Home » , , , » Liverpool adalah Agama, Lalu Siapakah Tuhannya?

Liverpool adalah Agama, Lalu Siapakah Tuhannya?

Sumber: Pinterest
Oleh: Gusti Aditya

Sudah hampir setengah usia saya kenal tim bernama Liverpool. Otomatis sudah sepuluh tahun lebih saya merasakan inkonsistensi yang dilakukan tim ini. Sudah pula saya merasakan tangan dingin Gérard Houllier hingga passion seorang Jürgen Klopp. Walau sudah merasakan kebanggaan kala tim yang berasal dari kota kecil bernama Merseyside ini mengangkat trofi Eropa, maka lain cerita dengan piala liga yang rasanya sangat sulit kembali ke pangkuan tim yang sudah merasakan 18 trofi ini.

Pernah suatu ketika saya menghardik diri sendiri. Mengapa Liverpool? Bukankah Barcelona dan Real Mandrid lebih seksi dan menjamin sebuah trofi di akhir musim? Atau mengapa tidak Bayern Munchen yang terlalu digdaya dengan Liga Jerman-nya? Manchester City dengan Minyak Arab-nya atau Chelsea dengan Konglomerat Rusia juga bisa jadi opsi. Mengapa harus Liverpool? Jawabnya singkat, karena di Liverpool saya merasa jadi seorang Dewa. Bagaimana bisa?

Lepas dari semua itu, jika boleh berpendapat, Liverpool adalah sebuah agama bagi saya pribadi. Bagaimana setiap akhir pekan, Liverpool selalu mengajak saya beribadah dengan cara menyaksikannya di layar kaca. Jika tidak diudarakan TV swasta, Liverpool menuntut saya untuk bersedekah dengan cara menyisihkan uang saku untuk sekedar beli kuota agar dapat streaming via Liverpool TV. Liverpool banyak menuntut akan keteraturan itu semua.

Kemudian, jika Liverpool merupakan sebuah agama, lalu siapakah Tuhannya? Mencari sosok Tuhan memanglah sulit, sosoknya yang transenden dan keengganan manusia untuk membahasnya menambah kesan bahwa bahasan mengenai Tuhan rasanya tidak elok dan buang-buang waktu. Mengutip apa yang dikatakan Sigmund Freud, Agama ada meskipun orang-orang tetap melakukan dosa dan agama tetap ada meskipun manusia merasa bahwa klaim-klaimnya banyak yang bersifat irasional. Ya, sejelek-jeleknya Agama Liverpool, tetap saja ada yang menyukainya.

Agama tak akan ada jika tidak ada konsep ketuhanan di dalamnya. Menurut Edward Burnett Tylor, seorang antropolog terkemuka yang berasal dari Inggris, konsep keagamaan akan memunculkan kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di balik segala sesuatu. Lalu bagaimana dengan Liverpool? Tentu saja agama yang satu ini mempunyai sosok Tuhan. Namun, Tuhan dalam Agama Liverpool ini tidaklah satu, melainkan jumlahnya ribuan.

Ya, The Kop lah Tuhan dalam Agama Liverpool.  Maha penting peran para Kopites bagi berlangsungnya Liverpool, maka laiknya seorang Tuhan, The Kop lah yang membuat Liverpool bernyawa. Urat sabar Kopites bisa dikatakan yang paling kuat, menengok tahun lalu, dua partai final yang seharusnya menjadikan double winner, malah menjadikan Liverpool seperti keledai angkut yang pulang dengan karung yang terjatuh di perjalanan; nihil!

Tuhan tak pernah meninggalkan sesuatu yang terpuruk dan jatuh. Lahir lah anthem "You'll Never Walk Alone". Terlepas dari berbagai versi asal-usul lagu tersebut, Kopites mampu memalingkan kamera para jurnalis dari pesona seorang Emre Can, permainan metal dari seorang juru taktik asal Jerman, hingga sang magician dari Brazil, Philippe Coutinho, hanya untuk menyorot berbagai gerak dan bendera yang luar biasa dari seluruh bangku stadion. Terlebih ketika anthem "You'll Never Walk Alone" mulai menggema.

Liverpool mampu membuat sebuah daya tarik yang begitu indah. Liverpool pula mampu membuat takjub bagi siapa saja yang melihat akan kebesaran sejarahnya. Sebagai fans yang baik, tentu sejarah haruslah dipandang sebagai sesuatu yang berlalu dan hanya dijadikan spirit tersendiri. Liverpool harus membangun sebuah peradaban baru bagi kebesaran namanya di masa lampau. Tidak bisa jika Liverpool berjuang seorang diri, maka dari itu, di sini lah peran "Tuhan Kopites".

Dalam kegiatan membantu Agama Liverpool ini berkembang, selain dukungan yang tidak perlu diragukan lagi, membeli atribut berupa jersey replika nampaknya menjadi hal wajib dalam kontemporer saat ini. Kebetulan, membeli berbagai atribut Liverpool adalah sebuah kewajiban bagi Kopites. Mulai dari jersey hingga poster-poster yang harganya tidak bisa dibilang murah pun Kopites lakukan. Hal ini tentu membantu si Agama tersebut berkembang dan finansialnya menjadi sehat. Semakin banyak merchandise yang Tuhan Kopites beli, semakin pesat pula perkembangan Agama Liverpool ini.

Walau membeli jersey adalah budaya Kopites, namun peringkat penjualan jersey Liverpool jauh di bawah sang rival, Manchester United. Dalam medio tahun 2016, Liverpool menduduki peringkat delapan dengan 505 ribu penjualan jersey dengan Coutinho sebagai penglaris di kubu Merseyside Merah ini. Meski Liverpool kurang berprestasi, ternyata penjualan seragamnya meningkat sebanyak 440% penjualan (sumber: PanditFootball).

Setelah menjabarkan segala tetek bengek dari A hingga Z, kini Sang Tuhan pun meminta Agama tersebut untuk memberikan ia sesuatu yang pantas. Sesuatu yang selama ini Tuhan idam-idamkan. Lama memang Tuhan bersembunyi dalam Utopia bayang-bayang masa lalu, kini, Tuhan menuntut itu. Tuhan ingin Agama tersebut menjadi yang terbaik (lagi).

Lalu, kapan kah itu, Agama Liverpool?

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini