Home » » Surat untuk Ala #1

Surat untuk Ala #1

Oleh: Gusti Aditya

Hai, apa kabar Ala? Semoga baik. Semoga masih dalam lindungan Tuhanmu.

Kau masih ingat aku? Bagaimana ingat jika bertemu saja tidak pernah, ya? Ah, tapi kayaknya kita pernah bertemu, deh. Bukan di bumi. Bukan juga di sebuah tempat yang dapat terdeteksi oleh waktu. Di mana, ya, La? Ah, pokoknya kita pernah bertemu. Titik!

Alaini yang manis, pernah kau mendengar kisah tentang hutan? Di mana di dalamnya terdapat semak belukar, pohon-pohon besar dan tentu saja hewan-hewan liar. Kisah tentang hutan yang ditinggal sang raja, La. Hutan yang hampa. Selalu menghasilkan udara, tanpa mengerti hal tersebut untuk apa.

Alaini ku yang ayu, diriku kini seperti sang hutan. Menghasilkan gelora-gelora cinta, namun aku tak paham untuk siapa, bagaimana caranya dan untuk apa. Alaini ku yang sendu, aku harap engkau tidak mengadu kepada burung-burung yang terbang di udara. Bisa bahaya. Bahaya jika kabar cinta sampai ke telinga sang raja. Bisa-bisa si pohon yang bernapas sudah mengerti akan makna. Sedangkan aku, masih merasakan cinta tanpa tahu untuk siapa.

Namun, Ala, semenjak bertemu denganmu, aku sudah mulai memaknai semua. Dahulu aku benci senja, karena dia lah sang penghantar kita kepada malam. Namun kini aku berbalik mencintai senja. Warna keemasan yang elok, cahaya yang dibiaskan oleh genangan air selepas hujan dan nyiur yang menghalangi lajunya, adalah hal indah yang tak terkira setelah dirimu. Setelah senyum manismu kala itu, di tempat yang entah.

Bahkan sang malam saja kini aku hormati dengan segenap cinta dan kasih, walau sebelumnya aku kerap meludahi. Aku suka kala gelap, ribuan bintang bertaburan, jika ada yang terjatuh, itu tandanya aku dapat memohon. Aku selalu bermohon, bahwa yang jatuh semoga bukan sang bintang. Atau sang bintang terjatuh karena malu dengan adanya keberadaanmu kini di dunia? Kamu, sih, terlalu cantik.

Ala, Nimas Alaini, tiada kata selain 'terimakasih' yang ingin aku ucap untukmu. Hari-hariku selalu kelabu, sebelum engkau datang menggerogoti itu. Kau membuang seluruh kelabu. Kau hadirkan rasa rindu. Haha, rindu, sudah lama aku tak merasakan itu. Terakhir aku merasakan rindu itu saat aku bersimpuh lutut di hadapan pusara ayahku.

Menangis? Tidak, Ala, karena menurutku, menangis adalah hal yang sia-sia. Menangis tidak dapat mengembalikan seperti sedia kala. Eh, Ala, siapa yang mau kembali ke masa lampau jika masa kini aku sudah merasakan suka yang tak terkira. Masa kini aku telah bertemu denganmu. Biarlah masa lampau kita ingat, kita jalani saja masa kini untuk mempersiapkan masa depan. Ya, Ala?

Alaini, Nimas Alaini,
Aku akhiri dahulu surat untukmu yang aku susun seringan yang aku mampu. Ringan agar kau dapat mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku rasakan semua yang engkau berikan. Engkau berikan aku sebuah rasa yang tak mungkin aku abaikan.

Ala, Nimas Alaini,
Jika engkau tidak sibuk menyisiri rambutmu yang indah bergelombang, jika kau tak sedang sibuk menanam sayur-sayuran segar di halaman rumah atau kau sedang tidak sibuk membaca buku-buku mu yang berjubel di pojok kamarmu itu, mau kah engkau membalas surat ini? Surat yang terlalu sederhana untuk dirimu yang begitu sempurna.

Hormat ku untuk orangtua yang melahirkan dirimu,
Baswara.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini