Home » , , , » Wanita Setengah Dewa: Menyelami Pemikiran Tokoh Wanita secara Singkat

Wanita Setengah Dewa: Menyelami Pemikiran Tokoh Wanita secara Singkat


Oleh: Gusti Aditya

Tulisan ini saya dedikasikan untuk wanita-wanita hebat yang mengitari hidup saya. Wanita-wanita yang menjadi surya kala periode terburuk saya. Terimakasih Mah, Buk, Mak, Mbak, Tr, Dek Pk dan Tn. Ini untuk kalian.
‘…For the propertied bourgeois woman, her house is the world. For the proletarian woman, the world is her house…’ -Rosa Luxemburg.
Secara universal, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada segenap wanita yang ada di bumi. Wanita yang dapat membendung badai menjadi pelangi. Kalian adalah pelukis pelangi tatkala matahari enggan untuk menampakkan keelokannya. Terimakasih atas segalanya, mulai dari kasih sayang, masakan enak, banting tulang-mu, elok parasmu hingga engkau lupa apa itu "lelah".

Kalian lah yang berjuang melahirkan manusia-manusia hebat untuk masa depan melawan katastope. Kalian pula yang melindungi manusia baru bermanifestasi bayi-bayi lembut dengan berjuta pancaran kasih sayang alami. Kalian juga tak ragu menyayangi jaman, memayungi keadaan, walau kenyataannya, masih banyak yang menganggap kalian adalah 'kelas dua' dan di bawah lelaki. Sungguh tak beruntung manusia yang memiliki paradigma seperti itu.

Untuk yang menganggap wanita adalah 'kelas dua', mari kita piknik di belantara rindangnya ilmu pengetahuan. Bagaimana tokoh-tokoh feminist berjuang habis-habisan dalam 'segala hal'. Mari kita simak, selagi otak masih bekerja.


ꝋꝋꝋ

Feminisme dan emansipasi perempuan memang seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Cita-cita emansipasi perempuan dari penindasan, perbudakan dan kedudukan yang direndahkan memang menjadi kerangka besar dari feminisme. Para feminist di seluruh dunia dari masa ke masa memiliki definisi dan imaji tersendiri mengenai apa yang mereka idealkan sebagai emansipasi perempuan. Seperti apa imaji ideal dari emansipasi perempuan yang ada di benak para feminis? Mari kita simak dari beberapa tokoh yang penulis pilih untuk menggambarkan pembacaan mereka atas akar penindasan yang terjadi pada perempuan.

Pemikiran Singkat Tokoh Feminist Dunia

Clara Zetkins, seorang ibu besar revolusi sekaligus pemikir Marxis terkemuka, yang populer dengan slogannya: “Buruh di seluruh dunia, bersatulah!" telah meninggalkan jejaknya untuk perjuangan kaum buruh dan perempuan di dunia. Zetkin sering mendiskusikan persoalan perempuan dalam revolusi komunis dengan Lenin, yang tak menampik peranan kaum perempuan dalam Revolusi Rusia. Tak jarang Zetkin berseberangan pendapat dengan Lenin.

Di dalam partai, Zetkin gigih mendiskusikan secara terbuka isu-isu kesetaraan. Lenin menegurnya. Bagi Lenin, mendiskusikan isu-isu perempuan tak memberikan kontribusi dalam perjuangan revolusioner. Zetkin menolaknya. Menurutnya, ada kebutuhan bagi perempuan untuk memahami dan menghubungkan penindasan yang terjadi di ruang privat dan publik.

Rosa Luxemburg, kawan Zetkins dan Lenin. Rosa selalu setia pada perjuangan yang berbasis massa. Ia menolak perjuangan perempuan yang elitis, atau perjuangan aktivis perempuan yang disuarakan secara radikal dari kampus-kampus. Baginya, perempuan proletariat harus melampuai sekat-sekat bangunan pabrik, mereka harus mau bermuhibah ke kantong-kantong perempuan miskin perkotaan, perempuan miskin pedesaan, dan perempuan miskin dari ras dan etnis yang tertindas. Tanpa gerakan massa, maka tidak akan ada gerakan revolusioner.

Luce Irigaray, seorang feminist Belgia yang menolak dengan anggun pendapat Freud dan Lacan, yaitu yang real, yang simbolik, dan yang imajiner. Irigarai terutama meneliti tatanan simbolik, kondisi bahasa yang dianggap bersifat maskulin atau patriarkat. Menurut Irigaray, perempuan adalah laki-laki yang terkastrasi, laki-laki yang dikebiri. Oleh karena itu, untuk menyamai phallus laki-laki maka perempuan harus berbicara melalui bahasa. Untuk membentuk citra dirinya sendiri perempuan harus mampu tampil bagi diri mereka sendiri dengan cara yang berbeda seperti yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

Irigaray juga menolak perhatian Freud dan Lacan yang memusatkan pada penis. Vagina dianggap sebagai rumah penis, klitoris dianggap sebagai penis kecil. Sebaliknya menurut Irigarai wanita justru memiliki organ seks hampir dimanapun dan geografi kenikmatannya lebih bervariasi,lebih rumit, dan lebih luas.

Helene Cixous, seorang novelis, penulis drama, sekaligus kritikus feminis. Pusat perhatian Cixous ada dua macam, yaitu; 1) hegemoni oposisi biner dalam kebudayaan barat. Oposisi biner yang dimaksudkan misalnya: activity/passivity, sun/moon, culture/nature, dll yang secara langsung dikaitkan dengan laki-laki dan 2) praktik penulisan feminine yang dikaitkan dengan tubuh.

Menurut Cixous untuk menolak hegemoni laki-laki harus dilakukan dengan praktik menulis feminisme. Praktik menulis dalam kaitannya dengan tubuh, yang salah satu cirinya adalah dengan pendekatan suara. Secara fisikal perempuan mematerialisasikan apa yang dipikirkan, ia memaknakannya dengan tubuhnya. Perempuan, dengan kata lain secara keseluruhan dan secara fisik hadir dalam suaranya, dan tulisannya merupakan perluasan identitas dirinya sebagai tindak kata.

Donna J. Haraway, kritikus feminis dengan sudut pandang dan argumentasi yang berbeda. Salah satu aspek yang perlu ge-cyborg. Cyborg merupakan cangkokan mesin dan organisme, makhluk pascagender yang mengantarkannya pada kesimpulan: “Saya lebih suka menjadi cyborg dibandingkan menjadi seorang Dewi”. Menurut Haraway perempuan harus bisa menolak hegemoni laki-laki dengan mengdentifikasi dirinya dengan kecanggihan teknologi.

Simone de Beauvoir, adalah pencipta buku berjudul 'Le Deuxième Sexe'. Buku ini dicatat sebagai karyaklasik yang memberikan penerangan tentang ketertindasan perempuan selama ini dan telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dan mendorong inspirasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan. Dan jika dilihat dari sejarah perkembangan feminisme, Beauvoir dianggap sebagai pelopor teori feminisme yang sudah lebih subtantif dibandingkan dengan teori-teori yang sebelumnya.

Secara umum pemikiran dari Beauvoir disebut dengan teorifeminisme. Teori Beauvoir sendiri tergolong ke dalam teori Feminisme Eksistensialis. Teori Feminisme Eksistensialis sendiri tergolong ke dalam teorifeminisme sosialis. Eksisitensialisme sendiri merupakan teori yang memandang segala fenomena dengan berpangkal kepada eksistensi manusia. Di The Second Sex, Beauvoir berpendapat bahwa perempuan telah ditahan sepanjang sejarah oleh persepsi bahwa mereka adalah “penyimpangan” dari norma laki-laki – asumsi yang harus rusak jika feminisme adalah untuk berhasil.

Wanita Indonesia juga Punya Cerita


Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Beliau memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599. Juga membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Raden Ajeng Kartini, siapa yang tak mengenal beliau? Tokoh wanita hebat ini adalah pribumi murni Indonesia. Kartini hidup pada era pergantian abad 19 ke  abad 20, namun seakan pemikirannya sudah melompati jamannya. Secara umum, surat-suratnya berupa ‘protes’ atas kungkungan adat masyarakat Jawa pada kaum perempuan. Ia menginginkan agar kaum perempuan, pada saat itu di Jawa, mempunyai kebebasan untuk belajar. Ia menulis tentang : Zelf-ontwikkeling atau pengembangan diri, Zelf-onderricht, Zelf-werkzaamheid dan Solidaritas. Semua padangannya dilandasi oleh sifatnya yang  religius, arif, serta humanis.

Kartini merupakan seorang perempuan yang ingin ‘meretas’ kungkungan adat dan selanjutnya mendedikasikan hidupnya untuk membantu kaum perempuan. Kartini seakan memberi pesan bagi wanita Indonesia saat ini agar lebih baik menjadi orang yang sesungguhnya ketimbang pemimpi, lebih baik menghadapi kenyataan hidup secara langsung ketimbang menghidarinya.

Umi Sardjono, seorang nahkoda Gerwani. Bagi sebagian orang, terlebih generasi penonton film fiksi yang wajib ditonton anak-anak sekolah antara dekade 1970-1980an, film “G.30 S/PKI”, pasti mempresentasikan Gerwani sebagai penjaja Seks dan membunuh tujuh jendral di Lubang Buaya. Umi Sardjono sebagai pendiri dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerwani, adalah pejuang perempuan Marxis dalam revolusi kemerdekaan dan membangun Indonesia.

Masa itu, Umi terpilih sebagai utusan golongan perempuan (dari Gerwani) untuk duduk di MPR/DPR (utusan golongan disebut golongan karya yang tidak ada hubungannya dengan partai Golkar). Selama menjadi anggota DPR, ada dua pekerjaan Umi yang penting, yaitu (1) menghilangkan klausul UU Keimigrasian yang menyatakan perempuan harus didampingi ayah/suami/anggota keluarga laki-laki saat bepergian ke luar negeri, (2) membahas kembali rancangan undang-undang Perkawinan yang pernah disusun Ny. Soemari (dari PNI) pada 1945 untuk disahkan sebagai UU Perkawinan RI.



ꝋꝋꝋ

Sejarah manusia sejak jaman lampau selalu ada wanita hebat yang melingkupinya. Mereka semua seakan menjadi dinding rahim yang kuat bagi Bumi yang rapuh ini. Mereka semua pernah menjadi bagian dari pembentukan sejarah di masa lampau, mereka bahkan banyak  yang menjadi penentu utama atas jalannya sejarah peradaban manusia.

Mengutip perkataan Caroline K. Simon yang mengatakan "Terlihat seperti seorang gadis, bertindak seperti seorang ratu, berpikir seperti seorang pria dan bekerja seperti seekor anjing." Bangkit dan ubalah Negara kita ini. Satu hal, ingatlah bahwasanya fisik dan pikiranmu adalah hak yang harus kalian tuntut.

__________________________________

Referensi:

Ansori, Dadang S. 1997. Membincangkan Feminisme. Bandung: Pustaka Hidayah.

Diniah, Hikmah. 2007. Gerwani Bukan PKI. Yogyakarta: Carasvati.

Jackson, Stevi dan Jackie Jones. 2009. Contemporary Feminist Theories, (Tim Penerjemah Jalasutra). Bandung : Jalasutra.

Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis, terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra.

http://historia.id/persona/ibu-besar-revolusi

https://indoprogress.com/2014/10/feminisme-dan-imaji-pembebasan-perempuan-dalam-kapitalisme/

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment