Home » » Metode Dialektis George Wilhelm Friedrich Hegel

Metode Dialektis George Wilhelm Friedrich Hegel

Pendahuluan

ꝋ Orangnya

Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman barat daya. Pengaruhnya sangat luas terhadap para penulis dari berbagai posisi, termasuk para pengagumnya (F. H. Bradley, Sartre, Hans Küng, Bruno Bauer, Max Stirner, Karl Marx), dan mereka yang menentangnya (Kierkegaard, Schopenhauer, Nietzsche, Heidegger, Schelling).

Schelling dan juga tokoh-tokoh Romantik lainnya pernah di mengatakan bahwa makna kehidupan yang paling dalam ada pada apa yang mereka sebut “Ruh Dunia”. Pada 1816 ia diangkat menjadi guru besar di Universitas Berlin

ꝋ Filsafatnya

Hegel anggap bahwa filsafatnya sebagai puncak sejarah. Dalam pengertian ini, dia dapat membicarakan tentaang kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa dia mengacu pada kehidupan manusia, pikiran manusia, dan kebudayaan manusia, “itu membuat ruh ini tidak terlalu menakutkan. Ia tidak lagi diam menanti-nanti seperti “kecerdasan yang tertidur di bebatuan dan pepohonan,”. sistemya yang palin utuh termuat dalam Enzyclopadie. Baik bukunya tentang “logika” maupun tentang “hukum” dijadikan satu bagian.

ꝋ Metodenya

Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran)dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empiris indrawi. Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair. Pengingkaran adalah konsep pengertian pertama (pengiyaan) dilawanartikan, sehingga muncul konsep pengertian kedua yang kosong, formal, tak tentu, dan tak terbatas.

Menurut Hegel, dalam konsep kedua sesungguhnya tersimpan pengertian dari konsep yang pertama. Konsep pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar kehilangan ketegasan dan mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan menuju kebenaran) maka kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan saling mengevaluasi. Kesatuan kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi dua konsep pengertian yang saling berlawanan agar tercipta konsep baru yang lebih ideal.

Langkah Pertama: Pengiaan

Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empris indrawi. Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencairan.

Langkah Kedua: Pengingkaran

Pengingkaran adalah konsep pengertian pertama (pengiyaan) dilawanartikan, sehingga muncul konsep pengertian kedua yang kosong, formal, tak tentu, dan tak terbatas. Menurut Hegel, dalam konsep kedua sesungguhnya tersimpan pengertian dari konsep yang pertama. Konsep pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar kehilangan ketegasan dan mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan menuju kebenaran) maka kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan saling mengevaluasi. Kesatuan kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi dua konsep pengertian yang saling berlawanan agar tercipta konsep baru yang lebih ideal.

Langkah Ketiga: Pemahaman Baru

ꝋ Pengingkaran terhadap Pengingkaran

Langkah pertama telah mencangkup langkah kedua secara implicit. Langkah kedua sudah memuat langkah pertama, sebab merupakan negasinya; jadi yang pertama telah dipikirkan. Akan tetapi, keduanya telah dipikirkan secara bersama-sama, dan dengan demikian mereka saling mengisi. Jadi, ketiga langkah sebenarnya adalah imanen satu sama lain, dan bersama-sama hanya merupakan satu gerakan saja.

ꝋ Kesatuan Kontradiksi

Merupakan motor dialektik menurut Hegel. Kontradiksi merupakan tahap dalam mencapai kebenaran dan menjadi jalan serta tahap mutlak yang harus dialami dulu.

a.    Kontradiksi bukan berarti satu

Disebut “kontradiksi” dan “negasi” itu bukan hanya berarti satu. Memang ada yang berlawanan secara kontradiktoris (positif dan negasinya), seperti “ada” dan “tiada”. Dan ada perbedaan antara yang mutlak-sempurna dan realisasi terbatas, seperti antara Tuhan dengan alam. Maka keberatan terhadap kontradiksi dalam kenyataan dan konsep itu tidak berlaku bagi semua “pertentangan” secara sama pula.

b.    Logika lain

Logika formal bukan filsafat, tidak boleh menguasai filsafat. Sebab logika memakai pemahaman “kontradiksi” justru dalam arti statis. Hegel mendobrak interpretasi statis tentang konsep, dan membuka konsep bagi suatu interpretasi dinamis. Bagi Hegel, kontradiksi itu benar-benar rill. Tetapi kontradiksi itu bukan menurut arti logika formal; kontradiksi itu menandakan kurang lengkapnya konsep terutama di kategori rendah.

ꝋ Belum Lengkap

Pengangkatan kedua langkah ini juga belum sempurna, sebab identitas langkah ketiga merupakan kesatuan lawan-lawan yang tetap lawan yang dipenuhi keterbatasan dan kekurangan belum diatasi dengan lengkap.

ꝋ Deduksi dan Induksi

Sistem Hegel bersifat deduktif, yaitu: oleh logika intrinsik yang niscaya ada dalam konsep, pikiran dibawa ke konsep lain. Data-data yang digunakan berfungsi lebih eksemplaris; tetapi menurut Hegel, semua data dan fakta dapat disusunkan dalam garis pikiran itu.

Sistem Hegel merupakan induksi prinsipil, akan tetapi bukan induksi yang membawa ke pengertian yang mau berkejauhan dari kenyataan. Induksi Hegel memberikan yang kaya dan makin konkrit. Induksi dan deduksi, analisa dan sintesa pada Hegel bukanlah dua jurusan berbeda, melainkan bersama-sama berkembang.

Sumber:

Bakker, Dr. Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini