Home » , , , » Kematian Pramuka: Sebuah Kontemplasi (Pribadi)

Kematian Pramuka: Sebuah Kontemplasi (Pribadi)

Sumber Gambar: Pinterest
Oleh: Gusti Aditya

Beberapa waktu yang lalu seorang sobat mengirimkan sebuah gambar di grub line. Isinya berupa tindakan mengerikan dalam dunia kepramukaan. Bukan berupa jurit malam yang banyak ditakuti oleh kebanyakan peserta pramuka, namun ini merupakan arti substansial dari kata 'menyeramkan' yang sesungguhnya, yaitu memakan makanan di tanah.

Sebenarnya penulis pernah merasakan hal serupa, namun dalam porsian yang berbeda. Dahulu, sewaktu penulis aktif dalam kegiatan kepramukaan, tindakan serupa yaitu ketika peserta tak habis memakan makanan, kemudian makanan tersebut dikumpulkan  lalu dijadikan satu dalam sebuah daun pisang. Selanjutnya berupa ceramah mengenai "arti penting sesuap nasi" dan bahasan serupa lainnya.

Penulis memang tidak ahli dalam bidang kepramukaan. Tali-menali saja tidak becus, sandi-sandi yang 'seharusnya' khatam untuk anak pramuka bahkan penulis tak menguasainya satu pun. Namun, selama beberapa tahun menggeluti bidang tersebut, penulis merasa bahwa ada suatu nilai yang secara tak sadar merasuk dalam alam bawah sadar siapa pun yang mempelajarinya; kepemimpinan, cinta kasih dan kebersamaan.

Secara serampangan, penulis memberi porsi bahwa kegiatan pramuka masuk dalam realitas sosial jenis komunitas. Karena interaksi terlibat dalam kesatuan sosial yang didasari oleh lokalitas. Mac lver dan Charles Page menamakan hal ini sebagai community sentiment karena dibangun oleh faktor perasaan saling memerlukan satu sama lain.

Kegiatan kepramukaan juga merupakan pelepasan jenuh bagi peserta didik yang terikat oleh instansi pendidikan seperti sekolah. Dengan pengajaran yang monoton, bahkan setiap hari para murid dijadikan seperti robot, pramuka memberikan pandangan yang lain mengenai metode pembelajaran. Dengan konsep di luar ruangan, tentu menjadi mengasyikan, bukan?

Lalu jika begitu, mengapa masih ada yang menyalahartikan kegiatan ini sebagai penggemblengan mental di alam lepas? Bahkan porsi mereka disamakan seperti kambing dan hewan lainnya yang tidak pantas disamakan oleh manusia?

Nampaknya masalah terdapat dari internal tubuh para penggiat kepramukaan. Mereka memahami materi, namun kurang cakap dalam menguasai arti. Mereka paham bagaimana cara mengikat tali -temali, namun tidak faham saat ditanya 'mengapa harus simpul ini?'; 'bagaimana konsep dasar simpul ini?'; 'mengapa tidak dengan simpul yang lain?' dan lain sebagainya.

Pun sama ketika dijejeli pertanyaan "apakah hakekat dasar kepramukaan?", serta "apakah sama arti dari Gerakan Pramuka, Pramuka dan Kepramukaan?". Mereka akan menggeleng dan menaikan bahu. Memang tidak semua, namun kebanyakan kurang fasih dalam menjabarkan pengertian seperti itu.

Jurang antara generasi terlihat jelas. Semakin ke sini semakin jarang pemuda yang bisa mengemban tugas mengampu pramuka dengan baik. Di sekolah penulis, dari sekian banyak anggota ambalan di angkatan penulis yang telah purna tugas, hanya 2 yang berani terlibat langsung dan meneruskan generasi hebat sebelumnya. Lainnya seperti penulis, merasa lemah dan kurang menguasai materi. Padahal, cukup keyakinan yang kokoh, komitmen tinggi serta menggenggam erat sepuluh darma sudah cukup untuk mengampu kegiatan kepramukaan.

Tak handal dalam tali-menali dan dunia sandi? Penulis rasa tak apa. Namun bayangkan sebuah analogi; bagaimana jika anda menjadi seorang 'guru' dengan keahlian yang di bawah rata-rata? Tentu, murid anda akan berlaku sama. Bagaimana anda menjadi seorang pemimpin dikemudian hari kelak? Apakah anda akan menghadirkan perubahan yang signifikan? Tentu tidak.

Bahaya memberikan materi tanpa formula hakekat inti contohnya dalam pengaplikasian tali-menali. Kita hanya fokus bahwa tali harus diberi simpul di ujungnya dan dikenai ikatan dengan benda kokoh di ujung lainnya. Sehingga yang tertanam dalam stimulus otak hanya seputar cara, lalu untuk apa? Apakah untuk bunuh diri? Atau untuk mengikat tenda agar kokoh? Banyak persepsi dan fantasi yang dihadirkan dalam pikiran kita.

Mengapa penulis bisa mengatakan seperti itu? Karena penulis lah contohnya dari kegagalan internal tersebut. Ketika memasuki dunia kepramukaan, yang penulis tahu hanyalah cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Tanpa tedeng alih-alih bahwa penulis buta akan 9 hal krusial lainnya. Tanpa menutupi semua, banyak kawan selain penulis yang hanya menguasai beberapa darma dan mengabaikan darma lainnya.

Melalui kontemplasi ini, penulis berpendapat bahwa kekerasan dan pemploncoan yang kemudian hari adalah hal yang mungkin terjadi jika kita semakin larut dalam definisi pramuka yang kian tak bermakna. Kala mengemban tugas, penulis merasa bahwa apa yang penulis berikan terkesan mentah tanpa diolah dengan bijak. Penulis hanya fokus memberikan materi tanpa menyisipi arti di dalamnya.

Semoga kegiatan pramuka kedepannya tidaklah seperti sebuah syair tanpa makna. Semoga pula tidak ada kegiatan  pramuka yang berorientasi pada pemploncoan, pembodohan dan kegiatan tak mendidik lainnya, namun sebaiknya mengarah kepada penyelenggaraan kegiatan kepramukan dengan baik, mengelola dan mengembangkan Gerakan Pramuka.

Perbanyak introspeks, evaluasi diri, bertanya, berdiskusi dan berkomunikasi. Jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Meneruskan pesan Bapak Adhyaksa Dault, selaku Ketua Kwartir Nasional Pramuka, "Ada ribuan foto dan video kegiatan Pramuka di setiap telepon genggam dan labtop anak Pramuka, saya minta posting, upload semua foto dan video tersebut di medsos. Agar dunia tahu bahwa kegiatan Pramuka itu mendidik, menggembirakan, menginspirasi serta menyenangkan, menguatkan persaudaraan anak-anak kita. Jangan sampai karena satu foto makan tanpa alas Gerakan Pramuka tercoreng."

Hidup Pramuka Indonesia. Salam Pramuka! 

Mybllshtprspctv®

1 komentar:

close
Banner iklan disini