Home » , » Ganti Label Ganti Genre

Ganti Label Ganti Genre

Akhir pekan ini saya tidak khawatir kehabisan hiburan; mulai dari rilisnya Punk Goes Pop 7, Silverstein – Dead Reflection, Breathe Carolina – Coma, hingga rilisnya 3 dari 11 lagu dari Neck Deep yang akan meluncurkan album terbarunya berjudul The Peace and the Panic. Ada juga Sleeping With Sirens yang meluncurkan lagu barunya yang berjudul Legends. Lagu ini merupakan single terbaru mereka, sekaligus sebagai promo album terbaru mereka yang bertajuk Gossip yang akan rilis 22 September 2017 mendatang.

Yang saya sebutkan terakhir, nampaknya akan mengikuti langkah I See Stars yang mengusung sebuah genre baru bernama Electronic Hardcore Music, di mana perpaduan musik elektro dengan hantaman distorsi khas musik-musik keras seperti biasanya. Bagusnya, lagu yang ‘membekar semangat’ ditunjuk sebagai official anthem U.S Olympic team dalam perhelatan Winter Game 2018 mendatang.

Saya memiliki pendapat lain mengenai banyaknya band yang banting stir dalam ideologi mereka bermusik lantaran mengikuti kebutuhan pasar. Itu semua karena beberapa sebab, bisa karena berganti label, dengan mengandalkan musik-musik yang mengikuti perkembangan pasar, bisa juga mengikuti perkembangan pasar namun tidak berganti label. Yang kedua, bisa saja mereka sadar karena music yang mereka bawa sudah tidak banyak digandrungi pendengar.

Sebut saja Bring Me The Horizon yang taringnya mereka simpan lantaran berpindah haluan label dari Visible Noise ke dalam pelukan RCA. pelbedaan sangat tajam dimulai dari lagu Sleepwalking yang begitu soft dan mengarah kepada alternative. Dua tahun kemudian, semakin terasa pelbedaan gaya bermusik mereka dalam album That’s The Spirit besutan Sony Music. Sudah jangan ditanya lagi, semua lagu-lagunya tidak ada teriakan khas dari front man mereka, Oliver Sykes.

Kedua, sempat saya sentil dalam alinea kedua, I See Stars. Pertama kali mereka muncul, band ini membawakan sebuah aliran yang merepresentasikan jiwa nak muda tahun 2010an. Dengan mengandalkan suara khas Devin Oliver dan synthesizers yang begitu disukai remaja-remaja pada jamannya. Kini, synthesizers masih dipertahankan, namun diperluas menjadi programming dan mengadopsi EDM menjadi EHM. Duer!

Belakangan SWS, hampir hilang dari pakem awalnya. Front man mereka begitu kuat, sampai-sampai SWS itu nama lainnya Kellin Quinn. Saya pun yakin, sekali pun Kelling Quinn bersolo karir, nama dia lebih besar dari bandnya saat ini. Patut diberi apresiasi, Kelling lebih suka ngeband atau ambil objekan featuring bersama band lain ketimbang bersolo karir.

Berikutnya Alesana! Band kesukaan saya sepanjang masa. Mulai dari album On Frail Wings of Vanity and Wax hingga The Annabel Trilogy Part III: Confessions, lagu-lagu mereka selalu mengandung kesan dongeng, fantasi dan sebuah cerita yang begitu indah. Namun, dalam urusan ideologi yang mereka bawa, album terbaru mereka mulai terdengar seperti sebuah simfoni teatrikal ketimbang sebuah band post-hardcore.

Mungkin masih banyak contoh band yang banting stir lantaran label atau mengikuti mangsa pasar lainnya, namun yang di atas ini murni band-band yang saya ikuti perkembangannya dari mulai mereka muncul sampai menjadi besar sampai saat ini. Kecewa? Sedikit, namun karya-karya mereka selalu mencuri perhatian saya entah karena faktor A, B atau jangan-jangan Z; selalu muncul tanpa diduga.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini