Home » , » Pengalamanku Mendaki Gunung Papandayan Bersama Teman Kuliahku di ITB Andre Hendarman dan Mohammed Ismail Dosen Ohio State University Pada Tahun 1991

Pengalamanku Mendaki Gunung Papandayan Bersama Teman Kuliahku di ITB Andre Hendarman dan Mohammed Ismail Dosen Ohio State University Pada Tahun 1991

Oleh: I Wayan Budiartawan

Tahun 1991 kuliahku di ITB menjelang tamat. Aku di laboratorium ketika itu mempersiapkan rancangan rangkaian elektronika sebagai syarat kelulusanku untuk menjadi insinyur di perguruan tinggi negeri yang didirikan pada masa Belanda pada tahun 1920 itu. Di sana setiap mahasiswa wajib membuat racangan elektronika dan atau program komputer yang benar-benar asli karya cipta sendiri.

Dua mahasiswa keturunan Cina bersama-sama denganku mengerjakan proyek tugas akhir masing-masing di laboratorium yang sama. Mathias Welianto, tadinya Cina totok bermukim di Surabaya lalu pindah menetap di Jakarta. Memet, demikian panggilannya, terjaring masuk ITB melalui jalur penelusuran minat dan bakat. Sedangkan Andre Hendarman sebenarnya orang Cina yang sudah menjadi  penduduk Garut namun di Bandung sudah punya sendiri. Andre, demikian pemuda Cina ini disapa lolos saringan  masuk ITB lewat penelusuran minat dan bakat juga. Aku sendiri  orang Bali asli yang lulus ke kalangan manusia ITB setelah mengikuti ujian tertulis.

Laboratorium tempatku bekerja pada masa itu berdiri berkat bantuan Bank Dunia. Suatu hari pada tahun 1991 ada kunjungan dosen dari Ohio State University yang bernama Mohammed Ismail ke laboratoriumku. Orang keturunan Mesir  ini memberi kuliah  kepada mahasiswa ITB mengenai rangkaian terintegrasi analog yang menjadi keahliannya di Amerika Serikat. Dalam bahasa Inggris aku sempat bercakap-cakap dengan dosen Amerika blasteran Mesir ini tentang Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang terselenggara pada masa pemerintahan Sukarno di Bandung.

Untuk mengisi waktu liburan, temanku Andre Hendarman mengundang Mohammed Ismail untuk berkunjung ke rumahnya di Garut. Aku diajak ikut ke sana bersama orang Mesir yang jenius ini. Kupikir bisa menjadi pengalaman tersendiri berlibur ke Garut daripada tinggal di rumah kos tanpa kegiatan apa-apa  dan membuang waktu sia-sia. Bertiga denganku, Andre Hendarman menyetir  mobil sedan mungil menuju rumahnya  di bilangan Garut membawa dua orang tamunya. Mohammed Ismail duduk di depan sedangkan aku menghempaskan badanku yang kurus di jok belakang mobil buatan Jepang itu. Perjalanan menuju Garut amat melelahkan. Setibanya di Garut, kedua orang tua Andre Hendarman menyambut dengan suka cita.

Di Garut aku dan Mohammed Ismail disuguhi tuan rumah dengan hidangan lezat khas daerah itu.Pertama kali aku diajak teman Cina ke rumahnya. Mungkin hanya untuk menemani dosen Amerika berdarah Mesir ini. Padahal bahasa Inggrisku sering putus-putus. Namun hatiku diselimuti perasaan bahagia juga melihat hidup keseharian teman kuliahku di ITB, orang Cina Garut. Mohammed Ismail pun kelihatannya menyukai alan Garut.
Andre Hendarman orangtuanya sangat berhasil dalam usaha pakaian jadi untuk anak kecil.

Andre Hendarman mengajak aku dan Mohammed Ismail mendaki Gunung  Papandayan. Aku bukan seorang pendaki gunung, badanku tidak pernah terlatih sama sekali untuk kegiatan yang menguras tenaga seperti  mendaki gunung. Aku bersama Andre Hendarman dan Mohammed Ismail kemudian berangkat naik mobil bertolak ke Gunung Papandayan. Pemandangan di sepanjang jalan sangat indah. Mohammed Ismail tergugah melihat asrinya alam pegunungan di sana.
Indonesia is a beautiful country. Demikian kukenang  perkataan sahabatku Mohammed Ismail terngiang-ngiang di telingaku bertahun-tahun sampai hari ini.

Sesampai di kaki Gunung Papandayan,  aku bersama Andre Hendarman dan Mohammed Ismail memulai pendakian tanpa persiapan apa-apa kecuali sarapan pagi ala kadarnya di rumah  orang tua Andre Hendarman di Garut.  Bertiga aku menyusuri lereng Gunung Papandayan dari bawah.  Seingatku, pendakian berlangsung  pelan-pelan. Hawa Gunung Papandayan dingin menusuk kulit. Awan tebal menutupi puncak Gunung Papandayan. Uap belerang alami terpancar di sana-sini tercium hidung. Langkah demi langkah, aku bertiga dengan Andre Hendarman dan Mohammed Ismail akhirnya sampai di puncak Gunung Papandayan. Andre Hendarman  tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan saat-saat yang paling bersejarah itu.

Untuk generasi muda, cintailah negeri Indonesia ini !

Penulis

I Wayan Budiartawan
Alumnus ITB

0 komentar:

Post a Comment