Home » , , » Pribumi? Aku, lah!

Pribumi? Aku, lah!

Sumber Gambar: Kaskus
Oleh: Gusti Aditya

Pertama-tama saya ingin merujuk pada pengertian yang KBBI berikan. Pribumi berarti 'penghuni asli' atau lebih lengkapnya 'yang berasal dari tempat yang bersangkutan'. Lebih enaknya kita bandingkan dengan makluk hidup lain; jika tanaman itu berarti galur murni, sedangkan hewan itu berarti spesies yang genetiknya tidak berubah.

Namun adakah yang seperti itu di negara ini? Menengok agama saja kita sudah mengadopsi ajaran samawi yang notabene berasal dari 'Barat'. Ada juga agama yang berasal dari wilayah 'Timur' dan ajaran Tao dari Negri Tirai Bambu. Sama halnya dengan bahasa, apakah kita menggunakan prodak asli dari teritori Sabang hingga Merauke? Apakah murni penyerapan dari bahasa daerah saja? Yakin Yunani dan Cina tidak turut andil?

Jika kita memaksakan dan mencari orang-orang Indonesia yang layak dan tak layak disebut pribumi, maka semua hanya akan merujuk kepada chaos yang berkepanjangan dan akan menjadi penyakit abadi bangsa ini. Hanya para bigot yang meniupkan angkara murka untuk mencari yang otentik dan tidak otentik bangsa ini.

Hitler dengan Nazi-nya membumihanguskan para Yahudi yang entah bersalah atau tidak. Soeharto dengan rezim Orde Barunya, meneriaki "kamu PKI" setelah itu musnah dan hilang. Juga Polpot dengan Khmer Merah-nya menggenosida Masyarakat Kamboja dengan hina. Itulah mereka, contoh dari mereka yang mencari keontentikan manusia.

Jika boleh berpendapat, tidak ada yang pantas mendapat gelar pribumi secara utuh. Menengok ajaran Filsafat Timur, permasalahan seperti ini diselesaikan dengan pandangan sederhana, bahwa semua merupakan bagian dari semua. Seluruh alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang saling bertaut erat, dan tak terpisahkan.

Beberapa waktu yang lalu terdapat pemandangan apik. Para pria berbaju putih panjang dan wanita yang menutup kepalanya, beberapa hanya memperlihatkan mata saja, menempeli stiker bertuliskan "pribumi". Mengapa mereka menggunakan pakaian seperti itu? Mengapa tidak menggunakan kebaya atau koteka saja? Sudah lah.

Dalam tulisan ini saya tak ingin membahas politik, walau aksi 02743131313 adalah imbas dari Pilkada di ibu kota nun jauh sana. Satu pasangan yang keturunan Tionghoa secara sadis dicap kafeer dan non-pribumi. Lebih menyeramkannya, mereka dijegal oleh ayat-ayat suci Agama Abrahamik. Dari mana asalnya Agama Abrahamik? Mengapa tidak dijegal oleh hukum adat setempat saja jika konteknya memperebutkan pribumi yang seutuhnya?

Pertanyaan saya, mengapa mereka yang berpakaian ala Timur Tengah dicap sebagai pribumi? Mengapa tidak Kebaya yang merupakan prodak Cina dan peranakan lainnya? Atau-mengapa tidak Batik yang motifnya merupakan motif peranakan cina-tidak disebut dengan pribumi juga? Kemarin saya menggunakan batik, apakah saya jua merupakan non-pribumi?

Kini setiap sudut ibukota dipenuhi oleh stiker pribumi berbau Arab. Ini bukan soal politik? Baik lah. Di negri dengan nyiur yang melambai ini, nampaknya, mereka, yang ingin mengontentikkan manusia di bumi pertiwi ini, bebas mengaduk-aduk isu-isu yang membuat kita terpecah belah. Jadi, jika ini bukan masalah pulitik, ya tinggal menunggu Indonesia menjadi negara nasional ketiga dan disandingkan dengan Majapahit yang karam karena perang saudara.

Hegemoni terus diluncurkan kepada satu arah, arah yang satunya hanyalah diam karena dia tahu bahwa hal ini menguntungkan dia. Barangkali satu dua suara ia peroleh sebagai tambahan. Tetapi, manusia seperti Al-Khatath tidak lah berhenti sampai sini. Pancasila ia bunuh, multikultural ia kencingi. Jadi, Garuda sayapnya sudah pretel. Di dada dia, 5 simbol barangkali sudah musnah menjadi 1 atau berapa entah saya tak faham.

Sudah lah, kita doakan saja negara ini agar supaya anak cucu kita betapa gagahnya Soekarno. Betapa indahnya pakaian adat Papua. Betapa agungnya sistem adat Minang. Jika sudah berdoa, mari kita berjuang, karena kata bapak, musuh kita yang sesungguhnya adalah bangsa kita sendiri.

___________________________________________________

Referensi:

Terinspirasi dari cuitan Made Supriatma di Facebook pribadi beliau.

https://rumahfilsafat.com/2016/11/09/manusia-kosmopolis/

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini