Home » » Balasan Surat dari Pria Malang

Balasan Surat dari Pria Malang

Selamat malam, pagi, siang atau sore. Terserah. Sesuaikan saja saat engkau membaca surat ini.

Oh ya, beberapa hari yang lalu aku telah membaca sepucuk surat darimu yang tak jelas engkau berikan untuk siapa. Jika untukku, mengapa menggunakan kata "kami"? Tidak kah lebih baik kata "kita" yang layak mewakili? Sudah lah, itu tidak penting. Yang terpenting ialah, aku jadi tahu bagaimana caramu memandangku.

Begini, masalah puisi, tahukah engkau bahwa puisi-puisi yang aku kirimkan kepadamu adalah sebuah ikatan yang saling terkait satu sama lain? Bulan-bulan pertama aku mbribik kamu, aku menulis seperti ini:

Aku baru pulang dari sebuah negeri antah berantah
Dalam perjalanan aku bertemu pria kuat,
Namun sepertinya pria itu sedang sakit lantaran perutnya banyak kotakannya
Dia berkata bahwa itu adalah tanda kejantanan
Aku langsung menutup mata,
Setahuku kejantanan hanyalah satu, di bagian tertentu dari tubuh lelaki
Ia mengelak dan berkata bukan seperti apa yang aku kira
Aku menjawab, "Aku ada urusan, pergilah!"
Sontak, pria itu kaget dan tertawa,
Aku hendak ada urusan apa, tanyanya
"Aku ingin segera pulang,
Menulis sebuah cerita untuk seorang wanita
Menulis kisah dusta untuk menghibur dia
Barangkali kamu akan aku masukan cerita
Sebagai pria gagah yang menghalangi langkah seorang pria yang sedang kasmaran
Jadi,
Menyingkirlah
Atau kau tak mendapatkan peran dari ceritaku nanti."

Aku tak salah jika puisi ini aku beri untukmu. Jika wanita lain yang aku beri, barangkali tombol "delete" lah yang akan ia tuju. Berbeda denganmu, secarik kertas dan sebuah senyuman lah yang engkau berikan untuk puisi wagu itu. Di bulan berikutnya, kala aku tambah penasaran akan manisnya dirimu, aku menulis seperti ini:

Siapa dia?
Entah
Siapa dia?
Ah, dia namanya Threshthie

Masih mengenai Threshthie,
Patgulipat aku memperhatikannya
Ada sledri nyelip di giginya

Sungguh, aku kira engkau mengerti apa maksud dari puisiku itu, ternyata tidak. Beruntungnya engkau selalu memaknai puisi yang aku beri. Itu membuatku senang. Walau aku tak dapat melihat wajahku sendiri, namun aku yakin jika saat membaca suratmu itu aku sedang tersenyum. Barangkali aku masih tersenyum hingga detik ini, detik kala aku mengetik balasan dari suratmu tempo hari yang lalu.

Puisi yang aku beri selalu nyambung. Ada kisah yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin berkata jika hadirmu dalam kehidupanku, selalu berhasil menghasilkan sebuah kisah yang membekas dalam pikiranku. Juga begitu denganmu, aku ingin selalu memberikan kesan, bahwa saat matamu terbuka di pagi hari, adalah sebuah anugrah tak terkira bagi pria malang ini.

Berbicara kata "senja" dan "rindu" yang engkau permasalahkan, aku memang kurang suka dengan kata itu. Aku bukan tipikal orang yang gemar berpuisi dengan berbagai majas. Aku tak bisa dan nanti malah terkesan memaksakan. Ya sudah, aku ganti kata "entah" saja. Aku suka bukan lantaran hadirmu yang serba entah, tetapi kata "entah" ini memiliki sebuah kandungan makna dan sebuah pembuktian; akan aku rubah keentahan dalam dirimu, menjadi sebuah kepastian dalam masa depan di hidupku.

Aku tidak romantis saat menyatakan cinta, katamu? Ha ha. Bahkan sejak puisiku yang pertama, menurutku itu adalah sebuah pernyataan yang sempurna untuk engkau jawab "Iya, aku mau jadi pacarmu". Aku tak memikirkan tanggal cantik dan cara yang unik, yang terpenting adalah engkau mau. Ya, percuma aku merencanakan semua, namun engkau malah menolaknya. Jadi, tidak apa ya tidak romantis? Yang terpenting, selanjutnya akan aku buat seromantis mungkin kehidupanmu yang memilih pria malang ini. Semoga engkau selalu berkenan. Semoga kau tak menulis sebuah postingan "Menyesal datangnya belakangan".

Tempat pertama kita bertemu, ya? Di stasiun kereta dan aku sedang menggambar, ya? Ha ha, Tresti ku yang jelita, tahu kah saat itu pria malangmu ini sedang dilanda sebuah kegelisahan yang maha berat? Lebih berat dari mengerjakan PR Matematika, lebih mendebarkan dari terjun bebas dari sebuah tebing (aku belum pernah, sih). Melihat wajahmu.....Ah, sebuah inspirasi menulis puisi langsung aku dapat. Melihat gigimu yang ada sledrinya.....jadi lah puisi di atas itu. He he, bercanda, seriusnya adalah pada saat itu aku sangat grogi luar biasa kala mata besarmu memandangku.

Aku kagum dengamu. Masuk sebuah burjonan, mungkin bagi sebagian wanita parlente adalah sebuah aib. Berbeda denganmu, engkau berani menaruh mahkota Kraton mu itu hanya untuk menyantap semangkuk indomi bersama pria malang ini. Bahkan engkau tak berfikir bagaimana jika engkau diusir dari kesultanan karena menyeduh kuah mie instan langsung dari mangkuknya. Urusan pria lain yang menatap kecantikanmu itu, biarlah itu urusan mereka, anggap saja rejeki bagi mereka. Selagi mereka tidak menyentuhmu atau mengajakmu berbicara, aku tak akan mengirim gemuruh dari Yogyakarta menuju Surakarta.

Prihal kawanmu yang membenciku, aku sudah tak ambil pusing. Kau tahu nyamuk, kan? Yang terus berdesing dan kemudian menyedot darah? Ya mereka seperti itu. Apa lagi? Tidak ada. Mereka hanya nyinyir tanpa tahu arah yang akan mereka pijak. Tentang harapanmu menjadi sebuah rumah, bahkan menurutku engkau lebih. Engkau adalah seorang wanita yang bisa membuatku berteduh kala hujan, bertahan kala terik dan menenangkanku kala badai. Jangan bilang dirimu adalah "rumah" lagi, aku tak suka, karena aku menganggapmu adalah seorang ibu pertiwi yang selalu memberikan kasih tiada henti.

Tresti, menatap matamu yang indah dan bulat bukanlah hobiku, namun menjadi sebuah kewajiban kala aku tahu ada surga yang tersimpan di balik kelopak matamu itu. Jika aku menatap tumpukan buku humaniora dengan tatapan yang aneh, tenang saja, aku tak mungkin mengirimkan puisi setiap pagi untuk sebuah buku yang tak memiliki bulu mata yang lentik seperti milikmu itu.

Tresti ku yang sendu, denganmu aku bisa merasakan sebuah peradaban baru. Yang lebih hebat dari Alexander dan lebih cerdas dari Aristoteles. Aku bisa merasakan aroma napas baru yang menyegarkan. Sebuah pemikiran baru yang mendekontruksi pemikiran lama. Aku bisa berkata seperti ini lantaran aku takut engkau cubit karena gemas. He he.

Tresti, gadis manis yang sedang membaca surat dari pria malang, dengan surat ini aku sisipkan sebuah kasih sayang. Aku tak bisa seperti Seno Gumira yang menyisipkan senja untuk Alina, pun tidak mampu membuatkanmu candi seperti yang dilakukan Bandung Bondowoso untuk Roro Jonggrang. Namun, aku menyelipkan sebuah gambar sederhana tentang kecantikanmu. Tentang kesenduan wajah manismu itu. Semoga engkau menerimanya dengan lengkap.


Maaf jika aku tidak seekpresif dirimu kala membalas suratmu yang kini sedang aku baca berulangkali.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini