Home » » Surat Terbuka untuk Pria yang Malang

Surat Terbuka untuk Pria yang Malang

Oh Ditya, sungguh pria yang malang. Kala pria lain menggodaku dengan memberikan buket bunga seikat dan beberapa batang coklat, pria ini malah mengirimiku puisi-puisi yang menemaniku setiap aku bangun dari tidur. Puisinya pun tidak ada potongan kata "senja" atau "rindu" seperti orang-orang yang kebanyakan. Katanya, kata-kata itu adalah suatu ketidakjujuran, namun dia lebih suka memberikan kata "entah" yang ia maknai sebagai hadirku di hidupnya yang serba entah.

Sungguh malang, Ditya. Aku tak pernah paham tentang puisi yang engkau tulis melalui serpihan media elektronik milikku tiap harinya. Puisi buatan Ditya itu rumit, sulit dimengerti dan begitu tidak terduga. Yang bisa aku lakukan hanyalah menulisnya kembali ke dalam secarik kertas sembari tersenyum dengan malu. Walau begitu, puisinya mampu membuatku menangis, tertawa hingga merenung tentang betapa singkatnya waktu yang Allah berikan jika adanya kamu di sebelahku. Kok bisa, ya?

Aku pernah menolaknya. Ya, aku menolak pria malang tersebut karena aku takut berpacaran kala itu. Lagi-lagi dia datang, pelan dan penuh dengan sekam, ia berkata "Beranikah kau hidup sederhana bersamaku?" Hatiku berdegub keras. Puluhan pria datang dan sok puitis saat menyatakan cinta kepadaku, berbeda dengan Ditya, ia puitis setiap hari, namun begitu terlihat bodoh saat menyatakan cintanya kepadaku untuk yang kedua kalinya itu. Lebih bodohnya, aku menerima cintanya.

Ditya yang malang. Aku teringat kala kami pertama kali bertemu. Bukan di tempat berkelas, namun di stasiun kereta di Surakarta. Aku menunggu kata penuh cinta darinya, namun pria ini malah sibuk menggambar itu semua. Ia menggambar sebuah kereta yang menurutku, hmm lumayanlah. Aku hanya diam dan kemudian tersenyum kala dia berucap "Aku tak berani menggambarmu. Bagaimana bisa aku menyamai makhluk Tuhan yang maha elok sepertimu."

Hei pria malang, katamu dunia ini milik orang-orang yang tak tahu diri, ya? Mungkin konsep itulah yang membuat mu berani mendekatiku. "Ibaratnya aku ini seorang Yahudi yang mencintai Bangsawan Prancis. Aku yakin tak akan jadi masalah, jika aku bisa menunjukan rasa cintaku kepada orangtuamu. Aku mencintaimu, itu berarti aku juga mencintai keluargamu. Urusanku jika dunia menolak, akan aku lawan, semoga saja menang," ujarnya kala mengajakku makan bakso di emperan trotoar.

Wanita mana yang berani menjatuhkan gengsinya untuk makan di sebuah burjonan asalkan bersama pria yang ia cinta? Ya, aku. Gila! Ia dengan entengnya berkata "Aku mengajakmu di sini, di tempat yang sederhana dan banyak pria seperti ini, itu bukti bahwa aku siap menjagamu dari apa pun." Bilang aja kamu lagi bokek, Ditya. Entah, tapi aku sangat menikmati saat itu. Bahkan aku sekarang sudah menggunakan kata "entah" milik Ditya.

Pacarku sangat malang, ia dibenci kawan-kawanku lantaran ia memiliki pikiran yang terlalu radikal. Aku sempat bertanya kepadanya tentang ia yang tidak mau henti mengkritik sesuatu yang menurutnya melenceng dan ia menjawab dengan tawa dan sebuah senyum khas Ditya. "Kebencian muncul dari rasa takut. Apa yang mereka takutkan dariku? Tentu, aku dan kawanku berbuat lebih banyak dari apa yang mereka perbuat," yang tadinya aku mau marah, aku malah ikut tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya.

Pacarku yang malang itu bukan tak hormat, ia mungkin terbesit rasa kasihan kepadaku lantaran jika dia berbuat hal gila, maka akulah yang kena. Aku hanya menjawab "Pergilah, Ditya, namun ingatlah bahwa aku ini adalah rumahmu, jadi kau harus kembali kepadaku," ia hanya tertawa sambil melihat mataku dalam-dalam. Itu hobinya, melihat mataku dan berkata jika mataku itu indah. Aku juga memiliki hobi yang serupa, yaitu saat mataku dilihat oleh Ditya lalu dipuji olehnya.

Mimpiku dahulu memiliki pacar anak teknik yang katanya bakal mantu idaman. Ah, lagi-lagi Ditya merubah semua itu. Dengan mudahnya Ditya merubah persepsi yang sudah lama melekat di otakku. Buat apa anak teknik jika tidak bisa membuatku senang tiap hari? Bagiku cinta pria malang itu tidak sekedar baris puisi, namun juga sebuah aksi. Ia selalu melakukan hal-hal penuh kejutan yang selalu membuat aku merasa menjadi putri bagi dunia yang fana dan itu luar biasa rasanya.

Pacarku yang malang selalu mengajakku ke toko buku tiap minggu. Ia berkelakar, "Di SMA aku jarang jajan. Aku sisihkan uang saku harian sebesar lima ribu, sebulan jadi berapa? Pokoknya banyak, ya? Ya, itu, aku habiskan di toko ini. Makan akan menjadi berak, buku akan berubah menjadi ilmu. Ya, setidaknya, untuk saat ini, ilmu mendapatkan hatimu itu sudah cukup memuaskanku," ia mampu menghabiskan waktunya di bagian humaniora, terdapat sorot yang aneh dari matanya. Sama ketika dia menatap mataku. Ternyata ada hal yang membuat ia tergila-gila selain aku.

Aku dan dia menjalani hubungan jarak jauh. Tiap bertemu, aku benamkan wajah di dadanya dan ia selalu melantunkan lagu Love Will Keep Us Alive milik Eagles. Pria yang malang, saat kebanyakan pria akan menyanyikan lagu-lagu modern penuh cinta untuk kekasihnya, namun ia malah menyanyikan lagu slow rock di tahun 90an. Namun aku suka, sangat suka. Dengan suaranya yang sumbang, aku tak bisa melihat kebohongan di dalam dirinya.

Dengannya, aku bisa merasakan kala ibuku dan bapakku dahulu saat memadu kasih jarak jauh. Mereka hanya pasrah dan berharap melalu doa saja, begitu yang aku rasa kala bersama Ditya. Aku jadi merasa bisa lebih menghargai suatu pertemuan. Itulah yang membuat batre handphone ku begitu awet ketika dia ada di sampingku. Dengannya, aku jadi awet muda juga, selalu saja ada hal yang membuatku tertawa dan kemudian ia menyentuh hatiku dengan penuh kesan, mengajak makan orang keterbelakangan mental contohnya.

Ia tak pernah berkata jika jarak itu menyiksa, ia ganti kata "menyiksa" menjadi kata "nikmat". Ia berkata, "Jarak jauh? Bahkan Adam dan Hawa dulu juga LDR, bahkan tak ada LINE dan free call. Tak ada kereta seharga delapan ribu juga. Tak ada bus trans seharga empat ribu lima ratus juga. Dan hubungan mereka aman-aman saja, bahkan melahirkan keturunan seperti kita, yang meneruskan perjuangan cinta seperti mereka, jarak jauh yang tak terlalu jauh," aku hanya mampu tersenyum.

Pria malang, Ditya-ku, boleh ya aku kutip kata-kata istri Karl Marx, tokoh idola mu itu? Jika boleh, begini kata-katanya: “Oh, Karl, kalau saja aku bisa tenteram dalam cintamu, kepalaku takkan mendidih dan hatiku tidak akan sakit dan berdarah. Seandainya saja aku bisa beristirahat damai di hatimu, Karl, mungkin hidup dan prosa-prosa dingin tak pernah melintas di kalbuku”.

Jadi, masa bodoh dengan kemalanganmu itu. Masa bodoh kau menggemari bahasan komunis dan kejawen. Masa bodoh kawanku benci terhadapmu. Masa bodoh dengan fisikmu, yang terlihat seperti Disney Tsum-Tsum. Masa bodoh juga penampilanmu seperti Nobita, yang tidak pernah berganti gaya berpakaian. Yang penting aku selalu menjadi sumber inspirasi dari puisi-puisimu wagu-mu itu.

Dasar pria malang, yang membuat ku begitu sayang.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini