Home » , , » #TommySoehartoforPresident2019

#TommySoehartoforPresident2019

Sumber Gambar: Kaskus
Oleh: Gusti Aditya

Ada pepatah yang mengatakan jika buah itu jika jatuh tidak jauh dari pohonnya. Yang berarti jika sifat-sifat ayah itu melekat secara bawaan kepada anaknya. Jika ayahnya memiliki hobi mengumpulkan gendhakan, maka anaknya kemungkinan besar juga. Jika ayahnya bersifat baik jika ada maunya, maka anaknya pun juga tak jauh berbeda.

Untuk tulisan kali ini, ibaratkan saja jika pohonnya terletak di pinggir jurang. Ketika buahnya jatuh, maka buah itu tidak menggelinding ke tanah, melainkan akan melesat masuk ke dalam jurang yang sekian dalamnya. Sehingga diperoleh pepatah baru; buah jatuh akan jauh dari pohonnya. Masuk jurang, nyungsep dan embuh piye selanjutnya!

Presiden kedua dan anaknya, Den Bagus Tommy Soeharto, layak kita masukan ke pepatah yang menjadi antithesis pepatah pertama. Mengapa layak? Ya coba lihat saja, lha wong generasi kritis mahasiswa bin Marxist dengan tidak sopannya mengatakan jika Soeharto hanya membebani anak cucunya, sedangkan untuk Tommy, adem-adem saja lha wong karena dipenjara dan dia kabur mengasingkan diri.

Penulis pun mengadakan suatu diskusi dengan kawan-kawan kampus yang notabene enggan untuk menyebut Soeharto sebagai pahlawan. Dalam diskusi tersebut memunculkan berbagai pokok pikiran yang menurut saya sangat badangak hasilnya. Bagaimana tidak, diskusi yang awalanya berjalan alot, eyel-eyelan dan di akhir semua sepakat jika #TommySoehartoforPresident2019.

Gampangnya begini, orde baru di bawah komando H.M. Soeharto ber-ending sangat nggateli. Presiden yang disebut dengan bapak pembangunan ini dipaksa untuk berhenti secara hina semenjak ia menjabat selama 32 tahun dan terguling di tanggal 21 Mei 1998. Lebih nggatelinya lagi, bukannya meninggalkan berupa bangunan negara yang megah saja, tetapi ia meninggalakan kenang-kenangan berupa kehidupan sosial yang rapuh, krisis ekonomi, serta kroposnya sisi pertahanan dan keamanan negara yang ia jadikan kado natal bagi anak dan cucunya di bangsa ini.

Jadi jika orangtua anda bilang ‘enak jamanku to?’ segera ditempeleng wae. Orangtua anda memang enak (bagi yang enak), tetapi anda lah yang ditugaskan untuk membenahi apa yang Soeharto tinggalkan. Bahkan 32 tahun selama ia menjabat, negara ini menjadi lahan yang subur bagi investor asing. Bukan hanya itu, negara ini juga menjadi lahan yang gembur bagi para tikus negara yang berkedok memakai tuxedo yang rapih.

Kembali ke sang buah yang jatuh anak,

Siapa yang tak mengenal blio? Namanya Bento, rumah real estate. Mobilnya? Jangan ditanya, pasti banyak. Begitu pula dengan harta, pastilah melimpah. Dulu, nih, dulu dia dipanggil boss eksekutip. Dialah tokoh papan atas di atas eternit segalanya. Asekk.

Presiden memang harus Tommy coba jajaki. Pengalamannya merencanakan pembunuhan strategi politik tentu tak perlu diragukan. Sang suksesor adalah presiden yang menjabat selama 32 tahun, lho. Bayangkan saja mempertahankan jabatan selama itu, pasti strateginya sangatlah matang. Hmm, mungkin lebih ke bosok ya. Sebab, jika terlalu lama itu bukan matang, melainkan busuk. Jadi, strategi bukanlah halangan, toh banyak pihak yang akan mendompleng dia. Anda ingin tahu pihak mana saja? Baca tempo makannya, jangan baca tulisan ini.

Alurnya sama, Sukarno dijegal oleh Soeharto dengan cara yang aneh dalam catatan sejarah. Kini pun sama, Jokowi dibentengi oleh PDIP yang notabene Megawati Soekarnoputri yang memegang kendali. Megawati adalah anak dari Sukarno dari Rahim Ibu Kita Fatmawati. Ambisi yang sama tentu diusung Tommy untuk menggulingkan dominasi anak cucu Sukarno. Apakah kebetulan? Wow wow wow.

Tommy tidak sepicik itu, saya kira. Tommy ingin membayar ‘hutang’ sang ayah yang telah menyusahkan generasi yang ia tinggali. Bukan sebuah rahasia jika harga barang pokok terasa murah pada waktu itu karena Indonesia banyak berhutang sana-sini. Utopis memang kala itu, menangis memang kala ini. Itu lah misi Tommy. Ia hendak berhutang kembali menutupi dan menambahi membenahi hal tersebut.

Tetapi ada satu hal yang bisa menjegal Tommy, sebenarnya ribuan, sih. Adalah Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden menentukan beberapa syarat mutlak untuk seseorang bisa menjadi presiden, maupun wakil presiden;
-Tidak pernah mengkhianati negara, serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya
-Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
Anda jadi ingat…hmmm… Tidak! Tidak perlu mengingat kisah persekongkolan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001 silam. Kalian masih ingat vonis hukuman 15 tahun penjara sejak Juni 2002. Kemudian mendapat keringan MA menjadi 10 tahun penjara? Sudah lah, yang sudah biarlah berlalu. Yha tho?

Toh bangsa ini memang menjadi sebuah sasana sandiwara yang begitu renyah ketimbang Opera van Java. Lawakannya segar, seperti si penghina Pancasila yang justru merasa menjadi manusia paling suci di dunia, lalu ada kedok agama yang dijadikan senjata politik, ah pokoknya banyak. Bahkan penulis jadi malu jika harus menjabarkan semua secara rinci.

Yang harus diingat, atau lebih pas, yaitu yang harus dibayangkan, saat anda membuka surat suara dan melihat foto Den Bagus Tommy  beberapa tahun kedepan, segara coblos! Jika tidak, barangkali anda dijebloskan ke dalam penjara karena diduga PKI.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment