Home » , , , , » Selayang Pandang Filsafat Sosial

Selayang Pandang Filsafat Sosial

Sumber Gambar: Pinterest
Oleh: Alarumba Agamsena

Manusia adalah makhluk sosial, segala hal dalam keberadaan manusia di mulai sejak lahir; bertahan, tumbuh dan berkembang dalam segala aspek adalah berkat peran aktif, bantuan, pertolongan, dan kerjasama dari sesamanya. Filsafat Sosial mencoba untuk menemukan dasar hukum yang berjalan dalam sebuah kelompok, dan pengaruh dari hubungan antar manusia yang bertujuan untuk menemukan pemahaman tentang hakikat keberadaan manusia itu sendiri.

Dalam kebudayaan barat, kita bisa menemukan jejak dari Filsafat Sosial dalam tulisan Plato yang berjudul “Republic”. Plato membuat gambaran tentang Masyarakat Ideal (Utopia), dia mengklasifikasikan masyarakat dalam tiga kategori berdasarkan bakat mereka, yaitu sebagai  Pejabat, Ksatria dan pekerja. Plato mengungkapkan bahwa Filsuf haruslah menjadi rajanya. Sementara pemikiran Aristoteles adalah objektif dan dan realitas, baginya tujuan utama sebuah negara adalah untuk menghasilkan masyarakat yang baik, yang bisa melaksanakan tugas-tugas etis mereka dengan cara yang lebih baik.

Perkembangan yang cepat dalam fisika, matematika dan mekanik di abad ke-17 memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap Filsafat Sosial, ini menimbulkan kemunduran dalam institusi sosial dan prinsip dasar untuk membangun masyarakat. Di abad ke-19 dan ke-20, Filsafat Sosial menjadi lebih komprehensif dan sistematis, tujuannya untuk memberikan pandangan dasar bagi masyarakat tentang  kebutuhan esensial dalam kebersatuan sosial umat manusia.

Pengeertian Filsafat Sosial

Berbicara tentang pengertian filsafat sosial, ada banyak pendapat berkaitan dengan definisi istilah tersebut. Robert N. Beck, salah satunya, memberi batasan bahwa filsafat sosial merupakan usaha filsuf untuk memberi bimbingan dan jawaban untuk dapat mengatasi masalah-masalah sosial. Bentuknya adalah kritik terhadap proses sosial dengan menunjukkan prinsip-prinsip yang mendasari struktur dan fungsi sosial. Filsafat sosial secara singkat dapat juga diartikan sebagai filsafat yang membicarakan hubungan sosial manusia atau kehidupan bersama manusia dalam keseluruhan dimensinya. Filsafat sosial mengupas persoalan manusia dalam hubungannya satu sama lain dalam kesatuan antar manusia dan nilai-nilai dasar yang mengikat kesatuan itu sehingga menjadi masyarakat atau kesatuan sosial. Filsafat sosial juga membahas bagaimana kesatuan sosial itu dapat dipertahankan dan direkayasa serta sejauhmana keterbatasan dan prospek kesatuan sosial tersebut dalam mengembangkan dirinya (Sudiarja, 1995: 2).

Filsafat sosial adalah ontologi dari segala sesuatu yang bersifat sosial; artinya: intisari dari hidup sosial itu dikembalikan ke pokok “ada” manusia (Paassen, t.t.: 7).

Filsafat sosial dalam pandangan R.F. Beerling dibedakan menjadi tiga corak, yaitu filsafat sosial transendental, filsafat sosial normatif dan filsafat sosial kritis. Filsafat sosial transendental memfokuskan pembicaraan pada asas-asas atau syarat hakiki yang mendukung persekutuan hidup dalam keadaannya yang wajar. Keberhasilan mengungkap asas atau syarat tersebut merupakan perolehan jawaban terhadap pertanyaan apakah yang memungkinkan adanya persekutuan hidup (masyarakat), dan apakah mungkin dapat dipahami sebagai hal-hal yang wajar. Filsafat sosial normatif adalah filsafat sosial yang memusatkan perhatian pada pertanyaan: norma-norma atau nilai-nilai tertinggi manakah yang harus dipenuhi oleh masyarakat agar berhak disebut masyarakat. Filsafat sosial kritis adalah filsafat sosial yang menjadikan tatanan yang ada sebagai titik tolak pembahasan dan menyelidikinya secara mendalam, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu baik evolusioner maupun revolusioner yang setelah dibuktikan kebenarannya akan menyebabkan tatanan tersebut berubah menjadi tatanan yang lain (Beerling, 1988: 138).

Perbedaan Filsafat Sosial dan Ilmu Sosial

Filsafat sosial dan ilmu sosial memiliki persamaan pada objek material pembahasannya yakni faktisitas sosial. Perbedaan antara keduanya terletak pada pendekatan yang digunakan. Secara garis besar perbedaan pendekatan antara filsafat sosial dan ilmu sosial tergambar pada bagan berikut.

Memahami kenyataan sosial dengan melibatkan refleksi pengalaman manusia sendiri yang hidup dalam sosialitas itu sebagai bagiannya Memahami kenyataan sosial menurut aspek objektifnya saja, bertumpu pada data luar yang diukur secara kuantitatif (statistik, grafik, riset lapangan, angket,dsb).

Memahami kenyataan sosial dalam totalitas dan nilainya yang tuntas, menyentuh persoalan yang mendasar dan menyeluruh bersifat parsial, hanya menyangkut suatu bidang khusus. Mencoba memasuki dimensi sosial dari eksistensi manusia secara mendalam, menyelidiki makna nilai-nilainya, merumus-kan gambaran manusia yang utuh melalui pendekatan intuitif pendekatan objektif empiris.

Istilah-istilah dalam Filsafat Sosial

Filsafat sosial dalam beberapa pengertian sering disamakan pengertiannya dengan beberapa istilah berikut.

1. Kritik sosial

Filsafat sosial seperti halnya juga ilmu-ilmu sosial bekerja dalam batas-batas kemungkinan dan kemampuan pengetahuan. Filsafat bekerja secara kritis, artinya dalam memahami sosialitas manusia tersebut Filsafat mengandalkan kemampuan pengetahuan kodrati manusia yang terbatas. Hal iniperlu ditekankan agar Filsafat bekerja secara kritis dan tahu diri. Dengan demikian filsafat diharapkan tidak berbicara secara berlebihan mengenai hal-hal yang tidak diketahui atau tidak mungkin diketahui. Filsafat sosial mengupas fakta sosial dalam batas-batas dan prospek pengembangan sosial yang dimungkinkan. Karena sifatnya yang kritis, yakni tahu batas ini, maka filsafat sosial juga disebut „kritik sosial“. Corak yang demikian ini misalnya tampak pada pemikiran-pemikiran Mazhab Frankfurt.

2. Futurologi

Selain Filsafat sosial mengupas fakta-fakta sosial dalam batas-batas dan prospek yang dimungkinkan, Filsafat sosial juga terbuka terhadap kemungkinan pengembangan masyarakat ke masa depan. Hal ini dikarenakan bahwa fakta sosial bukanlah suatu hal yang statis. Fakta sosial senantiasa dinamis serta bisa berubah dan diubah. Dalam arti inilah filsafat sosial bisa juga disebut „futurologi“, yang tentu saja harus dibedakan dari utopia.

3. Etika sosial

Perkembangan masyarakat ke masa depan diproyeksikan atas dasar ciri-ciri hakiki yang ada pada manusia serta kemungkinan-kemungkinan hubungan manusia yang lebih baik berdasarkan hakikat manusia tersebut. Atas dasar ini maka Filsafat sosial diharapkan bersifat emansipatoris, yakni mengarah pada pemerdekaan manusia dari belenggu-belenggu kultural-empiris. Filsafat sosial tidak hanya melukiskan kenyataan dan sifat-sifat dasar sosialitas manusia, tetapi lebih dari itu ia juga harus menyiasati dan mengolah kenyataan social tersebut kea rah pengembangannya yang optimal dan yang masih perlu diwujudkan. Dalam arti inilah Filsafat sosial juga disebut sebagai “etika sosial". Disebut etika sosial karena pembicaraannya tidak terlepas dari persoalan norma dan tingkah laku sosial.

4. Sosiologi filosofis

Filsafat sosial tidak salah ketika ia disebut sebagai sosiologi filsafat, meskipun hal itu tidak lazim. Filsafat bukan merupakan mata pengetahuan di luar atau di samping sosiologi empiris. Filsafat lebih merupakan suatu tambahan perspektif yang lebih komprehensif dan lengkap (Veeger, 1993: 243). Filsafat sosial bukanlah suatu perspektif yang berlainan sama sekali atau mungkin bersifat kontradiktoris. Filsafat sosial muncul dalam bentuk perspektif yang lebih luas yang menjangkau perspektif-perspektif yang lebih sempit. Sebagai contoh, persoalan tentang kebebasan manusia tidak akan ditanyakan kepada sosiologi empiris, tetapi harus ditanyakan pada filsafat sosial.

5. Filsafat manusia dalam dimensi sosialnya

Filsafat sosial memang erat kaitannya dengan filsafat manusia. Pusat perhatian filsafat sosial pada akhirnya akan bermuara pada manusia itu sendiri. Kehidupan sosial dalam segala aspeknya senantiasa dipandang dalam kaitannya dengan hakikat dan martabat manusia. Karena itulah filsafat sosial juga dapat disebut sebagai filsafat manusia dalam dimensi sosialnya.

Persoalan-Persoalan Dalam Filsafat Sosial

Robert N. Beck melihat ada enam hal yang harus diperhatikan dalam pembahasan filsafat sosial (Beck, 1967: 3). Enam hal yang dimaksud adalah sebagai berikut.
  1. Usaha untuk memahami hakikat persekutuan hidup. Aspek hakikat manusia dilihat dalam hubungannya dengan masyarakat dan institusi-insitusinya.
  2. Masalah justifikasi nilai. Persekutuan hidup merefleksikan seperangkat nilai-nilai yang mengarahkan proses sosial. Nilai-nilai ini membutuhkan klarifikasi dan justifikasi.
  3. Kekuasaan dan kewenangan negara. Proses sosial harus dilihat dengan mengacu pada pengendalian sarana-sarana (otoritas) dan juga tujuan-tujuan (nilai-nilai).
  4. Hukum dan hak. Hukum di satu sisi merupakan agen kontrol sosial tetapi di sisi lain juga memberikan kekuasaan dan hak-hak istimewa tertentu pada individu.
  5. Kewajiban politik (political obligation). Pertanyaan-pertanyaan muncul berkaitan dengan kewajiban individu terhadap masyarakat dan negara, dan juga kewajiban masyarakat dan negara terhadap individu. Apa hakikat kewajiban tersebut, apakah ia bersifat membatasi, dan adakah kondisi yang menyebabkan kewajibat tersebut gugur.
  6. Keadilan. Kebanyakan filsafat sosial diarahkan pada cita-cita masyarakat ini.
___________________________________________________

Referensi:

http://bunecah2.blogspot.co.id/2008/04/mengenal-filsafat-sosial.html

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini