Home » , , » Persis Solo, Pasoepati dan Sebuah Kenangan Singkat

Persis Solo, Pasoepati dan Sebuah Kenangan Singkat

Oleh: Gusti Aditya

Tidak. Saya sedang tidak berpuisi atau membuat cerpen. Kali ini saya ingin berbagi kisah prihal sebuah klub bola yang sekian lama saya campakkan.

Alih-alih mengatakan bahwa saya adalah penggemar bola yang fanatik, bahkan hal paling mendebarkan yang saya alami hanyalah saat terjebak dalam rombongan motor suporter PSIM Yogyakarta ketika saya pulang sekolah. Selain itu, belum ada yang bisa saya banggakan. Mungkin hanya sebatas menonton bola via layar kaca atau adu bacot di kolom komentar Plesetan Bola.

Pun terakhir menonton bola hanyalah di saat saya menginjakkan kaki di jenjang sekolah dasar. Dalam laga Persiba Bantul melawan tim antah berantah yang saya tidak tahu namanya. Itu pun dalam pengawasan orangtua tercinta. Jadi, jangan diharap bisa misuh, berdiri dan ikut bernyanyi pun nampak pekewuh bin riweuh.

Cita-cita saya sejak kecil adalah misuh berjamaah di stadion bola. Hingga usia menginjak kepala dua, paling jauh juga misuh di kosan kawan, itu pun hanya laga piala dunia atau liga Eropa. Pun yang misuh bisa lah dihitung menggunakan jari. Pun lagi, jika suara kami meledak sedikit, ibu kos tak segan-segan mengusir kami ke luar. Saya sih tak masalah, kawan saya yang menghuni kos itu yang pusing bukan kepalang.

Saya lahir di sebuah kota dengan sejarah sepakbola yang sangat kompleks. Kemudian ketika saya perpindah-pindah kota pun kota yang saya lalui jua memiliki cerita yang begitu indah dan mengarah ke sebuah utopia. Basis suporternya juga bisa dibilang sangat luar biasa. Ditambah, usia tim-timnya yang bisa dikatakan tidak lagi muda, remaja, emas bahkan kata matang tak layak untuk disematkan. Namun, kata "simbah" nampaknya layak untuk sekadar melekat.

Ya, boleh lah saya loyal saat mendukung tim luar, yaitu Liverpool. Setengah usia saya sudah dihabiskan untuk menunggu Si Bango menggunakan mahkota. Namun, hingga detik ini nampaknya iru meruoakan sebuah mimpi saja. Next year our year lah pokoknya! Nah, jika mendukung tim tanah air, kalian boleh cap saya sebagai playboy atau tukang selingkuh. Karena tim yang saya dukung terus berubah sesuai tempat tinggal yang kaki saya pijak. Sesuai pepatah bukan, di mana.bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Persis Solo lah yang menjadi pelabuhan hati saya saat ini, setelah melewati berbagai tim seperti PSIM Yogyakarta, Persib Bandung dan Persiba Bantul. Entah lah mengapa, Solo yang terakhir ada di otak saya ketika berumur enam, dengan jahilnya ia masuk kembali dan bermain operan pendek maupun umpan lambung di impuls saraf-saraf di otak saya.

Tidak saya tutupi memang, jalinan kasih yang tersambung kembali antara saya dan tim idola ketika saya kecil itu bermula ketika kerapnya menyinggahi Kota Solo. Ya, menjemput sang idaman hati dalam artian yang sesungguhnya, pacar saya. Ia kuliah di Kota Solo, sedangkan saya di Jogja. Mungkin suratan takdir Tuhan yang bermanifestasi dalam wujud Maradona yang mengirimkan dia kepada saya untuk mencintai kembali Persis Solo.

Mengapa harus Persis? Semacam menambah penderitaan saja.

Mungkin sebagian dari kalian akan bergidik ngeri ketika membayangkan jika takdir menuliskan untuk mencintai klub semenjana semacam Blackburn Rovers di negara The Black Country nun jauh di sana. Tim yang kini hanya ubek di Divisi Champioship saja. Tetapi, tahu kah kalian jika tim ini pernah menjuarai First Division pada musim 1994-1995? Mungkin di tahun itu ayah dan ibu saya sedang memadu kasih sembari melantunkan tembang milik Koes Plus.

Pun sama dengan Persis Solo. Sumpah, saya baru saja googling ketika membuat tulisan ini dan ternyata Persis pernah juara tujuh kali. Alih-alih saya membayangkan rival utama mereka pasti PSIM Yogyakarta yang notebene tak terlalu jauh dari Jogja, ternyata tim sekelas Persija Jakarta lah rival utama yang sudah mendarah daging ketika jaman simbah membedhil Pasukan Nippon. Ya Allah, lagi-lagi saya bersuudzon kepada Allah lantaran tim ini hanya tim di tengah Pulau Jawa, pasti suporter sekelas tarkam saja yang mereka punya. Bhajingan, ternyata Pasoepati, sesuai kepanjangannya, Pasukan Soeporter Solo Sejati, belakangan kreatifitasnya tak kalah dari geliat BCS milik Super Elja, PSS Sleman.

Di tengah romantisme suporter dan tim, rasa-rasanya Pasoepati-lah yang menurut saya bernasib paling malang. Sempat di dekati tim "alien" seperti Pelita Jaya dan Persijatim, akhirnya artefak-artefak dan kepingan fosil Persis Solo yang sempat kolaps dari awal tahun kemerdekaan ditemukan pada medio milenium di sepanjang gagahnya aliran Bengawan Solo. Bak disuntik serum dalam sum-sum tulang yang telah lama membatu, tahun 2006 libido Warga Solo akan kejayaan tim ini kembali menggelora.

Yah, hanya itu yang saya tahu. Memang, saya tak suka hal yang berbau instan, kecuali mie rasa ayam bawang. Mana ada seorang remaja yang rela membuang masa mudanya untuk mendukung sebuah tim yang entah kapan mengangkat sebuah piala? Hari ini bisa saja saya menulis tentang Persipura mengenai kegagahannya dan berharap di akhir musim mereka mencium sebuah trofi. Atau tentang Persib mengenai marque player mereka yang tak mungkin mengarah kepada kata "gagal" dan saya akan teriak-teriak kegirangan. Bah! namun saya tak bisa seperti itu.

Mendukung berarti menyokong dari titik paling nadir. Jika menyokong kala di posisi tertinggi, itu bukan lah mendukung, melainkan menghisap. Terserah jika ada yang seperti itu, bahkan saya sendiri beropini itu adalah hal yang wajar di era modern seperti ini. Bahkan yang tidak wajar adalah mereka, Pasoepati. Sudah tahu tim mereka tidak disorot oleh kamera, namun mereka tetap lantang untuk bernyanyi.

Bodoh memang Pasoepati! Ya, setidaknya hal bodoh mereka adalah sebuah cinta yang berasal dari hati, bukan dari kelamin atau trofi yang hanya digunakan sekadar untuk selfie. Kata simbah, cinta itu buta. Orang menjadi pethuk lantaran cinta. Itulah mereka, yang dibuat gila oleh tim kebanggaan kota yang dibelah oleh rel kereta. Namun, tidak munafik jika mereka tetap menginginkan sebuah piala, hooh to?

Ha nek aku Pasoepati, kowe ameh ngopo? Tetep dulur to, lurd? Maju terus pesepakbolaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Panjang umur, sehat selalu dan semoga melenggang mulus ke divisi satu bareng-bareng, yo!

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini