Home » , » Bapak Tidak Salah

Bapak Tidak Salah

Oleh: Gusti Aditya

“Bapak tidak salah, nak. Kamu harus banyak membaca supaya bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.”

“Pokoknya Inah benci bapak. Inah benci! Inah tak sudi punya bapak seorang komunis!” Aku membanting makanan malam yang sedang aku pegang. Dan tanpa diduga, itu adalah hari terakhir aku berjumpa dengan bapak.

ꝋꝋꝋ

Aku melihat satu per satu keluargaku menghilang. Entah bagaimana bisa, namun semalam sebelum hilang, biasanya terdapat deru mobil di luar sana. Di pekarangan rumahku yang dipenuhi pohon manga. Suaranya syup-sayup, namun aku yang terbiasa terjaga hingga larut untuk membantu emak mengupas bawang, semut yang menabrak daun kering saja akan terdengar oleh pendengaranku yang tajam.

Namaku Rukhmainah, biasa dipanggil Inah oleh kerabat dekat. Jika boleh jujur, aku tergolong anak orang kaya di desa ini. Bapak memiliki banyak kebun, Nini juga memiliki banyak pegawai untuk menggarap hasil sawah untuk dijadikan makanan ringan. Aku juga memiliki TV, di mana itu adalah barang langka pada tahun 60an.

ꝋꝋꝋ

“Bapak kemana?” Teriakku kepada emak.

“Emak tak tahu. Kemarin malam selepas Shalat Isya dan makan malam, dia ijin mau lihat golek, eee sampai sekarang belum pulang.”

“Hayu atuh, mak, kita cari. Kita lapor jika perlu,” Kataku merengek kepada emak.

Di desaku sedang marak isu komunisme. Siapa pun yang mulutnya berkata ‘komunis’, baik sengaja atau tidak, baik mengerti atau tidak, esoknya akan lenyap. Sungguh, itu semua memang benar adanya.

Kemarin, tetanggaku, Mang Atang, di pekarangan rumahnya terdapat spanduk besar bergambarkan palu dan arit. Nahas, esoknya Mang Tatang sudah tidak bisa ditemui lagi. Padahal, kata Bi Iim, istri dari Mang Atang, spanduk tersebut ia dapat dari Jakarta dan hendak dipergunakan untuk menutup rumah mereka yang jika siang terpapar cahaya matahari saja, tidak lebih.

“Tiba-tiba mereka meneriaki Atang dengan sebutan ‘Antek Komunis’ dengan lantang. Atang bingung, komunis teh naon? Da kita mah cuma dapet spanduk waktu kerja di Jakarta. Dibawa ke Subang juga gara-gara lumayan lah, buat tutup rumah yang rubuh. Soalnya panas.”

Kala itu hatiku kian ciut. Bapak bukan tak tahu mengenai komunisme. Beliau adalah salah satu kader. Di rak bukunya, aku melihat banyak sekali buku-buku berbahasa Jerman bahkan Prancis, Rusia dan Italia. Bapak adalah kaum terpelajar, berbeda dengan Mang Atang. Pengetahuan bapak mengenai komunis, jelas tak perlu diragukan.

“Kumunis itu, dik…,” Bapak datang dan membawa kopi kesukaannya di suatu malam, tahun lalu. “Komunis itu tidak jahat. Partai ini mati. Tidak ada regenerasinya. Semua habis dibunuh, loh ini kok menyalahkan PKI?”

Aku hanya mengangguk dan saat itu aku baru berusia sembilan belas tahun. Atau setahun sebelum aku benar-benar faham tentang bagaimana rezim tua sedang dikroposi oleh rezim yang akan bersinar. Ya, aku lahir tepat di tahun negara ini lahir.

“Komunis itu bukan Atheis! Bodoh mereka semua. Mau saja dibohongi si Jendral itu. Buktinya bapak masih mau shalat lima waktu. Bapak juga pernah menginjakan kaki di tanah suci. Apa mereka pernah? Bahkan mengaji saja belum tahu mereka bisa atau tidak.”

“Pak, jangan bahas itu, dedek takut, Pak,” Ujarku. Bapak hanya tertawa dan nampaknya Nini tidak mau terlibat terlalu jauh, sehingga Nini hanya di dapur dan taka da niat untuk gabung mengobrol.

“Takut kenapa? Hahaha. Tidak salah kok takut?” Ujar bapak dengan santainya.

“Bapak jual saja buku-buku bapak. Sudah tua. Kita ganti saja dengan yang baru.”

“Nih….,” Bapak bangkit dan mengambil salah satu buku miliknya. “Ini. Buku ini, nih. Kalok dijual, kita bisa beli elep lagi. Kita bisa beli sawah. Bahkan…negara ini bisa damai dengan buku-buku bapak ini,” Bapak tersenyum kepadaku. Namun, itu membuatku semakin muak.

“Bapak. Dedek teh udah capek, setiap hari dihina temen-temen sekolah dedek. Kata mereka bapak teh pemuja setan. Bapak teh tidak percaya Allah. Dedek teh malu, Pak!”

Bapak mengembalikan buku. Dan tidak ada obrolan yang terjadi berikutnya. Bapak hanya tersenyum dan duduk semabri melanjutkan membaca surat kabar yang tergeletak di meja.

ꝋꝋꝋ

Debat semacam itu sudah berkali-kali aku dan bapak lakukan. Entahlah, aku saat itu tak tahu mengapa bapak begitu keukeuh untuk mencekokiku dengan berjuta-juta pembicaraan seputar komunis. Aku muak dan benar-benar menjadi titk nadirku kala sebuah malam, setelah Shalat Magrib.

“Sudah ngajinya?” Bapak menepuk pundakku.

“Sudah, bapak,” aku meraih tangan bapak dan salim.

“Pinter. Sekarang makan, ya. emak sudah siapin di meja makan.”

“Baik, pak.”

Semua memang lancar. Seperti biasanya. Bapak, emak dan aku shalat, lalu kami mengaji sebentar. Kemudian aku melanjutkan membaca beberapa surat dalam kitab kuning. Emak menghangatkan sayur dan bapak sibuk dengan koleksi batu akiknya.

“Sudah ngajinya anak emak? Rajin, ya. semoga tahun ini bisa kuliah, ya. di Jakarta sekalian, ya? biar makin pinter,” emak membawa berbagai hidangan ke meja dan aku ikut membantunya.

“Ah, emak. Kan sekolah di mana aja juga bisa buat pinter. Tergantung orangnya.”

“Nah, bener itu apa kata Inah. Inah mau kuliah? Pengennya di mana? Padjajaran mau? Baru saja diresmikan beberapa tahun yang lalu,” Bapak menambahkan.

“Inah mau di Jogja, pak. Pengen jadi dokter. Biar bisa ngobatin orang yang sakit,” Aku berkata sambil tersipu malu. Aku adalah anak yang beruntung. Tidak banyak anak di desa ini yang mendapat tawaran untuk kuliah. Bahkan dapat dikatakan jika tidak ada sama sekali sarjana di desa ini.

“Wah, bagus. Kenapa tidak sastra dan filsafat? Di Gadjah Mada ada. Itu banyak membahas isu-isu komunisme,” semua terdiam. Emak juga hanya melahap santap malamnya tanpa ikut dalam pembicaraan.

“Bapak boleh bercerita?” Bapak tiba-tiba diam dan menunggu jawaban dariku. Aku hanya mengangguk tanpa melihat sorot mata bapak yang aku tebak saat itu sangat tajam. “Banyak miskonsepsi di luar sana tentang ajaran komunis. Bahkan para kaum terdidik sekali pun. Bapak akui, mungkin bapak juga memiliki banyak kekurangan.

“Namun, bapak selalu bersungguh-sungguh dalam membaca karya-karya Marx. Dan bapak juga tidak pernah merasa puas dengan apa yang bapak dapat. Sehingga, bapak selalu menguji pemahaman bapak dengan kawan-kawan bapak di partai.

“Nak, di partai tidak lah sengeri apa yang dikatakan kawan-kawanmu. Kita semua jika adzan, ya pergi sholat. Ya memang tidak semua, toh bapak tetap sholat. Bapak pemuja setan kata kawanmu? Berkali-kali bapak berdiri di mimbar Masjid desa, namun mereka berkata jika bapak pemuja setan? Lalu di sini siapa yang benar-benar seperti setan? Bapak atau kawanmu yang menuduh jika sholat adalah memuja setan?”

“I…iya, pak. Sudah, sudah…” emak mencoba mengakhiri kultum dari bapak.

“Nak, negara kita sedang dibodohi. Yang pintar dilengserkan, dibuang, ditendang bahkan dibunuh. Tujuannya untuk apa? Tujuannya adalah kekuasaan. Fitnah dan play victim pun hukumnya halal bagi mereka. Bapak cari uang juga halal. Bapak kasian sama kamu dek, masak bapak kasih kamu makan pakai uang haram?

“Partai bapak sedang sakit-sakitan. Tidak mungkin melawan. Kamu jika sakit, bisa apa, dek? Dedek Cuma bisa tidur dan membaca, kan? Sama. Partai bapak juga. Bapak tidak bisa apa-apa selain menerima berbagai fitnah dari mereka.

“Dedek tahu Tan Malaka? Tidak akan. Mereka akan bersusah payah menyembunyikan jasa-jasanya untuk para generasi muda. Bapak berani menjamin itu. Mereka takut akan Malaka-Malaka muda yang siap mengabisi mereka. Ya, komunislah ancaman untuk mereka. Maka, sudah dipastikan alurnya jika PKI yang harus mereka basmi.”

“Cukup! Komunis, komunis dan komunis! Dedek muak! Bapak salah dan semoga cepat dipenjara saja!”

“Bapak tidak salah, nak. Kamu harus banyak membaca supaya bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.”

“Pokoknya Inah benci bapak. Inah benci! Inah tak sudi punya bapak seorang komunis!” Aku membanting piring makan malamku.

ꝋꝋꝋ

Tahun 2017 tepatnya bulan ke sepuluh, aku sudah memiliki anak dan suami yang baik. Anakku kini sudah berkuliah di sebuah universitas ternama di Jawa Barat. Suamiku seorang dosen dari Gadjah Mada. Sedangkan aku tidak terlalu sibuk. Tidak sesibuk suamiku. Aku tiap hari hanya beres-beres rumah yang kian aku cinta. Dengan suasana yang berbeda dari beberapa puluh tahun yang lalu.

Bapak, ya? kalian bertanya mengenai bapak? Dia kini sudah mempunyai tempat di dalam hati para orang yang mencintai dia.

Apakah aku bangga, ya? jika boleh jujur, kini aku sangat bangga. Aku selalu tertawa ketika melihat sebuah truk bertuliskan “enak jamanku to?” di bagian belakangnya. Tentu, dengan foto seseorang yang dahulu aku bela dan membenci bapakku sendiri. Aku malu!

Orang-orang seperti bapak kini dirindukan para mahasiswa di negeri ini. Seperti aksi kamisan yang pernah diceritakan suamiku. Dia aktif dalam kegiatan tersebut bersama para mahasiswanya. Dari suamiku pula mataku dibuka jika hilangnya ayahku adalah sebuah bukti kebejatan si “enak jamanku to?”.

Bapak, bapak tidak salah!

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment