Home » » Jumatan Bersama Sengkuni: Yang Ada Hanyalah Gelak Tawa

Jumatan Bersama Sengkuni: Yang Ada Hanyalah Gelak Tawa

 
Oleh: Gusti Aditya

Tidak tahu tepatnya kapan, pokoknya terjadi pada hari Jumat. Ketika jam menunjukan pukul dua belas, entah lebih atau kurang, ketika gema Adzan Dzuhur berkumandang. Sudah lama, karena terakhir kali saya Shalat Jumat pada saat semester dua (sekarang saya semester lima).

Entah angin apa tiba-tiba saya memutuskan untuk berkunjung ke Masjid Kampus Gaj Ahmada di Sleman. Mungkin karena suara adzannya yang merdu. Atau ada semacam gaya tarik tersendiri karena pada saat itu salah satu tokoh agak besar Indonesia mengisi ceramah.

Namanya lupa, tapi dalam tulisan ini akan saya sebut Sengkuni saja.

Saya sebut Sengkuni karena setelah searching di koran, blio memiliki julukan tersebut. Maaf, mungkin mirip dalam segi fisik atau penampilan. Tapi menurut saya persamaannya terletak di jalan pemikirannya.

Jangan salah, Sengkuni ini cerdas. Siapa lagi jika bukan dia yang berani melawan Basudewa? Siapa lagi yang berani melancarkan gencatan urat saraf kepada para Pandawa? Ya Sengkuni to, lha wong lagi ngobrolin Sengkuni.

Sengkuni lah urat nadi sebelas Aksohini milik para Kurawa. Jika tidak ada blio, mungkin Drupadi tidak dilucuti oleh Dursasana. Atau mungkin tidak akan terjadi perang di Kurusetra karena Pandawa yang dinahkodai Basudewa sudah menang tanpa harus melalui masa pengasingan yang amat menyiksa.

Weh, santai to, Sangkuni yang sedang saya obrolin ini tidak sebejat tokoh wayang tersebut. Sedikit sih, tapi tidak sampai melucuti wanita atau memecah belah suatu negara karena pemikiran-pemikirannya yang brilian. Untuk yang saya sebutkan terakhir, setidaknya belum, enggak tahu kalau sore. Entahlah.

Perawakannya kalem. Sumpah, jika teman saya tidak ndumel dan memaki-maki blio, saya tidak tahu jika yang menjadi khotib adalah tokoh agak besar Indonesia. Rambutnya sudah memutih. Entah karena faktor umur atau terlalu banyak campur tangan memikirkan atau ngerecoki negara.

Pada waktu itu saya tidak faham blio ngomongin apa. Jujur, saya bukanlah orang yang religius, tapi setidaknya saya tidak pernah menuliskan sebuah pengantar dalam buku Ali Syariati yang terkenal sebagai pemikir kritis dan berpihak pada orang lemah, namun belakangan blio malah mengusik 'kebangkitan komunisme di Indonesia'.

Pantas rambutnya memutih, lha wong blio ini merasa bahwa komunisme menghantui dia. Padahal komunisme saat ini sedang karam dalam kuburan bernama otak mahasiswa. Eh, blio juga pernah jadi mahasiswa lho, pasti tahulah konsep dasar dari ideologi ini. Oh ya, satu kampus juga dengan saya. Bangga.

Saat berdiri di atas mimbar (maksud saya bukan berdiri di atasnya), blio ini kelewat berwibawa. Retorikanya ciamik, suaranya merdu dan jika kamu menutup mata dan menenangkan pikiran, mbablas tidur adalah hasilnya. Bercanda.

Terlepas dari semua candaan, blio hebat dalam bertutur kata. Santun dan ya tadi, kalem. Pantas saja banyak yang kagum padanya (walau dalam fakta ya lebih banyak yang tidak suka). Tapi saya masuk dalam kategori yang kagum padanya. Bercanda lagi.

Hidup dalam jaman generasi ketiga, Sengkuni ini sudah banyak sekali makan asam garam kehidupan. Jauh sebelum blio khotbah di depan saya, blio adalah saksi hidup sebuah sejarah. Entah sejarah versinya siapa, namun yang saya ingat ya Sengkuni ini yang berandil besar dalam lengsernya Gus Dur.

Ya, pada dahulu kala tanpa kata alkisah, Bapak Bunglon yang pandai menyamar, pada saat itu jabatannya sebagai Menkopolkam sedang getir. Hendak didepak oleh Gus Dur agar proses persidangannya mengenai pelanggaran HAM segera tuntas. Datanglah Sengkuni yang dahulu menjabat sebagai Ketua MPR, mengatakan bahwa Gus Dur terlalu tergesa-gesa dalam pengambilan keputusan.

Oh ya, kita sudah tahu semua jika pengadilan yang dimaksudkan oleh Gus Dur ini tidak pernah terlaksana hehe. Dan berselang beberapa tahun, Gus Dur lengser dari kekuasaannya. Salah dewe, jendral kancil kok dilawan, Gus!

Sayangnya dalam Jumatan tidak ada sesi pertanyaan. Lha wong ndumel dikit aja dianggap tidak sah kok, apa lagi nanggepi Yang Mulia Sengkuni ini. Pasti akan memakan banyak kalimat beralinea yang panjang. Padahal, jika ada sesi pertanyaan, saya ingin bertanya; kapan selesai ngomongnya?.

Lha ngantuk, dap. Hehe.

0 komentar:

Post a Comment