Home » , , , » Saat Alan Turing Lolos SNMPTN di Andalas

Saat Alan Turing Lolos SNMPTN di Andalas

Oleh: Gusti Aditya

Nama saya Alan. Lengkapnya adalah Alan Turing. Saya berasal dari desa terpencil di Pulau Sumatera. Akses menuju kota sekitar lima jam, dengan catatan cuaca tidaklah hujan. Lebih spesifiknya saya tidak bisa menjelaskan lebih rinci lagi, karena itu adalah sebuah privasi.

Lingkungan daerah saya memegang teguh ajaran Islam yang kuat. Setiap sore rutin diadakan pengajian untuk kawula muda. Jadi, membaca Kitab Suci hingga puasa sunah, Insyaallah adalah hal yang ringan bagi saya. Keluarga saya juga dari kaum tauladan. Bapak pernah ke Mekah, Bunda pernah melempar jumrah. Semoga saya dari keturunan yang baik-baik saja.

Saya selalu mendapat rangking pertama sedari sekolah dasar hingga sekolah atas. Nilai pun tidak ada yang di bawah sembilan. Walau dari desa, saya juga pernah membawa harum nama Indonesia dalam ajang olimpiade di Delhi tahun lalu. Emas saya bawa pulang, Bapak Presiden mengundang makan malam.

Hari ini pengumuman SNMPTN. Di mana ini merupakan pesta kecil-kecilan anak SMA dalam menentukan tujuan kelanjutan studi mereka, tak terkecuali bagi saya. Kampus terdekat adalah Andalas yang berjarak hanya tujuh jam menggunakan kendaraan bermotor. Mau ke mana lagi? Daerah lain saya tahu diri, bahwa ekonomi orangtua saya hanya cukup membeli sari tahu untuk makan sehari-hari.

Saya diterima. Diterima di pilihan utama. Yaitu jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang sedari dulu sudah menjadi primadona bagi saya. Primadona, ya, setidaknya itu saat pagi tadi, berbeda kala sore ini. Pendapat saya berbalik seratus, ah tidak, bahkan seribu drajat karena persyaratan daftar ulang SNMPTN yang pihak Andalas berikan.

Di sana tertera bahwa para pendaftar ulang harus menandatangani persetujuan bahwa kami tidak terlibat atau  bebas dari kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau yang biasa disebut LGBT. Bagaimana kampus yang sedari dulu menjadi bayangan saya adalah berpikiran luas, tidak diskriminatif dan hal-hal terpelajar lainnya. Namun yang mejadi penyambutan bagi saya adalah hal seperti ini, yang tidak mencerminkan keintelektualitasan penghuni kampus.

Ya, saya adalah seorang gay. Saya yakin saat statement saya keluar, perkataan saya yang menyombongkan diri mengenai keluarga yang shaleh dan rajin mengaji langsung hilang di otak kalian. Tak apa, toh saya seorang gay dan mau bagaimana lagi. Usaha untuk sembuh? Tentu ada. Namun usaha untuk sembuh hanya karena demi mengisi surat perjanjian ini nampak begitu lucu.

Demi sebuah jenjang yang lebih tinggi, apakah pemikiran saya harus kembali turun? Apakah saya harus dipaksa? American Psychiatric Association menyatakan, setelah berbagai penelitian ilmiah, bahwa rehabilitasi mengubah orientasi seksual seseorang tidak efektif dan membahayakan kesehatan mental bahkan dapat membuat depresi, kecemasan, dan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Di masyarakat, saya pernah hampir dibunuh ramai-ramai lantaran mereka mengetahui orientasi seks saya berbeda dengan pria pada umumnya. Saya wajar dan hanya mengelus dada. Mereka adalah masyarakat yang terkepung oleh hutan. Bagaimana akses ilmu yang masuk melalui buku-buku sangatlah sulit di desa ini. Semen saja sulit, bagaimana dengan buku, bukan? Namun Andalas tentu bukan desa saya. Bayangan saya sih seperti itu.

Jika kalian berpikiran kebarat-baratan, saya menolak keras. Saya cinta bangsa ini dengan segala norma dan ajaran ketimurannya. Sepengetahuan saya, tidak ada ajaran mengenai LGBT dalam enam agama yang diakui negara ini. Namun, tahukah kalian mengenai 5 gender di bugis dan relasi warok gemblak dan bahkan mairil dalam pesantren? Jika belum,mari membaca, kita belajar bersama.

Intinya saya khawatir. Saya khawatir bibit jenius bangsa ini dibunuh perlahan lantaran penyimpangan orientasi seksual yang mereka miliki. Andalas akan kehilangan bibit luar biasa seperti Freddie Mercury. Dia tak bisa masuk Andalas karena seorang biseks. Andalas tak jadi memiliki alumni hebat seperti Mercury dengan suara emas yang menggebrak dunia.

Bagaimana jika Giorgio Armani diterima di teknik industri Andalas dan niatnya harus kandas karena ia adalah seorang homoseks. Padahal, beberapa tahun berikutnya, ia bakal menjadi desainer terkenal di dunia yang akan membanggakan seantero Andalas. Tak adil bukan? Kala bakat, keahlian dan kepandaian harus kalah saat dihadapkan oleh sebuah kekurangan.

Dan lagi, saya, Alan Turing, yang sedang bingung hendak mendaftar ulang atau tidak, bukannya narsis, namun saya melihat masa depan yang sangatlah cerah bagi hidup saya. Saya bisa membanggakan Andalas di Indonesia, bahkan dunia. Bagaimana jika besar nanti saya menjadi perintis mesin digital atau komputer modern yang lebih modern lagi? Jika saya dilirik negara lain, nanti kalian kowar-kowar kepada saya lantaran saya dicap penghianat negara? Padahal di tanah sendiri saja kaum seperti saya sangat tidak dihargai, bahkan dicap seperti binatang.

Terlepas dari semua itu, semoga pihak Andalas merubah apa yang menjadi syarat daftar ulang. Ah, namun berita yang beredar, hal ini justru didukung oleh mahasiswanya yang tergabung dalam suatu organisasi, ya? jujur, sedih, namun bagaimana lagi, saya hanyalah calon mahasiswa yang otaknya siap di pangkas menjadi seperti apa yang kampus pinta.

Apakah kaum seperti saya tak layak mendapatkan sebuah pengetahuan seperti “manusia normal” lainnya?

Ya sudah, biarlah saya fokus SBMPTN saja dan mendaftar di kampus yang lebih toleran dan berpikiran terbuka. Masalah uang, biar saya berusaha mati-matian mencari beasiswa. Akhir kata, semoga saya bisa membalas melalui sebuah prestasi.
___________________________________________________

Nb:
  • Buat yang tidak tahu (masa tidak tahu, sih?), kisah di atas adalah sebuah fiktif belaka dan tidak ada yang benar-benar terjadi sesungguhnya.
  •  
  • Alan Turing merupakan dikenal sebagai matematikawan, analis pesan rahasia, dan pahlawan perang, dia juga dikenal sebagai pioneer terciptanya mesin komputer. Karyanya, mesin turing memiliki peran besar dan menginspirasi terciptanya mesin digital atau komputer modern (cek Wikipedia lah, sukur-sukur buku atau film biografi beliau).
  •  
  • Tidak bermaksud menjatuhkan pihak mana pun.
Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment