Home » » A Young Girl from Saigon (Chapter 1)

A Young Girl from Saigon (Chapter 1)

Oleh: Gusti Aditya

Sebelumnya tidak ada yang aneh dengan diriku. Semua berjalan seperti biasa. Lima belas tahun aku habiskan di tanah Saigon dengan nyaman dan jauh dari negriku tercita bernama Nusantara. Aku dibawa ke Vietnam karena menurut mereka aku dianggap berbahaya, namun aku dianggap sampah oleh anak-anak bangsa, kawan sebaya dan sejawatku di Indonesia.

Jujur, di Vietnam aku merasakan hidup kembali. Aku menikah dengan wanita asal Da Nang. Sesekali aku pergi ke kota baru tumbuh tersebut. Unik, seperti Jogja karena di sana baru saja dibangun pusat-pusat industri yang bukan main lebatnya. Bedanya, di Da Nang pembangunanya lebih tertata ketimbang di Jogja.

Suatu hari aku mendapat surat tugas dari bangsaku. Baru kali ini aku disapa layaknya pejuang, bukan layaknya sampah masyarakat seperti tempo hari. “Bapak Rodrigo Suparman, dengan datangnya surat ini, kami akan mempulangkan anda beserta sekeluarga ke Jakarta dalam tempo tiga bulan mulai dari surat ini dikirimkan. Semoga ini merupakan berita bahagia untuk anda sekeluarga. Kami juga menyiapkan segala cara untuk menaturalisasi istri beserta anak anda.”

Kira-kira seperti itu, taka da yang menarik, bahkan membuatku bergidig geli. Menaturalisasi istri dan anakku katamu? Lelucon macam apa? Aku tahu bahwa Indonesia sedang bergejolak. Aku tahu bahwa kecakapanku sedang dibutuhkan. Bukan aku tak cinta Indonesia, namun aku tak suka anak bangsanya!

ꝋꝋꝋ

Kemudian aku merangkak dalam rumah. Saigon diserang oleh berbagai persenjataan Vietnam Utara. Aku tak tahu mana yang benar dan yang salah. Aku di sini hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecilku. Keadaan politik Saigon sungguh gawat, bahkan menurutku harus diberi kata darurat di belakang kata gawat.

“Bagaimana ini, yah?” Istriku bersembunyi di bawah meja. Sedangkan aku melihat keadaan di luar melalui jendela. Istriku mendekap anakku yang baru bisa berjalan tersebut.

“Kita bukan antek kolonialisme, mengapa komunis keparat itu menyerang warga sipil?” Bentakku sambil melihat tentara Viet Kong membabibuta menyerang sekitar. “Ini imbas dari kebodohan Soviet dan Amerika. Kita didukung oleh Amerika, Korea Selatan dan Australia, mengapa komunis busuk itu dapat masuk hingga jantung Saigon? Bahkan memikirkan hal itu saja membuatku mual.”

“Berhenti omong kosong macam itu. Kita harus menyelamatkan Xuen! Kita harus ke Indonesia lusa! Buang semua egomu itu, yah!”

ꝋꝋꝋ

“Hingga aku mati, Indonesia tak akan pernah ada dalam diri Xuen.”

Bersambung

0 komentar:

Post a Comment