Home » » Jawaban Untuk Sahabat Apet; Prihal Pertemanan

Jawaban Untuk Sahabat Apet; Prihal Pertemanan

Oleh: Gusti Aditya

Selamat malam sahabat (karena ketika menulis tulisan ini, jam di laptop saya menunjukan pukul dua lebih duapuluh enam). Bagaimana kabar anda? Sudah lama kita tak tegur sapa, menengguk kopi bersama dengan bertukar wacana hebat ala presiden dengan wakilnya seperti biasanya. Ya, kini hanya sebatas sosial media, rencana untuk berkunjung selalu ada, namun keadaan yang menjembatani semua.

Mungkin cara seperti ini adalah cara yang pertama saya gunakan untuk bertegur sapa kepada anda. Entah rasa kangen saya saja atau ada alasan lain yang membuat saya sudi membuang waktu untuk menanggapi tulisan luar biasa milik anda. Ya, saya mencoba mendekontruksi kegelisahan Saudara Apet yang dituangkan dalam tulisan yang berjudul "Teruntuk Teman Lama".

Saya tidak mencoba membuat anda jatuh cinta kepada gaya bahasa saya. Pun saya tidak mencoba untuk membuat anda membenci saya lantaran tulisan tanggapan ini untuk anda. Suka-suka anda sajalah dalam menyikapinya. Toh saya yakin anda tidak seperti mereka yang bebal akan kritikan. Namun, semoga semua kegelisahan anda segera enyah setelah membaca sangkalan dari saya. Selamat membaca.

-ooo-

Setelah membaca tulisan — yang lebih mengarah kepada dongeng— milik kawan saya yang bernama Muhammad Apet, saya teringat puisi Chairil Anwar yang berjudul 'Aku'. Entah mengapa, dengan lucunya, tiba-tiba teringat bagian ini, "...Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang' merasuk dalam pikiran dan seolah saya berada dalam posisi Saudara Apet rasakan.

Kedewasaan sahabat saya ini terlihat dalam paragraf awal saja, karena selanjutnya hanyalah remah-remah ingatan dia yang saya rasa tidak perlu dipenakan. Seperti ini bentuk kedewasaanya; '…Semakin bertambahnya umur, saya menyadari akan satu hal yang akan selalu saya amini hingga nanti, bahwa teman lama hanya dan akan tetap menjadi seorang teman lama, kita tidak bisa untuk berharap lebih hingga dipaksa untuk tetap menjadi baru seperti dulu saat kali pertama bertemu.'

Paragraf-paragraf selanjutnya hanyalah sekumpulan opini yang dipercantik dengan fakta yang dilihat secara sebelah mata saja. Seperti '…Dimulai dari obrolan grup yang kian sepi, menjadi seorang silent readers tanpa mau untuk ikut nimbrung, pun ketika bertemu di jalan memasang gimmick membuang muka, hingga mungkin jika sudah mencapai tingkat stadium akhir, bisa dengan mudahnya untuk melupakan teman lamanya…'

Selanjutnya, '…Entah mungkin memang bukan lagi menjadi prioritas di daftar agenda pentingnya berkat adanya kerjaan, kuliah, tugas, pacar atau pun teman baru yang kelak juga akan di lupakan kalau sudah waktunya. Atau memang begitulah orang tersebut, berusaha untuk tak memperpanjang masa silaturahmi dengan teman lamanya.'

Seharusnya anda sudahi saja tulisan anda di paragraf awal. Karena paragraf berikutnya, yang sepertinya sungguh puitis dan indah, namun yang sebenarnya terjadi hanyalah Ad Hominem belaka. Jadi intinya seperti ini; Aku ini binatang jalang, jadi aku bebas menilai semua kawanku karena aku liar. Mereka yang tak menganggap aku ada, maka mereka semua membuangku. Yeah, aku hanya manusia dari kumpulan yang terbuang.

Mungkin anda memiliki pola pikir yang loncat menuju kesempurnaan berwujud utopia yang kemudian menjadi bias dan tak menentu wujud konkretnya. Kehidupan itu seperti yang Walter Benjamin katakan, bagaikan percikan sekejap yang sesegera mungkin akan hilang. Sudah. Tak ada yang perlu diharapkan dari yang namanya perpisahan— dalam konteks tulisan anda. Pun anda tak perlu mengernyitkan dahi dan menunggu sebuah ending dalam dongeng yang berkata 'dan akhirnya mereka pun bersatu kembali'.

Sebenarnya apa yang anda risaukan? Teman anda? Yang jika ada rencana untuk berkumpul, pasti ada yang tak bisa menghadirinya? Bagaimana jika saat anda dulu berteman dengan seorang individu, yang sebenarnya terjadi adalah individu tersebut terpaksa berteman dengan anda karena kalian masuk dalam lingkungan yang sama? Apakah anda akan menulis kalimat awal luarbiasa dengan buntut paragraf yang aneh lagi?

Kita—anda dan saya—ini sedang masuk kedalam sebuah dimensi bernama realita sosial. Seperti yang Emile Durkheim katakan, fakta sosial (dalam penggunaan term 'realita sosial', Durkheim menggantinya dengan fakta sosial) adalah cara-cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang bersumber pada satu kekuatan di luar individu, bersifat memaksa dan mengendalikan individu, serta berada di luar kehendak pribadi individu. Kemudian, jangan-jangan, saya memiliki motif tersendiri dalam menjalin hubungan persahabatan dengan anda? Atau malah anda terpaksa bersahabat dengan saya?

'Jangan sampai mengecewakan orang tersebut hingga pada akhirnya tidak mau lagi untuk repot-repot mengumpulkan…' Anda serius bahwa anda dalam kondisi sadar dalam menulis kalimat ini? Jika sadar, baiklah, pragmatis masih menguasai pola pikir loncat hingga kalimat yang hampir mendekati akhir ini. Di saat anda sibuk mengumpulkan kawan lama anda, pada waktu yang sama, kawan lama anda tersebut muak bersembunyi dalam sebuah kepura-puraan. Ya, mereka muak melihat wajah anda karena saat ini anda sudah tidak menguntungkan bagi mereka. Gelar ketua kelas sudah tidak berarti lagi, Bung.

Tak perlu ditampik, kisah indah yang anda toreh palingan juga dicap sebagai sebuah foto yang terpampang dalam home instagram kawan anda saja. Tak lebih, hanya berupa sampah di dunia maya yang enggan untuk dihapus lantaran rasa pekewuh. Nah, anda lebih memilih kejujuran yang menyakitkan atau utopia yang perlahan mengiris hati anda tiap pertemuan? Jika kejujuran yang menyakitkan, dengan ketidakhadiran kawan anda dalam sebuah pertemuan, merupakan contoh yang paling nyata. Setidaknya anda suka akan kejujuran, bukan?

Sudah lah, sahabat, berhentilah mengejar utopia. Anda ini berharap sebuah utopia yang seperti apa? Seperti jaman anda dan kawan semua berkumpul? Jika iya, anda adalah orang yang tidak bersyukur. Anda tidak memaknai tiap pertemuan yang dahulu anda rasakan. Jika anda memaknai, ya sudah, biarkan kenangan itu karam, jangan berharap untuk muncul kembali.

Mengutip sebuah lirik yang begitu indah dari band kenamaan bernama Neck Deep dalam lagunya yang berjudul Gold Step, "If you write the story, then you'll find out we're all stuck on the same page." Benar, anda tak bisa menyalahkan kawan anda yang tak hadir dalam pertemuan, melainkan anda sendirilah yang salah karena tak memaknai sebuah pertemuan yang dahulu telah terlaksana.

Panjang umur, Sahabat.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini