Home » , » Mutiara dari desa

Mutiara dari desa

Oleh: I Wayan Budiartawan

Aku dilahirkan di Desa Pesaban, Karangasem-Bali pada tanggal 1 Oktober 1968.

Desa Pesaban terletak tidak jauh dari Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali. Di kaki gunung inilah terdapat Pura Besakih yang merupakan pura terbesar bagi umat Hindu di Pulau Dewata. Setiap hari raya keagamaan banyak orang yang datang untuk bersembahyang ke pura ini. Upacara diadakan secara besar-besaran dan meriah dilengkapi dengan gamelan dan tari-tarian.

Udara di desaku amat sejuk. Cuaca cukup ramah sepanjang tahun. Sebagai bagian dari daerah tropis, desaku mengalami pergantian musim panas dan musim hujan silih berganti.Pada tahun 1963, Gunung Agung meletus. Hujan abu gunung berapi sampai ke desaku. Hal ini mengakibatkan lahan pertanian di desaku sangat subur.

Sebagian besar penduduk di desaku hidup dari tanah pertanian. Para petani menanam padi di sawah. Beras yang dihasilkan cukup melimpah;sebagian untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sebagian lagi dijual untuk mendapatkan uang. Di desaku ada dua tempat penyosohan gabah; satu milik BUUD/KUD, satu lagi milik perseorangan.

Bibit padi unggul didatangkan ke desaku. Demikian juga obat pembasmi hama (pestisida). Dan tentu saja dipasok pupuk yang cukup bagi para petani. Penyuluhan dari kantor balai pertanian sering dilakukan dengan harapan agar panen dapat berhasil. Para petani di desaku mengolah tanah pertanian pada setiap musim tanam tiba. Pemupukan dan penyemprotan hama dilakukan setelah padi tumbuh.

Sawah diolah dengan membajak dan mencangkul. Di desaku para petani menggunakan bajak yang ditarik dengan sapi. Orang-orang yang lebih modern menggunakan traktor. Tetapi sapi juga dipelihara untuk dijual. Sapi disembelih dan dagingnya diambil untuk dikonsumsi oleh manusia. Daging sapi bernilai gizi tinggi. Sedangkan mesin traktor memerlukan bahan bakar solar untuk menggerakkannya.

Pada saat  mulai berbuah, burung-burung pipit datang menyerbu dan memangsa bulir-bulir padi yang masih hijau. Para petani mengusir burung-burung pipit ini supaya panen tidak gagal karena butir-butir padi habis termakan. Ketika masih kanak-kanak aku sering disuruh ayahku untuk menjaga sawah dan mengusir burung-burung pipit. Para petani sering memasang orang-orangan yang dapat digerak-gerakkan untuk menakut-nakuti burung-burung pipit.

Sistem pengairan di desaku diurus oleh organisasi tradisional yang disebut subak dan para pekaseh. Sistem irigasi meliputi bendungan di sungai, selokan tempat mengalirkan air serta parit-parit kecil yang dipakai untuk menyalurkan air ke petak-petak sawah. Ayahku sendiri selama tiga puluh lima tahun mengabdikan dirinya sebagai kelian pekaseh.

Tananaman selingan setelah musim padi adalah tanaman bunga. Sekarang ini harga bunga di pasaran cukup bagus. Bunga diperlukan dalam berbagai bentuk upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh  penduduk Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu. Ketika menjadi murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku pernah diajari guru cara untuk membuat minyak wangi dari bunga. Adapun minyak wangi ini terbentuk dengan proses penyulingan.

Tanaman keras yang ditanam oleh para petani di desaku adalah cengkeh. Cengkeh banyak diserap oleh industri rokok kretek. Dulu harga cengkeh di pasaran jatuh sehingga tidak bisa diharapkan lagi untuk menambah penghasilan. Tetapi, akhir-akhir ini pelan-pelan harga cengkeh naik lagi. Tentu saja para petani di desaku memetik keuntungan.

Cengkeh termasuk tanaman jangka panjang. Pada masa kecilku, ayah menanami tanahnya dengan bibit cengkeh. Ayahku merencanakan pohon-pohon cengkehnya bisa membiayai kuliah diriku dan adikku. Tetapi ketika aku menjadi mahasiswa harga cengkeh sedang anjlok-anjloknya. Terpaksa aku minta biaya kuliah dari seorang paman yang bekerja di sektor wiraswasta dan bergerak dalam bidang pariwisata.

Tanaman keras lainnya yang cocok tumbuh di desaku adalah kopi. Penduduk menanam kopi untuk dikonsumsi sendiri dan sisanya dipasarkan untuk menambah pendapatan keluarga. Saat panen, buah kopi dipetik dan dikeringkan dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Setelah benar-benar kering, kopi dibawa ke tukang giling untuk digiling dengan mesin. Di beberapa tempat di Pulau Bali, kopi adalah tanaman primadona karena hasil produksi kopi bisa menjadi sumber penghasilan pokok bagi para petani daerah tersebut.

Ayahku pada masa mudanya tidak ketinggalan juga ikut menanam kopi. Kini pada masa tuanya, ayahku tinggal memetik buah hasil dari pohon-pohon kopi yang ditanamnya dulu. Tetapi seperti  halnya  tanaman pertanian lainnya, harga kopi di pasaran juga mengalami pasang surut. Kadang-kadang jika padi di sawah mengalami masa paceklik, kopi dapat ditukar dengan uang untuk membeli beras.

Di desaku, para petani menanam jagung untuk dijadikan makanan ayam jago (ayam aduan). Biji-biji jagung yang bernas dapat membuat ayam jago kuat berlaga. Jagung dapat juga dijual ke kota. Pedagang-pedagang menjajakan jagung-jagung rebus di pusat-pusat keramaian. Di samping itu jagung muda juga dapat dinikmati orang-orang sebagai jagung bakar di pinggir-pinggir jalan di kota.

Di daerahku, menurut statistik yang dikumpulkan pemerintah, pendapatan terbesar adalah dari hasil panen buah kelapa. Pohon-pohon kelapa ada yang sampai berusia puluhan tahun tetapi masih menghasilkan buah. Penduduk desaku mengolah buah kelapa menjadi minyak. Ada dua jenis minyak yang dapat dihasilkan dari kelapa, yakni minyak kelapa tradisional dan minyak kelapa hasil olahan pabrik.

Minyak kelapa secara tradisional dibuat dengan memarut buah kelapa. Hasil parutan kelapa kemudian diperas untuk mendapatkan santannya. Santan ditaruh pada wadahnya dan dimasak di atas tungku. Kemudian setelah matang, minyak dipisahkan dari air. Setelah ditiriskan, minyak dimasukkan ke dalam botol. Masyarakat tradisional mengerjakan proses pembuatan minyak kelapa dengan tangan.

Di pabrik minyak kelapa dihasilkan dengan mesin pengilangan minyak. Buah kelapa dibelah dan kemudian dijemur untuk dijadikan kopra. Kopra dimasukkan ke mesin press sehingga keluar minyaknya. Minyak yang dihasilkan dengan cara ini masih kotor sehingga perlu disaring lagi supaya bersih. Pada proses ini pembuatan minyak dilakukan secara otomatis oleh mesin.

Bagi wiraswastawan yang kreatif, kelapa dapat dinikmati ketika masih muda sehingga terbuka peluang untuk menghasilkan rupiah dengan berjualan es kelapa muda. Kelapa muda juga disajikan di restoran-restoran untuk diminum oleh tamu-tamu asing/dalam negeri. Pada siang hari, di tengah panasnya matahari tropis, es kelapa muda dapat menjadi pelepas dahaga. Di pinggir-pinggir pantai bisa disaksikan para wisatawan melepas lelah sambil menikmati kelapa muda.

Permintaan pasar akan buah coklat dewasa ini meningkat dengan tajam. Kebutuhan coklat di pasok dari desa.Coklat digunakan pada berbagai olahan kue termasuk kue bolu dan terutama biskuit. Di samping itu ada juga produk susu coklat dengan berbagai merek yang dipajang di swalayan-swalayan. Coklat-coklat batangan telah dijual di warung-warung sampai ke pelosok-pelosok tanah air.

Petani coklat di desaku juga eksis. Ayahku bisa bernafas lega karena coklat yang ditanamnya telah dapat dipanen. Para pedagang perantara di desaku mencari coklat sampai ke rumah-rumah penduduk untuk dibeli dengan harga bersaing. Ayahku setiap habis memetik buah coklat langsung bisa mengantungi uang tunai dari pedagang. Rezeki di tangan Tuhan. Ayahku bisa mendapatkan uang untuk membeli bumbu dapur dan kebutuhan mendesak lainnya.

Pada masa kanak-kanak aku sering pergi ke sawah untuk menanam kacang panjang. Kacang panjang dapat dipakai sebagai bahan sayur hijau. Biji kacang panjang ditanam di atas lahan. Di samping itu ditancapkan juga batang kayu/bambu sebagai penyangga tempat menjalarnya tanaman kacang panjang. Buah kacang panjang yang telah dewasa dapat dipetik langsung dari pohonnya. Kacang panjang dapat dinikmati dengan menumisnya.

Hingga belasan tahun yang silam aku masih bisa menyaksikan kacang panjang semobil penuh di jalan raya  yang hendak dipasarkan ke kota terdekat. Di tempat lain rupanya kacang panjang diproduksi dalam jumlah yang besar oleh para petani. Kacang panjang telah menjadi produk sayuran unggulan sampai saat itu. Sekarang ini kacang panjang dijual eceran per ikat di warung-warung di desaku.

Di pekarangan rumahku ditanam sayuran bayam. Bayam, karena mengandung vitamin,  sangat dianjurkan dimakan oleh puskesmas. Daun bayam dapat dibuat menjadi sayuran yang lezat bila dicampur dengan kacang merah. Dulu pada waktu kuliah sayur sejenis ini disediakan oleh kantin kampus. Harganya cukup murah untuk kocek mahasiswa anak indekosan.

Bayam pun di jual di pasar per ikat. Ada berbagai produk sayuran dari lahan pertanian yang bisa menghasikan uang. Bayam adalah salah satunya yang gampang ditanam di lahan kosong. Karena curah hujan di desaku cukup besar maka tanaman bayam dapat tumbuh dengan subur. Lain halnya jika lahan kering tanaman bayam perlu disiram dengan air.

Dulu tanaman vanili pernah menjadi produk andalan di desaku. Di mana-mana para petani menanam vanili yang kala itu bernilai jual tinggi di pasaran. Tetapi, kini mungkin karena telah ditemukan bahan kimia sintetik untuk membuat rasa vanili, tanaman vanili alami mulai digeser. Seperti disiarkan kejadiannya di televisi beberapa waktu yang lalu, di sebuah negara di Afrika, vanili sintetik telah menggantikan tanaman vanili  alami.

Untuk sarapan pagi pada masa kecilku sering disediakan talas, ubi, ketela rambat, dan ketela pohon. Semuanya disajikan oleh nenekku dengan merebusnya sampai matang. Ketika itu kakekku menanam produk-produk pertanian tersebut pada lahan yang tersedia. Belum lama berselang makanan kecil ini dipamerkan di televisi oleh wali kota Tangerang sebagai makanan Era Reformasi. Pada jaman Orde Baru peranannya digantikan oleh beras.

Salah satu kue khas Indonesia terbuat dari singkong. Namanya kue getuk lindri. Kue ini dibuat dengan merebus / mengukus singkong sampai matang. Tentu saja terlebih dahulu singkong dikupas, dipotong-potong kemudian dicuci bersih. Singkong yang telah matang ditumbuk sampai halus. Gula merah juga ditumbuk bersama singkong rebus/kukus. Jadilah kue getuk lindri.

Ibu-ibu di desaku suka membuat penganan pisang goreng. Pisang goreng dibuat sebagai persembahan (sesajen) pada upacara pemujaan leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Hindu Bali. Setelah selesai upacara pisang goreng dapat dimakan anggota keluarga. Sisanya bisa diberikan pada tetangga/kerabat yang membutuhkannya. Pisang goreng umum dijadikan bahan sesajen di desaku karena mudah dibuat dengan bahan-bahan yang dihasilkan sendiri.

Masih teringat aku waktu kecil diajak oleh ibuku untuk berjualan pisang goreng. Buah pisang diiris-iris dengan pisau. Kemudian dicampurkan dengan adonan tepung beras. Irisan buah pisang yang telah dilumuri tepung beras kemudian digoreng dengan minyak kelapa. Pisang goreng kemudian diangkat dari kuali dan telah siap disajikan kepada pembeli.

Beberapa orang di desaku beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Mereka menjadi aparatur negara. Ada yang menjadi guru di sekolah-sekolah dan ada juga yang bekerja sebagai pamong di lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Tidak kalah hebatnya satu atau dua orang ada saja yang diterima menjadi anggota TNI. Mereka bertugas sebagai penegak hukum.

Perusahaan-perusahaan swasta terutama yang bergerak di bidang pariwisata juga banyak membutuhkan tenaga kerja. Tetapi mereka terlebih dahulu harus dididik menjadi tenaga terampil di sekolah-sekolah pariwisata yang jumlahnya menjamur di Pulau Bali ini. Mereka jika telah bekerja mendapatkan imbalan berupa uang yang sepadan, sesuai dengan jasa pelayanan yang diberikan kepada tamu-tamu asing/dalam negeri.

Generasi muda di desaku pada masa kini sebagian pernah melanglang buana ke seantero dunia. Mereka bekerja sebagai awak kapal persiar. Tantangan untuk bertualang banyak ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan pelayaran (dalam hal ini kapal pesiar). Mereka bekerja keras, maju terus dan pantang mundur. Pada masa muda mereka berlayar untuk mengumpulkan uang. Ada yang sukses dan ada juga yang gagal seperti halnya lumrah terjadi pada profesi apapun yang ditekuni orang.

Di antara ribuan penduduk di desaku hanya sebagian kecil yang memilih hidup berwiraswasta. Ada yang berwirausaha menjadi pemasok bahan bangunan. Ada juga yang mendirikan biro perjalanan untuk menyediakan angkutan bagi para wisatawan mancanegara dan dalam negeri. Pamanku sendiri melihat kesempatan dan peluang untuk mendirikan usaha percetakan. Wiraswasta membutuhkan kejelian. Bidang pekerjaan ini banyak menanggung resiko kegagalan.

Petani di desaku termasuk petani gurem. Mereka terpaksa harus berjuang di lahan yang sempit. Jarang ada petani yang mempunyai sawah lebih dari 25 are sebagai syarat untuk dapat hidup layak. Dulu puluhan penduduk desaku memilih ikut program transmigrasi. Mereka pindah ke Sulawesi untuk mendapatkan tanah garapan yang lebih luas. Mereka menjual tanah serta harta benda mereka di desa dan berangkat untuk mengubah nasib mereka. Mereka ada yang mampu membeli tanah seluas 1 hektar di daerah transmigrasi. Mereka termasuk transmigran swakarsa karena berangkat dengan biaya sendiri.

Itu puluhan tahun yang silam. Kini petani di desaku menanam bunga sebagai tanaman selingan sehabis bertanam padi. Tanaman bunga selain harganya di pasaran cukup bagus juga membutuhkan lahan yang tidak terlalu luas. Banyak petani yang bisa bertahan hidup (survive) di tanah yang sempit dengan menanam bunga. Bahkan hingga saat ini ada kira-kira dua ratus orang yang menanam bunga sebagai sumber penghidupan mereka. Alam memang adil.

Bukit Jambul adalah kawasan pariwisata terkenal yang terdapat di desaku. Wisatawan mengunjungi tempat ini karena terpaku pada panoramanya yang indah Sejauh mata memandang tampak bukit dan perbukitan di celah-celah angkasa dengan langit yang membiru. Awan tipis menyelimuti udara dan bertebaran ke mana-mana. Di lembah-lembah tampak persawahan yang tertata rapi bertingkat tingkat.

Angin bertiup lembut bila menerpa kulit. Matahari bersinar cerah. Sinarnya yang berkelip-kelip terpantul pada dedaunan dan bunga-bunga tanaman tropis yang tumbuh di sini. Hawa pegunungan yang sejuk menjadi ciri khas kawasan wisata ini. Sungguh sangat eksotis, makanya terkenal ke seluruh penjuru dunia.

Wisatawan mancanegara / dalam negeri banyak yang membawa kamera untuk memotret pemandangan. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang memakai handicam untuk merekam keindahan kawasan ini dan alam di sekelilingnya. Tidak bosan-bosannya mereka menyaksikan kawasan ini dari jarak dekat. Terbersit rasa kagum mereka pada kawasan pariwisata yang menjadi tempat favorit mereka ini.

Di kawasan wisata pedesaan ini ada dua atau tiga restoran yang buka tiap hari, yang menawarkan  aneka rupa hidangan khas. Wisatawan dapat menyantap makanan sambil menikmati minuman yang disajikan.Ketika sedang makan dan minum, mereka dapat melihat hamparan sawah hijau yang terletak di kawasan wisata ini. Kawasan wisata ini adalah ladang emas bagi warga desa. Pemilik restoran menyerap tenaga kerja yang berasal dari warga desa sehingga jumlah pengangguran bisa ditekan.

Para wisatawan singgah di kawasan ini dalam perjalanan menuju Pura Besakih. Mereka mengendarai berbagai macam alat transportasi. Lahan parkir yang tersedia cukup untuk menampung bus-bus pariwisata yang berukuran besar. Mereka beristirahat di sini untuk menghirup udara segar sejenak serta untuk menghilangkan rasa jenuh dalam perjalanan panjang yang mereka harus tempuh agar sampai di tujuan.

Sekarang desaku telah mendapatkan fasilitas dari pemerintah yang berupa aliran listrik PLN, sambungan telepon Telkom, dan saluran air bersih PAM. Dulu penduduk menggunakan lampu templek yang menggunakan bahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan di malam hari. Warga desa mencari air ke mata air yang terdapat di tepi sungai. Jaraknya sangat jauh dari lokasi pemukiman.

Warga desaku sekarang dapat menikmati pelayanan kesehatan pada Puskesmas Cabang Pembantu yang didirikan Departemen Kesehatan RI. Puskesmas Cabang Pembantu di desaku diurus oleh tenaga perawat/bidan yang menyandang status pegawai negeri sipil. Dulu orang-orang di desaku jika sakit harus berobat ke Poliklinik yang terdapat di Desa Nongan. Atau sering terjadi mereka harus berobat ke puskesmas kecamatan.

Pendidikan di desaku dimulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Selanjutnya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang juga terletak di desaku. Jika ingin meneruskan sekolah para siswa dapat masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terletak di kecamatan. Wajib belajar 9 tahun yang didengung-dengungkan pemerintah pusat telah sampai ke desaku.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini