Home » » Tetaplah Menjadi Bajingan

Tetaplah Menjadi Bajingan

Oleh: Gusti Aditya

Dahulu, aku bertanya kepada diriku, “Mengapa kawanku tak ada yang normal?”. Ada yang mencintai ikan lohan melebihi cintanya kepada sang pacar. Ada pula yang mati-matian berbicara Marxisme di depan pemuka desa, kalian tahu akhirnya bagaimana, ia diusir dari desanya. Ada pula yang mengkoleksi film porno hingga ia membeli delapan hard disk.

Aku juga bingung, mengapa mereka semua tiba-tiba berada di dekatku, memantik rokok dan menenggak ekstasi, kemudian bercengkrama hingga subuh memanggil dan waktunya untuk tidur. Tidak adakah sosok kawan yang rajin membaca Alkitab atau menasehatiku agar sembahyang? Nampaknya benar apa kata pepatah, madu akan mendapatkan madu, sedang racun akan dihampiri oleh racun.

Setidaknya  ada satu keuntungan aku mengenal kawan-kawanku itu, yakni bahagia. Aku dapat tertawa lepas melihat tingkah konyol mereka, aku dapat berkata sesuka hati dan kesana-kemari tanpa ada yang peduli. Sungguh. Penggambaran tepat bagi mereka ialah pahlawan di antara para bajingan.

Aku juga tidak suka sih dengan manusia dengan kehidupan yang tampak normal. Pagi bangun, berak, ganti baju kuliah dan di ruang kuliah dia duduk, menggunakan kemeja, mencatat dan membangunkan seseorang yang sedang tidur di pojokan kelas. Aku lah orang yang dibangunkan si normal itu. Brengsek.

Kebahagiaan yang aku dapat dari mereka ialah tidak adanya kepura-puraan di antara kami. Mereka banyak berbicara tentang kehidupan. Walau kebanyakan seputar seks, namun aku selalu mendapat pelajaran di balik omongan yang dikeluarkan dari mulut kawanku yang bau itu.

Mereka juga berbahaya. Pikiran mereka nakal dan berbahaya. Dicampur sedikit kemesuman. Kombinasi yang sempurna, bukan?

Mengapa aku tak bisa berkawan dengan manusia tipikal rambut licin berpomade? Atau seorang gadis yang berkacamata bulat dengan gigi dirantai, jika berfoto, gigi tersebut ia perlihatkan berdampingan dengan kacamata bundarnya. Wagu. Aku tak bisa berkawan dengan manusia genre hasil tempa instagram seperti itu.

Aku melihat, dewasa ini konsep persahabatan kian lebar maknanya. Si miskin akan berusaha kaya untuk menyamai apa yang kawannya punya. Ada sebuah kebingungan yang bergerak kearah negatif, ada pula sebuah topeng yang terus-terusan menempel di wajah si pelaku. Antara sandiwara dengan persahabatan kian memudar; entah berbaur atau bahkan meregang.

Kian terdapat sekat di antara remaja masa kini. Tempat-tempat pembakaran uang kian lama kian laku untuk di kencingi oleh recehan. Terlalu banyak uang yang mereka bakar, dan melihat bahwa sahabat yang sedang tertawa di samping kita, esok akan hilang entah kemana.

Sekat yang dibangun juga nampak semakin tajam. Hierarki pertemanan juga menunjukan kecenderungan saling menendas dan membully. Memang sedikit retoris, namun itu lah yang terjadi belakangan ini.

Ya, kami orang gila di antara orang-orang normal. Berusaha menjadi normal? Itu bukan kami. Jika ingin menjadi gila, datang lah bersama kami, bersemayam bersama ciu dan menggelora bersama abu samsu.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini