Home » » Rindu (Balasan Surat)

Rindu (Balasan Surat)

Aku sudah membaca suratmu di suatu pagi. Setelah ayam berkokok, setelah menggema suara Adzan Subuh. Pria malang, tidak kah studi ilmu yang engkau tekuni itu tidak membuatmu membelot sebagai seorang anti Theis?

Kali ini aku hanya ingin membahas mengenai karya yang engkau kirim di dalam surat tersebut.

Pria malang, sebuah goresan pena yang engkau tujukan untuk menyerupai wajahku, telah aku terima dengan utuh. Tidak ada yang kurang, namun aku kurang suka. Wajahku tak ada, rambutku berantakan dan semua nampak membingungkan. Sama halnya dengan dirimu, membuatku bingung. Selalu ada maksud tertentu di balik semua yang engkau beri. Harapanku hanya satu, mengerti akan keinginanmu.

Namun, aku gagal. Aku tak mengerti maksud dari gambar yang engkau berikan. Semacam sebuah sandi rahasia atau hanya iseng belaka, pria malang?

ꝋꝋꝋ

Pria yang malang, aku kali ini sedang bingung. Kalut dan seakan mataku dipenuhi oleh gumpalan kabut yang begitu kisut. Andai engkau di sini, kalut yang bernama cemburu tak akan datang bergontai dan menanti untuk menikamku tiap malam.

Aku terbayang dan aku berharap. Kita akan pergi jauh, bersama, melepas penat akan semua ini. Aku begitu lelah oleh jarak. Aku tak kuasa melihat kenyataan bahwa aku memiliki hatimu, namun tidak dengan ragamu. Aku juga merasa bahwa hadirku tak selalu berarti jika hanya sebatas sosial media belaka. Bukan begitu, pria malang?

Aku tak ingin pergi ke Paris atau Milan. Aku tak berpikiran semewah itu. Bahkan, katamu, ke burjonan saja sudah terasa bak kemewahan dunia jika aku duduk bersama mu. Menyuapimu dan melihat pipi tembammu itu mengunyah, lalu menelan. Cukup seperti itu, asal bersamamu.

Aku begitu merindukan leluconmu yang jauh dari kata lucu, namun dapat membuatku senyum-senyum seperti orang gila. Pribadimu menyenangkan, maka dari itu jika bersamamu, waktu seakan bergerak begitu memburu. Ah, waktu nampaknya sedang cemburu ya jika melihat engkau sedang menggombaliku di depan kampusku dan teman-temanku.

Katamu, engkau pencemburu yang ulung, ya? Di titik ini aku merasakan hal yang sama. Begitu sesaknya dadaku ini ketika engkau melangkah menjauh dari Surakarta. Semakin engkau menjauh, rasa cemas yang berbalut dengan cemburu kian merasuk dan mendesak begitu sesak. Mengapa engkau tidak di sini saja dalam waktu yang lama. Aku akan buatkan engkau kopi, bersama nyanyian indahku di pagi hari.

Aku ingin melakukan hal serupa sepertimu, menggambarmu, tapi apa daya, tangan ini tak bisa. Wajahmu itu biasa saja, menjadi bermakna kala aku mencoba mensyukurinya. Kala aku ingat perjuanganmu mendapatkanku dan kejujuranmu dalam berpuisi untukku.

Engkau tahu, aku menulis ini bersama tangis. Pipiku basah, mulutku kering dan leherku rasanya seperti tercekik oleh sesuatu yang entah. Oh Ditya ku yang malang, bahkan kata entah sudah masuk ke dalam pikiranku. Membekas dan membiru karena rindu. Maaf aku menggunakan kata-kata yang menurutmu tidak jujur dan dibuat-buat, namun ini benar-benar aku merasakan sebuah rindu.

Ditya ku yang malang, datang lah, sempatkan waktumu untukku. Aku tahu engkau sibuk ini itu, tetapi tak adakah detik-detik yang terbuang ketika engkau bernapas itu untukku?

Surakarta, 18 Mei 2017

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini