. Mengingat bahwa sebab yang berdayaguna itu juga tidak dapat ditarik hingga tiada batasnya, kesimpulannya harus ada sebab berdayaguna yang pertama. Sebab berdayaguna yang pertama itu adalah Tuhan.

3. Bukti dari keniscayaan segala sesuatu di dunia ini

Segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat saja tidak ada. Jadi, pada saat ini juga bisa jadi tidak ada sesuatu. Padahal, apa yang tidak ada hanya dapat mulai berada jika diadakan oleh sesuatu yang telah ada. Jika segala sesuatu yang di dunia ini hanya mewujudkan kemungkinan saja, “ada” yang terakhir harus mewujudkan suatu keharusan (keniscayaan). Hal yang mewujudkan sesuatu keniscayaan ini ini “ada-nya” dapat disebabkan oleh sesuatu yang lain atau memang berada sendiri. Seandainya ia disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tidak dapat ditarik hingga tiada batasnya. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Inilah Tuhan.

4. Bukti dari derajat-derajat dalam perwujudan nilai

Di dunia ini ada hal-hal yang lebih atau kurang baik, lebih atau kurang adil, benar, dst. Untuk menentukan derajat kebaikan, keadilan, dst tersebut kita mengukurnya dengan memakai yang terbaik, yang paling adil, dst sebagai ukurannya. Jadi, adanya yang terbaik diharuskan oleh karena adanya yang kurang baik, yang baik dan yang lebih baik. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang menjadi sebab dari segala yang baik, adil, benar, mulia, dst. Yang menyebabkan semua itu adalah Tuhan.

5. Bukti dari finalitas (keterarahan pada akhir dan tujuannya)

Di dunia ini segala sesuatu yang tidak berakal berbuat menuju kepada akhirnya. Ini tampak dari cara hal-hal tak berakal itu berbuat, yaitu selalu dengan cara yang sama untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Jadi memang tidak secara kebetulanlah bahwa semua itu mencapai akhirnya. Mereka memang dibuat begitu. Yang tak berakal itu tidak mungkin bergerak menuju akhirnya jika tidak diarahkan oleh suatu tokoh yang berakal, berpengetahuan. Inilah Tuhan.

Kelima bukti tersebut dapat menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, bahwa ada suatu Tokoh yang menyebabkan segala sesuatu dan yang berada karena diri-Nya sendiri. Tetapi di samping itu, manusia dapat juga mengetahui sedikit tentang sifat-sifat Tuhan. Untuk itu Thomas mengembangkan jalan Triganda (Triplex Via).

Ajaran Tentang Analogi

Thomas Aquinas memaparkan bahwa pada waktu kita membuat pernyataan-pernyataan tentang Tuhan, berarti kita sedang menggunakan bahasa secara agak khusus. Kata-kata itu tidak memiliki arti univocal (kesatuan suara) maupun equivocal (kesamaan suara). Dalam hal yang pertama, kata-kata kita akan berarti secara teppat sama kapan pun kita menggunakannya. Namun, pada waktu orang-orang Kristen berbicara mengenai Kristus sebagai Anak Domba Tuhan, mereka tidak berpikir tentang seekor binatang berkaki empat dan bebulu halus. Pada saat mereka menyebut Tuhan sebagai Bapa mereka, mereka tidak bermaksud berkata bahwa Dia adalah seorang manusia, berada di dalam waktu dan ruang, yang telah melahirkan anak-anak ke dalam dunia ini melalui proses kelahiran alamiah. Sebaliknya, orang-orang Kristen percaya bahwa mereka tidak sedang menggunakan bahasa secara equivocal, sehingga kata-kata mereka bermakna sesuatu pada tingkat atau level manusia, namun semua kata itu bermakna sesuatu yang berbeda sama sekali pada level agama.

Jika pernyataan-pernyataan agama termasuk kategori yang pertama, seorang akan menurunkan Tuhan ke tingkat objek atau ciptaan, yang berada di dalam waktu dan ruang. Kalau semua itu termasuk kategori yang kedua, bahasa agama akan tidak bermakna. Sebab apapun yang kita katakan, maksud kita akan agak berbeda dari kata-kata itu. Aquinas menjelaskan bahwa pernyataan sah tentang Tuhan adalah bersifat analogis. Dengan perkataan lain, waktu seorang Kristen menyebut Tuhan sebagai Bapa, Dia tidak sepenuhnya menyerupai dan juga tidak sepenuhnya berbeda dengan apa yang terbaik dalam bapak-bapak manusia, tapi ada hal yang benar-benar mirip.

Ketiga jalan manusia untuk dapat mengenal Tuhan didasarkan pada hal tersebut, bahwa ada sekaligus kesamaan dan perbedaan dalam cara berada antara Tuhan dan makhluk-Nya. Analogi ini bukan mengenai perkara-perkara yang sampingan, melainkan mengenai perkara paling hakiki yaitu mengenai ada-nya Tuhan dan ada-nya makhluk (analogia entis). Di satu pihak analogi ini menunjuk kepada adanya jarak tak terhingga antara Tuhan dan makhluk, di lain pihak analogi ini juga menunjukkan bahwa para makhluk itu sekadar menampakkan kesamaannya dengan Tuhan.

Berdasar analogi entis ini Thomas melukiskan ketiga jalan yang harus ditempuh bila mau memperoleh pengetahuan tentang Tuhan:

1. Via Positiva atau Via Affirmativa

Mengingat “analogia entis”, yang mana berarti bahwa ada kesamaan antara Tuhan dan makhluk (Tuhan memberikan kebaikan-Nya juga kepada makhluk), dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang bersifat baik pada makhluk dapat juga dikenakan kepada Tuhan.

2. Via Negativa

Sebaliknya juga harus dikatakan, mengingat bahwa “analogia entis” pun mengimplikasikan perbedaan antara Tuhan dan makhluk, bahwa segala yang ada pada makhluk tidak berada pada Tuhan dengan cara yang sama.

3. Via Eminentiae

Apa yang baik pada makhluk tentu berada pada Tuhan dengan cara yang jauh melebihi keadaan para makhluk, bahkan tak terhingga jauhnya kelebihan tersebut.

Ajaran Mengenai Penciptaan
Ajaran ini berkisar pada konsep partisipasi atau hal mengambil bagian. Gagasan ini berasal dari Plato serta Augustinus. Pendirian Thomas adalah: segala sesuatu yang diciptakan mengambil bagian dalam adanya Tuhan. Partisipasi ini buka secara kuantitatif, seolah-olah tiap makhluk mewakili sebagian kecil dari tabiat ilahi. Melainkan partisipasi ini secara dependensi, semua ciptaan menurut adanya adalah tergantung pada Tuhan; dan juga secara analogis terdapat pula kesamaan maupun perbedaan dalam cara Tuhan berada dan cara makhluk berada.

Thomas juga mempertahankan bahwa Tuhan bebad dalam menciptakan dunia. Untuk melawan teori emanasi dari filsuf-filsuf Neo-Platonis yang menganggap dunia mengalir dari Tuhan bagaikan air yang mengalir dari sumbernya, Thomas memgemukakan ajaran tentang creatio ex nihilo, penciptaan “dari yang tidak ada”. Dengan ajaran ini Thomas mau menekankan dua hal. Pertama, dunia tidak diadakan dari semacam bahan dasar yang sudah tersedia, entah bahan itu Tuhan sendiri (melawan panteisme) entah bahan itu merupakan sebuah prinsip kedua di samping Tuhan (melawan dualisme). Ciptaan-ciptaan menurut adanya adalah tergantung pada Tuhan, dan bukan menurut salah satu aspeknya saja. Kedua, penciptaan tidak terbatas pada satu saat saja seakan-akan sesudah saat itu dunia tidak tergantung lagi pada Tuhan Pencipta. Sebaliknya, penciptaan adalah perbuatan Tuhan yang terus-menerus (creation continua atau conservatio). Dengan perbuatan penciptaan itu Tuhan terus-menerus menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara.

Segala sesuatu diciptakan menurut bentuknya atau idea-nya yang berada di dalam roh Tuhan. Idea-idea tersebut bukan berada di samping Tuhan, melainkan identik dengan Dia. Idea tersebut adalah satu dengan hakikat-Nya. Namun ini tidak berarti bahwa dunia suda ada sejak kekal. Dunia ada awalnya. Secara filosofis memang tidak mustahil bahwa dunia diciptakan dari kekal. Hanya saja, filsafat tidak bisa membuktikan bahwa dunia mempunyai permulaan dalam waktu. Atas kesaksian kitab sucilah kita tahu bahwadunia memiliki permulaannya.

Filsafat Manusia

Thomas sangat menekankan bahwa manusia adalah suatu kesatuan yang terdiri dari jiwa dan badan. Plato menganggap jiwa sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sebuah substansi lengkap yang ada di dalam penjara tubuh jasmani manusia. Melawan anggapan Plato ini, Thomas mengajarkan bahwa pertautan antara jiwa dan tubuh manusia harus dilihat antara bentuk (jiwa) dan materi (tubuh). atau, hubungan jiwa dan badan tersebut juga bisa dilihat dalam hubungan antara aktus (perealisasian) dan potensi (bakat).

Jadi, manusia itu satu substansi saja. Satu substansi sedemikian rupa sehingga jiwalah yang menjadi bentuk badan (anima foma corporis). Dengan perkataan lain, jiwalah yang membuat tubuh menjadi realitas. Jiwa menjalankan aktivitas-aktivitas yang melebihi sifat badani belaka. Aktivitas itu adalah berpikir dan berkehendak. Keduanya itu merupakan aktivitas rohani. Ini sesuai dengan prinsip agere sequitur esse yang artinya cara bertindak itu sesuai dengan cara beradanya. Karena jiwa bersifat rohani, maka setelah manusia mati, jiwanya hidup terus.

Dalam kesimpulan ini Thomas mempertahankan adanya kekekalan jiwa (melawan pendapat Aristoteles). Thomas mengajarkan bahwa setelah kematian jiwa akan hidup terus dalam wujudnya sebagai bentuk. Ini berarti bahwa jiwa tetap mempunyai keterarahan kepada badan (materi). Dan, hal ini rupanya cocok dengan ajaran kristiani mengenoi adanya kebangkitan badan. Ajaran ini jelas akan sulit dibenarkan oleh seorang filsuf yang mencari kebenaran atas dasar rasio belaka.

Menurut Thomas, setiap perbuatan - termasuk juga kegiatan berpikir dan berkehendak - adalah perbuatan dari segenap pribadi manusia. Setiap perbuatan manusia adalah perbuatan “aku”, yaitu jiwa berubuh atau tubuh berjiwa. Kesatuan manusia ini mengandaikan bahwa tubuh manusia hanya dijiwai oleh satu bentuk saja, yaitu bentuk rohani. Bentuk rohani inilah yang sekaligus membentuk hidup lahiriah dan batiniah manusia.

Jiwa yang satu ini memiliki lima daya, yaitu: daya vegetatif, merupakan daya yang bergubungan dengan pergantian zat dan pembiakan; daya sensitif, merupakan daya yang behubungan dengan keinginan; daya yang menggerakkan; daya untuk memikir; dan daya untuk mengenal. Untuk dapat memikir dan mengenal, dalam diri manusia tersedia akal dan kehendak. Menurut Thomas, akal adalah daya tertinggi dan termulia dari manusia. Akal lebih penting daripada kehendak karena yang benar (kebenaran) itu lebih tinggi daripada yang baik (kebaikan). Oleh karena itu juga, mengenal adalah perbuatan yang lebih sempurna dari pada menghendaki.

Pandangan Thomas mengenai pengenalan ini berhubungan erat sekali dengan pandangannya tentang pertautan antara jiwa dan tubuh. Pada dirinya sendiri jiwa bersifat pasif, baik dalam pengenalan iderawi maupun dalam pengenalan akali. Pelaku atau subjek dalam pengenalan adalah kesatuan jiwa dan tubuh yang berdiri sendiri.

Proses pengetahuan berlangsung dalam tingkat sebagai berikut: Yang pertama adalah pengetahuan pada tingkat inderawi. Pengetahuan pada tingkat ini bertitik pangkal pada pengalaman inderawi, lewat benda-benda yang ada di luar. Penginderaan dengan daya-daya indera ini akan menghasilkan gambaran-gambaran yang diberikan kepada akal. Yang kedua adalah pengetahuan pada tingkat akali.

Menurut Thomas, akal pada dirinya sendiri hanyalah seperti sehelai kertas yang belum ditulisi. Akal tidak mempunyai idea-idea sebagai bawaannya. Sasaran pengenalan akal diterima dari luar melalui gambaran-gambaran iderawi. Hakikat itu kemudian diubah menjadi suatu bentuk yang dapat dikenal. Pengetahuan terjadi jika akal berhasil memungut bentuk itu dan berhasil mengungkapkannya. Jadi, pengetahuan akali ini tergantung kepada benda-benda yang diamati oleh indera.

Ajaran Mengenai Etika

Kita harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Namun, darimana kita mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat. Menurut Thomas, kita mengetahuinya dari Hukum Kodrat, yang dapat kita ketahui melalui akal budi kita. Dari Hukum Kodrat kita mengetahui perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Hukum Kodrat mengacu kepada kodrat. Kodrat adalah realitas, atau struktur realitas, kahikat realitas yang ada. Apa pun yang ada memiliki kodratnya; kodratnya itu memuat semua ciri yang khas bagi masing-masing pengada. Dalam bahasa kita, segenap makhluk ada struktur-strukturnyal kegiatan dan perkembangannya mengikuti struktur-struktur itu. Pengembangan kodrat merupakan tujuan masing-masing makhluk.

Hukum Kodrat sebenarnya dapat dipahami dengan mudah. Gagasan dasarnya berbunyi: Hiduplah sesuai dengan kodratmu! Nah, Hukum Kodrat itu muncul dalam dua bentuk. Yang pertama, hukum alam. Bagi semua makluk bukan manusia di dunia ini hujkum kodrat itu sama dengan hukum alam. Artinya, mereka itu lahir, tumbuh, berkembang, dan mati menurut hukum alam masing-masing. Hukum alam itu memuat hukum alam fisika dan kimia, hukum perkembangan organik dan vegetatif, serta struktur-struktur kesadaran seperti insting pada binatang.

Pada manusia pun lapisan-lapisan fisiko-kimia, vegetatif, dan instingtual berkembang menurut hukum alam. Makhluk dengan sendirinya mengikuti hukum alam, dan ia tidak dapat menyeleweng darinya. Namun, manusia adalah makhluk rohani dan karena itu ia bebas. Artinya, ia dapat menentukan sendiri apa yang dilakukan. Dalam bertindak manusia tidak ditentukan oleh Hukum Kodrat. Karena itu bagi manusia kodrat merupakan hukum dalam arti sesungguhnya, yaitu sebuah norma yang diharuskan yang dapat diketahui, dan di situ manusia harus menentukan sendiri apakah mau taat atau tidak padanya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menyeleweng dari kodratnya, yang dapat bertindak tidak sesuai dengan kodratnya, melawan kodratnya. Bagi manusia Hukum Kodrat sama dengan hukum moral. Hukum Kodrat adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai prinsip-prinsip dan norma-norma moral. Jadi, bagi manusia Hukum Kodrat betul-betul berupa hukum dalam arti normatif.

Menurut Thomas, manusia hidup dengan baik apabila ia hidup sesuai dengan kodratnya, buruk apabila tidak sesuai. Mengapa demikian? Karena manusia hanya dapat mengembangkan diri, hanya dapat mencapai tujuannya apabila ia hidup seusai dengan kodratnya. Orang yang hidup berlawanan dengan kodratnya tidak akan mencapai tujuannya, tidak akan mengembangkan dan mengaktualisasikan seluruh potensinya.

Karena itu, moralitas terdiri dalam tindakan yang mengembangkan dan menyempurnakan kodratnya. Apa artinya hidup seusai dengan kodrat? Gagasan dasarnya, yang diambil dari Aristoteles, adalah bahwa manusia memiliki kecenderungan vegetatif, sesnsitif (perasaan, emosi, kesadaran, instingtual), dan rohani. Yang khas bagi manusia adalah kerohaniannya.

Manusia bertindak sesuai dengan kodratnya, apabila ia menyempurnakan diri sesuai dengan kekhasannya, jadi dengan kerohaniannya. Ia harus mengembangkan diri sebagai makhluk rohani, sedangkan penyempurnaan kekuatan-kekuatan emosional dan vegetatif harus dijalankan sedemikian rupa sehingga menunjang penyempurnaannya sebagai makhluk rohani. Hierarki dalam hakikat manusia sendiri perlu dijaga.

Setiap tindakan manusia akan sesuai atau tidak sesuai dengan akal budi, maka secara moral mesti bersifat baik atau buruk, tidak ada yang netral. Moral diturunkan dari cara beradanya manusia diciptakan oleh Tuhan, yakni sebagai makhluk berakal budi yang bersifat sosial. Tujuan terakhir hidup manusia adalah memandang Tuhan, di mana Tuhan sebagai Hukum Abadi yang merupakan sumber Hukum Kodrat itu sendiri.

Hukum Kodrat mencerminkan dan mengungkapkan Hukum Abadi yaitu kebijaksanaan Ilahi. Dengan menaati Hukum Kodrat, kita sekaligus menaati Hukum Abadi, jadi kita taat kepada kebijaksanaan Ilahi. Itulah sebabnya hidup sesuai dengan kodrat bukan sekadar perbuatan yang bijaksana, melainkan suatu keharusan. Oleh karena itu hidup perseorangan harus diarahkan ke situ. Harus, karena Tuhan menghendakinya. Seluruh masyarakat harus diatur sesuai dengan tuntutan tabiat manusia.

Dengan itu masyarakat akan membantu orang perorangan untuk menaklukkan nafsu-nafsunya kepada akal dan kehendak. Menurut Thomas, nafsu pada dirinya sendiri baik. Tetapi nafsu menjadi jahat kalau melanggar kawasan masing-masing dan tidak mendukung akal dan kehendak (terkena distorsi). Cita-cita kesusilaan bukanlah untuk mematikan nafsu, melainkan untuk mengaturnya sedmikian rupa sehingga nafsu tersebut dapat membantu manusia dalam usahanya merealisasikan tugas terakhir hidupnya. Bagaimanapun juga kejahatan tidak berada sebagai kekuatan yang berdiri sendiri. Kejahatan tidak diciptakan oleh Tuhan. Kejahatan muncul dan ada di mana tiada kebaikan.

Dalam etikanya, Thomas melampaui metode filosofis murni dan berbicara sebagai orang beriman, sebagai orang Kristen. Dalam arti ini etika Thomas memiliki unsur teologis. Namun, tentu tidak dalam arti eksklusif. Karena unsur teologis itu tidak menghilangkan cirinya yang khas filosofis, bahwa etika itu memungkinkan orang menemukan garis hidup yang masuk akal, tanpa mengandaikan kepercayaan atau keyakinan agama tertentu.

Etika Thomas tidak sekadar merupakan etika peraturan, yang mendasarkan kewajiban moral manusia pada kehendak Tuhan yang mereduksikan sikap moral manusia pada pertanyaan: boleh atau tidak boleh? Pertanyaan itu tidak memberi ruang kepada salah satu paham moral yang paling penting dan paling dibutuhkan pada jaman pascatradisional, yaitu tanggung jawab. Thomas mengatasi kelemahan itu karena Hukum Abadi yang diperintahkan oleh Tuhan adalah pengembangan dan penyempurnaan manusia sendiri. Jadi, ada Rasionalitas Internal : hidup menurut Hukum Kodrat bukan hanya memenuhi perintah Tuhan, melainkan memang sesuai dengan dinamika internal manusia sendiri.

Dengan demikian, manusia menemukan diri, menjadikan diri nyata. Ketakwaan dan kebijaksanaan menyatu: takwa karena taat kepada Tuhan (yang menjadikan manusia bahagia, karena ia menemukan kepenuhan dan kesempurnaannya), bijaksana karena memang demi keutuhan manusia sendiri (yang menjadikan manusia semakin pandai dalam cara mengurus hidupnya, sehingga maju, bermakna, terasa bermutu - berseni, bukan tenggelam dalam pola etika kewajiban semata seperti dicanangkan Kant).

___________________________________________________

Referensi:

Poedjawijatna.1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. PT. Pembangunan: Jakarta

Hadiwijjono, Harun. 1980 .Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Bertens, Kees. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Welem, F.D.. 2003. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. PT. BPK. Gunung Mulia: Jakarta

Watloly, Aholiab. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Magee, Bryan. 2008. The Story of Philosophy. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini