Home » , , , , , » Tuntutan Menghormati LGBT, Apakah Penting?

Tuntutan Menghormati LGBT, Apakah Penting?

Sumber Gambar
Oleh: Bima Astungkara

Banyak artikel yang saya lepas di koran dan berbagai media sosial yang membahas mengenai LGBT. Tidak ada habisnya memang, semua nampak seru dan menurut saya topik ini perlu diangkat menuju permukaan. Tidak jarang pula beberapa surat dari pembaca yang berisikan, Mas Bima homo, ya? Mas Bima biseks, ya? memenuhi kotak surat di rumah saya dan membuat saya kemekelen.

Hari ini, terhitung tanggal 8 Maret 2017, merupakan harinya bagi umat perempuan di seluruh dunia. Sebelum saya meracau lebih jauh, saya pribadi ingin mencupkan selamat melanjutkan perjuangan wanita hebat di era sebelum eranya kalian dan saya percaya bahwa kalian, para perempuan, dapat menjalankan dengan baik mandat berupa perjuangan hebat dari era sebelum kalian. Walau tulisan ini tidak sepenuhnya membicarakan tentang perempuan, tetapi apa salahnya mengucapkan hal yang baik, kan?

Warga dunia akan memenuhi jalan-jalan untuk melakukan aksi dan biasanya berupa tuntutan. Ya, memang, tak terkecuali Indonesia. Setidaknya di Indonesia sudah membuat 8 tuntutan yang menarik dan menurut saya pribadi sangat layak untuk diperjuangkan. Kedelapan tuntutan tersebut adalah:
1.    Menuntut Indonesia kembali ke toleransi dan keberagaman
2.    Menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender
3.    Menuntut pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan
4.    Menuntut pemerintah dan masyarakat melindungi lingkungan hidup dan pekerja perempuan
5.    Menuntut pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan dan pro-kelompok marjinal lain, termasuk perempuan difabel
6.    Menuntut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan di bidang politik
7.    Menuntut pemerintah dan masyarkat menghormati dan menghapus diskriminasi terhadap kelompok LGBT
8.    Menuntut pemerintah dan masyarkat lebih memperhatikan isu global yang berdampak pada perempuan, serta membangun solidaritas dengan perempuan di seluruh dunia.


Dari kedelapan tuntutan tersebut, saya tertarik membahas tuntutan nomor tujuh, menengok obrolan para dedegemash yang ragu ikut long march di kantin legendaris kampus saya di bilangan Kelapa Dua. “Gue pengen ikut long march, tapi gue anti LGBT. Gimana dong?” tiba-tiba teman sampingnya nyeletuk, “Penting mah selfie bae lah, aplot IG.”

Dari percakapan singkat nan penuh makna dari dedegamsh itulah inspirasi menulis ini muncul. Memangnya seberapa penting sih menghormati kaum LGBT yang sudah mendapat stigma negatif di negara ini? Seberapa mendesak kah kepentingan untuk menghapus deskriminasi tersebut?

Baiklah pertama-tama kita akan membahas, apakah Gay itu sebuah penyakit? Persepsi mengenai gay adalah kelainan mental itu bermulai dari awal 1800-an oleh seksolog Richard von Krafft-Ebing. Sejak itu stigma bahwa homoseksual adalah penyakit mulai diterima masyarakat termasuk kalangan professional sekalipun. Setelah National Institute of Mental Health di Amerika mengadakan riset lebih lanjut, American Psychiatric Association akhirnya menghilangkan label “penyakit” dari homoseksualitas pada tahun 1973 dan menyatakan “homosexuality per se implies no impairment in judgment, stability, reliability, or general social or vocational capabilities”.

>>>Baca artikel mengenai gender lainnya<<<

Memang, dalam masyarakat LGBT masih dianggap sebagai penyakit. Saya sendiri tidak setuju bila orientasi seksual tertentu dipandang sebagai penyakit. Namun jika ini merupakan sebuah penyakit, bukankah muncul niat baik kita untuk menjenguk atau memberi perhatian kepada mereka? Teringat rutinitas jika ada orang yang sakit di Jogja (karena di Jakarta saya tidak menemukan ini), para ibu-ibu akan berkumpul dan melakukan penarikan sumbangan sukarela dan cuma-cuma kemudian menengoknya.

Namun, yang terjadi pada kaum LGBT adalah sebaliknya: mereka dianggap sakit, namun yang sehatlah yang mengusik mereka, menyakiti mereka, dan bahkan memberi berbagai masalah baru yang tidak perlu. Di mana kepedulian telah mati disaat sebuah “yang mereka anggap penyakit”, namun tidak adanya kepedulian untuk peduli terhadapnya.

Banyak yang bestigma bahwa LGBT muncul sebagai tanda akhir zaman. Baiklah, mari kita melihat sejarah yang ada, Nero, salah satu kaisar Roma merayakan pernikahannya dengan sesama jenis secara terbuka. Alexander The Great, memiliki hubungan homoseksual dengan temannya Hephaestion. Bahkan banyak peradaban yang memiliki toleransi tinggi terhadap LGBT katakanlah, suku-suku pedalaman di Amerika, Thailand Kuno (hingga sekarang toleransi terhadap LGBT masih bertahan), Yunani kuno, Kekaisaran Romawi, Assyria, hingga Persia.

Apakah LGBT bertentangan dengan agama yang Anda anut? Ya, toleransi terhadap kaum LGBT ini mulai hilang sejak kemunculan dan penyebaran pengaruh Agama Samawi, namun kita tak boleh menutup mata bahwa Ada lebih dari 4000 agama di dunia masing-masing dengan konsep ketuhanannya sendiri ditambah setiap agama memiliki denominasinya dimana pandangannya bisa sedikit berbeda. Belum lagi konsep ketuhanan itu sendiri bisa berbeda pada tiap-tiap individu yang memiliki agama yang sama.

Taoism, Confucianism, Paganism, Wicca, Sikhism merupakan beberapa agama yang gay-friendly meskipun beberapa pemeluknya tetap ada yang menentang. Buddha dan Hindu sendiri meskipun tidak secara explicit menentang atau mendukung LGBT, opini setiap pemeluknya mengenai LGBT cukup bervariasi dan berbeda. Kristen dan Islam pun, kedua agama yang paling keras menentang LGBT, terdapat beberapa pemeluknya yang menganggap LGBT itu normal dan tidak bertentangan dengan agama mereka.

Kemudian LGBT adalah sesuatu yang bukan Indonesia banget. Hei, Suku Bugis yang berasal dari Sulawesi Selatan, mengenal lima jenis kelamin lho. Ya,  yaitu lelaki, perempuan, calalai atau perempuan yang lemah gemulai seperti perempuan, calabai atau perempuan yang tomboi seperti laki-laki dan bissu, seorang yang bukan laki-laki dan bukan pula perempuan. Ada juga Ludruk, sebuah kesenian panggung yang berasal dari  Jawa Timur dan juga terkenal di Jawa Tengah. Adanya Tandak Ludruk, sebuah kesenian Ludruk yang menampilkan seorang tandak, yaitu seorang laki-laki yang yang merias diri dan berperan sebegai perempuan.

Baiklah, titik tekan dalam tulisan ini adalah membela hak LGBT tidak berarti mendukung perilaku seks beresiko yang mereka lakukan. Ini adalah logika yang picik dan cabul yang dibangun oleh manusia yang mengaku beradab.

Jadi, kaum LGBT juga memiliki hak yang sama sebagaimana Anda bernapas di negara ini. We, as one humanity, should be more understanding and supportive toward each other. No matter what the race, ethnicity, age, nationality, religion, or even sexual orientation and sexual identity. For the better world we live in.
__________________________________

Referensi:

http://www.port.ac.uk/uopnews/2014/11/25/homosexuality-may-help-us-bond/

http://www.randomhistory.com/history-of-gay-marriage.html

http://noviandy.com/wp-content/uploads/2014/08/lgbt-dalam-konteks.pdf

http://journal.umpo.ac.id/index.php/aristo/article/download/191/172

Sila baca karya Bima Astungkara lainnya di sini.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini