Home » , » Apa yang Bisa dibanggakan dari Sepakbola Negeri Ini?

Apa yang Bisa dibanggakan dari Sepakbola Negeri Ini?

Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Apa yang bisa dibanggakan dari sepakbola negeri ini? Jawabannya, hanya ada tiga:
rewel, kocak, dan terbelakang.

Negara yang membentang luas dari ujung Sabang hingga melintas sampai di batas akhir timur Merauke, menganggap dirinya sebagai raksasa, namun dalam kenyataannya tak lebih dari negara kurcaci belaka dalam dunia sepakbola internasional.

Sepakbola yang menjadi alat pelepas penat paling di gandrungi di republik ini, dalam perjalanannya justru menjelma bak medan penyiksaan bagi orang yang menaruh hidup serta cinta di dalamnya.

Sebab, kelucuan demi kelucuan, rewel yang tak ada ujungnya hingga keterbelakangan yang menjadi hal umum bagi penikmat yang mengaku cinta akan dunia ini, seolah menjadi hal lumrah yang selalu terulang dan seakan tak ada batasan akhir untuk berhenti.

Lucunya, orang yang ada dibalik kepentingan justru acuh akan kekonyolan yang seakan lebih menghibur dari stand up comedy datar nan jujur Dodit Mulyanto. Tak perlu membayar mahal untuk mendapat hiburan dari sepakbola negeri ini, cukup melihat liga Indonesia, mengawasi keputusan wasit serta mentertawakan labilnya federasi yang selalu konsisten dalam ke tidak kosistenan.

Pun tak banyak dari pelbagai golongan suporter negeri ini yang belum seutuhnya lepas dari perangai barbar. Emosi yang meledak-ledak bagi tim yang di dukung justru tersalurkan lewat beragam hal negatif yang identik dengan sepakbola nasional. Kendati tak semua, lamun memang beginilah salah satu penyakit sepakbola negeri ini.

Rewel alias padanan kata rusuh, seakan-akan akrab bagi sesama pendukung yang mempunyai riwayat rivalitas kental. Bagai perasaan mendarah daging yang benar-benar tersemat hingga ke ruang hati yang paling dalam, hingga mampu mengabaikan kodratnya selaku makhluk yang mempunyai intuisi.

Mental barbar yang begitu lekat, sedari sekarang haruslah sedikit demi sedikit di singkirkan. Tak ada untungnya melainkan tangis sendu pihak yang tersakiti, pun roda kebencian juga tak akan pernah berhenti jika situasi tersebut senantiasa di maklumkan dan terus di ulangi tanpa timbulnya rasa bersalah maupun kesadaran untuk mengkahiri. Sudahi, karena sepakbola kita ini lucu, rewel serta terbelakang dalam banyak aspek.

Tak ada satu pun tim liga Indonesia yang terdaftar sebagai bagian klub profesional di AFC adalah salah satu keterbelakangan lain yang dapat kita tertawakan bersama. Mempunyai Marquee Player, namun tak satu pun klub kita yang di akui profesional oleh AFC, berbanding terbalik dengan liga yang tak menggunakan Marquee Player.

Padahal, Jepang pun begitu dengan Thailand berkaca akan sepakbola kita kala itu ketika membangun pondasi kuat liga maupun timnas mereka hingga hasilnya terlihat seperti sekarang. Keseluruhan klub yang bermain pada divisi teratas kompetisi mereka sudah terdaftar sebagai klub profesional, berbanding terbalik dengan liga kita yang lebih mengedepankan gengsi bukan profesionalitas. Lihatlah, mereka sudah berlari kencang, sedang kita masih belajar untuk berdiri. Jauh sudah kita tertinggal.

Nada sumbang lain yang selalu menjadi keluhan adalah seringnya pembayaran gaji yang terlambat, susunan jadwal yang berubah sesuka hati, pergantian regulasi yang diputuskan sepihak maupun ketertinggalan lain yang selalu terdengung setiap kali perputaran kompetisi digelar, seakan tak pernah menjadi pembelajaran bagi pelaku yang terlibat. Lalu, yang menjadi pertanyaan, dimana letak profesionalitasnya? Liga amatir yang selalu berkilah profesional mungkin akan lebih pas perihal kompetisi kita.

Segi profesionalitas yang tak ada, kesiapan tim yang berlaga pun tak punya, kualitas liga maupun wasit yang memimpin pun selalu dapat diperdebatkan, begitu pula federasi kita yang selalu konsisten melakukan kelucuan adalah penyakit kronis yang menggerogoti tubuh sepakbola kita.

Pada akhirnya, kita mau untuk tetap tertawa atau berusaha berbenah untuk mengejar? Memilih berobat untuk sembuh atau justru diam hingga terus tergerus penyakit yang akan menjadikan sepakbola negeri ini semakin busuk, wahai pecinta sepakbola nasional?

Lekas berbenah atau punah, sepakbola Indonesia!

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini