Home » » Metode Kritis-Transendental: Immanue Kant

Metode Kritis-Transendental: Immanue Kant

Mengenal sedikit lebih dalam Filsuf Jerman, Immanuel Kant

Immanuel Kant, merupakan salah satu filosof yang berhasil menjadi tolak ukur pada zamannya melalui kritisisme. Kant hidup pada tahun 1724 sampai 1804. Ia memiliki kehidupn yang teratur, hingga pada suatu waktu Kant dijadikan acuan waktu oleh orang di lingkungannya. Di jam 10 dia pergi ke pasar, jam 12 dia pulang untuk beristirahat, dan di sore sampai malam hari dia menghabiskan waktunya dengan membaca.

Immanuel Kant dikenal dengan metode kritisismenya, yang secara garis besar beraarti tidak menerima secara mentah pengetahuan yang didapat. Selain itu, Kant juga dikena dengan metde sintetis apriorinya. Dalam mencapai tahap kritisismenya Kant melalui pembelajaran akan Ilmu alam gaya Newton dan Wolff. Periode ini berlaku hingga tahun 1755. Setelah melalui pembelajaran rasionalistis tersebut Kant membaca buku karya David Hume yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Di tahun 1770 baru dimulai periode kritisnya.

Dalam metode kritisnya, Kant berhasil mengatasi perdebatan panjang antara rasionalisme dan empirisme. Di satu sisi Kant mempertahanakna objektivitas, universalitas, dan keniscayaan pengertian, dan di lain pihak Kant meneriima bahwa pengertian bertolak dari fnomin-fenomin , dan tidak melebihi batas-batasnya. Kant memusatkan perhatia Filsafatnya ke manusia, dalam hal ini Kant berpendapat bahwa bukan manusia yang menyesuaikan diri dengan objek-objek disekitarnya, melainkan objek-objek disekitarnya lah yang menyesuaikan diri dengan manusia.

Kant memperhitungkan suatu metode analisa dengan sebuah titik tolak. Analisa yang dikemukakan oleh Kant berhubungan dengan analisa yang lain, contohnya Rizal mengajar mahasiswa. Dalam hal ini, Kant memberi awal analisa dari analisa psikologis yang berarti bagaimana suatu kejadian itu berjalan, lalu dicari daya-daya dan potensi-potensi yang memainkan peranan dalam kejadian tersebut. Setelah analisa psikologis lalu dilakukan analisa logis yang meneliti hubungan antara unsur-unsu isi pengertian satu sama lain. Dalam hal ini, diperiks hubungan antara ‘Rizal’ sebagai subyek dan ‘mahasiswa’ sebagai objek. Lalu, Kant menyertakan analisa ontologis untuk memeriksa realitas dan analisa kriteeriologis untuk menyelidiki relasi forml antara kegiatan subyek sejauh ia mengartikan dan menilai hal tertentu.

Terminologi Immanuel Kant

1. Pengertian analitis, selalu apriori; misalnya dalam ilmu pasti. Bersifat:
- predikat sudah termuat dalam konsep subyek;
- tidak dengan sendirinya mengenai kenyataan;
-tidak memberikan pengertian baru.

Ucapan semacam ini hanya merupakan pengertian formal, suatu tautologi; sebenarnya hanya suatu konsep belaka. Dalam ‘kebenaran’ ialah prinsip kontradiksi.

2. pengertian Sintetis.Sifatnya:
-relasi subyek dan predikat berdasarkan obyek riil; terjadilah kesatuan dari hal yang berbeda;
-memberikan pengertian baru.

Ada dua macm pengertian sintetis:

a. aposteriori; misalnya: “saya merasa panas.”

Sifatnya: -bukan universal, melainkan singular. Dasar ‘kebenaran’ ialah pengalaman subyektif.

b. apriori: misalnya hukum umum seperti: ‘Air mendidih pada suhu 100 derajat celcius; “Bumi berputar sekitar porosya setiap 24 jam.

Atau pula fakt umu: ‘sekarang hawa panas’.

sifatnya:- pengertian umum-universal, dan pasti.

***

Kant percaya dengan nilai obyektiifitas yang ada dalam setiap hal. Dalam kepercayaan dan agama misalnya, sesuatu yang membawa kemajuan dan kebahagiaan, hal itu merupakan sebuah engertian sintetis apriori. Menurut Kant hal tersebut bukanlah berdasar dari hal yang bersifat empiris saja, dan hal inilah yang akan dijadikan sebuah penelitian oleh Immanuel Kant.

Analisa Transendental

Kant mempercayai prinsip obyektifitas, maka dari itu Kant membagi syarat minimal dalam analisanya yang mutlak harus dipenuhi dalam subjek, guna melancarkan konsep objektivitas tersebut (transendental).

Secara metodis, Kant harus membeddakan dalam fenomin: apakah yang berasal dari pengalaman, dan apakah yang berasal dari subjek. Kedua, ia mau membatasi pada syarat-syarat yang minimal, sebab hanya itulah yang harus diterima dengan mutlak. Untuk mendapat hal yang objektif Kant membagi penelitiannya menjadi Bidang Inderawi, Bidang Akal (verstand), dan Aku Transendental.

Dalama analisa transendental ini ditemukan struktur yang merupakan akibat dari postulat objektifitas pengertian sintetis apriori. Dengan demikian, sudah diterangkan kemungkinan ilmu alam dan moral.

Deduksi Transendental atau Kritis

Setelah menentukan syarat minimal dalam subjek secara faktual, Kant juga mengaharuskan sesuatu berlaku secara de jure, jadi bukan hanya de facto. Mereka berlaku bagi pengertian dan penilaian selalu dan di mana-mana, sebelum ada isi tertentu. Lalu, ditentuka hakekat objektifitas kategiori-kategori dan postulat-postulat apriori.

Dialektik Transendental

Dialektik Trnsendental lalu berarti: kritik terhadap dialektik, atau terhadap penalaran ilusionir. Metafisik Ilmiah, yang mengatasi pengalaman manusia yang inderawi, itu mustahil; sebab metafisik demikian hanya mengenai noumenon, dan bukan tentang fenomin. Secara khusus itu berlaku bagi 3 pokok yaitu Tuhan, jiwa, dan dunia.Metafisik hanya menggunakan bentuk-bentuk dan kategori-kategorii secara formal dan kosong, menurut garis-garis deduksi silogistis. Itu berarti metafisik tidak mengenai kenyataan dan merupakan ilusi transendental.

Akhirnya Kant tetap berkeyakinan, bahwa kenyataan itu lebih luas daripada apa yang dapat dipertangguhngjawaban secara ilmiah. Dan ia lebih jauh lagi; berpusat pada ide-ide dan postulat-postulat yang istimewa itu, ia memberi petunjuk-petunjuk untuk membangun suatu metafisik baru, sebagai dorongan kodrati. Metafisik itu berdasarkan eemosi dan kehedak. Menurut garis itu, ide-ide dan postulat-postulat tersebut harus diafirmasi, buka pada dasar ertimbangan teoritis,melainkan karena dituntut sebagai dasar kegiatan manusia. Harus diterima dalam kepercayaan sebab manusia tepaksa bertindak. Mereka harus diakuis sebagai penentuan-penentuan teoritis, yang dengan tak terputuskan dihubungkn dengan pelaksanaan akal praktis. Makka akal teoritis harus berusaha memikirkannya secara konsisten.

Walaupun pada akhirnya Kant meneliti tentang metafisik, namun sebagai kesimpulan hanya dapat diulang bahwa metafisik hanya mempunyai arti ‘emotif’ yang ebrarti hanya merupakan anlisa syarat-syarat subyektif dalam pengalamn.

0 komentar:

Post a Comment