Home » , , , , » Cyber Bullying: Pembunuh Berdarah Dingin

Cyber Bullying: Pembunuh Berdarah Dingin


Oleh: Gusti Aditya

Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh suatu kejadian yang menurut saya pribadi adalah hal yang lucu. Semua bermula ketika ada sekelompok pihak yang tidak suka dengan tulisan saya, kemudian mereka menyerang saya di dunia maya. Caranya pun unik, mereka invite saya di sebuah grub dengan nama yang sangat membuat saya tersinggung dan akhirnya, setelah saya bergabung, mereka secara bergantian mengintimidasi saya dengan begitu, ya, lucu.

Ada yang tiba-tiba bilang, "Saya anti PKI". Adakah tulisan saya yang membuat mereka tersinggung itu membahas mengenai PKI? Saya rasa tidak. Saya tak mungkin membahas suatu topik yang otak lawan bicara saya tak akan mampu menerima suatu pemikiran yang bertolak belakang dengan pemikiran mainstream modern ini. Ada pula yang bilang "Ada anak filsafat? Butuh bantuan, nih". Saya tahu itu adalah sarkas. Namun, sekitar belasan orang lainnya membumbui sehingga grub chat tersebut semakin, ya, lucu.
Penggunaan medium internet pada era komunikasi digital telah merubah  pandangan pola komunikasi manusia yang telah dilakukan selama berabad-abad. -Boyd.
Tanpa mereka sadar dan mereka duga, tindakan yang sedang mereka lakukan juga termasuk dalam tindak kekerasan. Itu artinya tindakan ini dikategorikan sebagai sebuah bentuk kekerasan non fisik atau yang sering disebut dengan bully. Lebih spesifiknya, tindakan tersebut lebih rinci lagi dapat dimasukan dalam kategori cyber karena dilakukan dalam dunia maya. Itu artinya cyber bullying hanya mengandalkan kekerasan atau agresi dalam bentuk verbal saja, seperti tulisan, makian, saling menyerang dengan komentar-komentar dan sebagainya.

Dalam praktik cyber bullying sendiri terjadi karena deindividuisasi itu sendiri. Deindividuisasi merupakan sebuah kondisi online disinhibition effect, di mana seseorang mampu menutupi identitasnya, seperti anonimitas, ketidaktampakan, minimnya otoritas, dan tak harus bertemu. Tidak adanya medium dalam jangkauan tertentu, sehingga pelaku lebih nyaman dalam melakukan serangan berupa kekerasan verbal tadi, tanpa memikirkan serangan balasan (lebih ke fisik). Pelaku merasa bahwa ia merasa aman identitasnya sudah tersembunyi. Sehingga menimbulkan prilaku yang lebih agresif dari aslinya.

terdapat jenis-jenis cyber bullying yang dilakukan pelaku, yaitu (1) pelaku kerap memanggil nama korban dengan panggilan atau sebutan  negatif, (2) pelaku mengirimkan atau menyebarkan foto pribadi korban sehingga menjadi bahan lelucon oleh teman sosial media korban (image of victim spread), (3) pelaku mengancam keselamatan korban melalui pesan cyber bullying-nya (threatened physical harm) serta (4) pelaku juga memberikan  opini-opini yang merendahkan korban (opinion slammed).

Menurut Patchin dan Hinduja, seseorang yang menjadi korban cyber bullying adalah seseorang yang juga menjadi korban bully di sekolah. Adapun  para pelaku cyber bullying adalah orang-orang yang cenderung agresif dan sering  melanggar aturan, perilaku cyber bullying di Indonesia sebenarnya adalah masalah baru seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Belum  banyak penelitian yang memfokuskan diri untuk mengangkat masalah ini sehingga kasus cyber bullying ini juga tidak dapat terungkap kepermukaan seluruhnya, padahal dampak kaus ini cukup berbahaya.

Orang tua kebanyakan siaga untuk anak mereka dalam masalah kekerasan fisik, seperti berkelahi, dunia perklitihan hingga tawuran, namun orang tua luput bahwa ancaman dalam dunia maya sebenarnya juga sangat berbahaya. Dalam kampanye #PositionOfStrength yang digagas oleh Dyhta Caturani menyebutkan bahwa Laki-laki yang diserang ide atau statement di mana kita bisa berdebat dengan argumentasi yang sama masuk akal. Sementara perempuan sangat berbeda, yang diserang personal, tubuh.

Alih-alih digunakan sebagai media berpendapat dan menyampaikan gagasan secara rasional, internet khususnya sosial media, malah digunakan sebagai ajang saling menjatuhkan dan merubah seseorang menjadi monster. Mereka yang tak sepaham, tak sejalur dengan apa yang mereka anut, adalah sasaran empuk untuk melakukan penyerangan secara membabi-buta tanpa memikirkan dampak psikologis korban. Mengapa? Alasannya mudah, karena di dunia yang sebenarnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa, namun di internet, mereka akan puas memaki, menghina dan sembari menikmati korban terganggu psikisnya.

Dampak cyber bullying hampir sama  dengan bullying tradisonal bahkan dampaknya bisa lebih dari tradisional bullying (Ayunintgyas, 2013). Lalu bagaimana cara menghalang cyber bullying? Pendapat penulis dan sepengalaman menjadi korban cyber bullying, yaitu jangan meladeni apa yang diupayakan oleh pelaku secara cyber. Blokir akses dalam dunia maya, tutup segala aktivitas yang berhubungan dengan pelaku serta berprilaku sopan di dunia nyata. Karena pelaku cyber bullying berprilaku buas hanya lingkup dunia maya saja. Jika perlu, tidak perlu diladeni jika pelaku meminta bertemu dan mengancam banyak hal.

Sumber: WITS Programs
Orangtua harus siaga dalam memonitori anaknya selama berselancar di dunia maya. Selain kegiatan monitoring, orangtua juga sepantasnya memberikan pemahaman mengenai porsi dalam menjelajahi dunia maya. Orangtua juga perlu memberi pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah membatasi, melainkan melindungi. Sehingga cyber bullying dapat ditekan dengan adanya monitoring orangtua.

Jika dirasa pelaku cyber bullying melakukan tindakan yang keterlaluan dan melanggar hukum, sebaiknya bukti disimpan dan dilaporkan kepada pihak berwajib. Karena dalam revisi UU ITE yang baru juga mengatur cyber bullying atau menakut-nakuti dengan informasi elektronik sebagai ekstensi Pasal 29, yang berbunyi "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasaan atau menakut-nakuti yang dutujukkan secara pribadi (Cyber Stalking). Ancaman pidana pasal 45 (3) Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)."

Cyber bullying memang sedang marak terjadi berhubung akses menuju dunia maya sudah tidak ada lagi pembatasnya. Korban pun kebanyakan remaja di kisaran usia delapan belas ke atas. Karakteristik pada pelaku dan korban ini mencerminkan bahwa cyber bullying memang kerap terjadi walaupun tidak disadari oleh kedua belah pihak. Nampaknya, masalah mengenai cyber bullying harus kita tindak dengan serius, agar ada efek jera untuk pelaku.

___________________________________________________

Referensi:

Patchin, Justin W. & Sameer Hinduja. (2012). Cyberbullying Prevention And Response: Expert Perspectives. New York: Routledge

Price, Megan & John Dalgleish. (2010). Cyberbullying: Experiences, Impacts And  Coping Strategies As Described By Australian Young People. Youth  Studies Australia, v.29, n.2

https://www.klikmania.net/mengenal-cyberbullying/

https://tirto.id/bullying-dan-penindasan-di-media-sosial-bVZj

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini