Home » » Sepertinya Amnesia

Sepertinya Amnesia

Oleh: Gusti Aditya

"Aku sayang kamu."

"Aku juga," jawabku.

"Aku yang lebih cinta. Iya kan?" Ia menjambak rambutku.

"Hahaha, iya."

Begitulah percakapan yang hampir sama setiap aku bertemu dia. Tempatnya juga sama, di Terminal Kota dan pakaian kami juga sama. Aku menggunakan jaket jeans beserta kaos hitam dia memakai baju yang aku suka. Kali ini adalah pertemuanku yang ke empat bersama dia. Aku ingat betul saat pertama kali berjumpa dengan dia; senyumnya tak ada!

Dia memandang jauh seseorang yang berteriak memanggil penumpang dengan menyebut tujuannya. Matanya besar dengan kelopak yang mengembang. Bulu matanya lentik dengan alis yang tak tersentuh sebuah pensil. Aku suka matanya, terlebih bibirnya. Aku suka dia saat tersenyum. Manis. Namun itu semua hanya terjadi ketika dia bergaya di depan kamera.

Aku terus-terusan memandang dia. Mega yang berwarna jingga menerobos celah terkecil rambutnya yang bergelombang ke bawah. Entah bagaimana proses datangnya cinta. Dari matanya yang indah atau bibirnya yang begitu segar? Entah. Aku mencintai dia sebanyak kami berjumpa. Aku harus memulai sampai terjadi percekapan seperti di awal.

"Kamu kenapa?"

"Iya? Maksudnya?"

"Memandang aku seperti itu."

"Iya. Aku suka caramu memandang sesuatu."

"Apa, sih?" Aku tau dia terkesiap, tetapi wajahnya memperlihatkan sebuah sesuatu yang biasa.

Hari ini aku menjemputnya untuk yang ke empat, sama dengan jumlah kami berjumpa. Kami tinggal di Semarang, namun dia kuliah di Purwokerto. Aku selalu senang saat melewatkan perjalanan menjemput dia. Walau masalah bergelayut di pundak, semua tak terasa jika tujuanku adalah bertemu pacarku.

"Katanya kamu cinta sama aku? Kok seperti itu?"

"Kapan aku bilang seperti itu?" Wajahnya berbinar dan memandangku lama.

"Barusan. Tidak ada lima menit yang lalu."

"Aku bilang apa tadi?"

"Saat kamu bilang cinta."

"Iya. Bagaimana caraku tadi?"

"Entah."

Dia diam lagi. Tak ada percakapan selanjutnya. Aku mengambil ponsel dan memainkannya. Tiba-tiba dia merangkul tanganku. "Aku mencintaimu," katanya pelan dan menenggelamkan wajahnya di tanganku.

Aku diam. Aku tak membalas kata-katanya. Aku hanya mengusap-usap tangannya dan mencium kepalanya. Tiba-tiba dia menatapku. Tatapannya tajam. "Kamu cinta aku atau tidak?"

"I... Iya."

"Iya apa?"

"Yang tadi."

"Ah. Yang penting aku yang lebih besar cintanya," ia menenggelamkan kembali kepalanya di lenganku.

"Iya, sayang."

"Iya apa?"

"Yang tadi."

Ia kembali terdiam seribu bahasa. "Kamu kenapa?" Tanyaku kepada dia. Tak ada jawaban dan aku ulangi kembali pertanyaanku. "Sayang, kamu kenapa?"

"Apa?"

"Kamu kenapa diam saja?"

"Kamu kira aku suka dicintai orang sepertimu?" Ia sedikit membentak dan melepas gandengan tangan kami. "Mencintaimu itu susah. Bikin kesel."

"Iya. Aku tahu."

"Tarik saja semua cintamu. Aku sudah muak."

"Iya. Aku meminta maaf kepadamu."

Aku diam. Dia juga. Kini dia menatap kaca bis yang memantulkan langit senja. Kini terminal sangat sepi. Bahkan tak ada lagi yang berteriak. Tak ada lagi bunyi klakson dan mesin bis yang meraung-raung.

"Sayang?" Ia memanggilku.

"Iya, sayang?"

"Aku cinta kamu. Jauh lebih besar dari rasa cintamu kepadaku."

"Aku percaya itu, sayang."

"Apakah kamu cinta kepadaku?"

"Iya."

"Iya apa?"

"Yang tadi."

"Seberapa besar?"

"Besar. Tak lebih besar dari cintamu kepadaku."

Ia kembali diam. Wajahnya semakin masam. "Ada apa?" Tanyaku untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada jawaban. "Sayang, ada apa?"

"Kamu cinta tidak sama aku?"

"Iya, sayang. Aku juga."

"Cinta atau tidak?"

"Iya, sayang."

"Iya apa?"

"Kamu ini kenapa?"

"Kamu yang kenapa!" Aku diam lagi. Bis yang hendak kami naiki datang. Dia bergegas naik dan mencari bangku yang masih kosong. Kemudian dia menatap jendela dan membuang muka kepadaku.

Aku kira dia mengidap penyakit semacam amnesia atau bagaimana, aku tak paham. Semua awalnya baik-baik dan ungkapan cinta lepas begitu saja dari mulutnya, namun setelah waktu berselang, dia diam dan bungkam seakan menunjukan raut wajah kecewa sekaligus marah.

Cahaya senja masuk ke dalam jendela bis yang kami naiki. Cahaya senja seakan mengejek kami. Senja seakan berkata; aku yang sendiri saja bisa bahagia, kalian yang berpacaran mengapa bungkam?

Namun inilah sebuah fakta. Empat pertemuan kami lalui dengan alur yang sama. Tak ada yang ubah. Dia manja, menunjukan kasih sayangnya dan sifat centilnya saat bersamaku. Lalu amarah datang dan raut wajahnya menjadi begitu gelap.

Berkali aku tanya, engkau kenapa, dia menjawab tidak apa-apa. Kemudian dia menyatakan bahwa dia mencintaiku. Aku senyum dan pasti selalu berkata 'aku juga'. Kemudian dia kembali bungkam.

ꝋꝋꝋ

Saat itu, suatu hari di Bulan Agustus, aku menjemputnya setelah sekian lama tak jumpa. Ini berarti adalah pertemuanku yang kelima bersama dia.

Dia datang ditemani cahaya yang berkilat. Kembali, tanpa senyum. Dia duduk di sampingku, merangkul lenganku dan berkata, "aku cinta kepadamu."

"Aku juga."

"Juga apa?" Ia menatapku.

"Itu tadi."

Kembali, dia bungkam seribu bahasa. Entahlah aku salah apa.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini