Home » » Kata Sederhana; Dusta

Kata Sederhana; Dusta

Oleh: Gusti Aditya

Kata mereka aku ini dusta, aku benarkan dan jawab iya. Aku mengangguk kemudian menunduk. Aku pula menambah mereka bukti yang nyata bahwa aku ini dusta. Namun, engkau masih percaya. Malah engkau tertawa terbahak-bahak.

Kata mereka aku ini dusta, aku benarkan dan jawab iya. Mereka benar dengan berkata bahwa manusia seperti aku ini hina. Mencintai wanita aristokrat sepertimu, padahal aku ini seorang proletar yang tiap pagi harus berangkat ke sebuah sangkar bernama pabrik kelabu. Malah engkau mengucapkan "semangat" kepadaku.

Benar, aku ini dusta. Aku ini hanya anak petani tua dari sebuah gubuk di seberang sana. Bukan anak dari seorang tentara yang setiap hari menenteng pangkat atas nama papanya. Apa bagusnya seorang pendusta? Hal yang bagus dari diriku hanyalah ketika aku sanggup menatap matamu yang berwarna biru agak keungu. Ketika aku sanggup berkata "maukah engkau hidup sederhana bersamaku?".

Benar, aku ini dusta. Berkata padamu bahwa aku akan menemukan sebuah utopia untukmu di dunia yang serba fana. Aku berdusta bahwa diriku adalah seorang Messiah yang akan mengantarkanmu ke sebuah tempat bernama surga. Di mana tak ada duka, yang ada hanyalah suka.

Aku berdusta kepadamu tentang bunga keabadian. Tak ada wujud mawar, bukan juga melati putih tanda kesucian sebuah cinta. Kau tahu bunga apa yang aku maksud? Dirimu lah bunga itu. Mengapa engkau abadi? Karena kau telah memiliki hatiku ini, yang akan terus selamanya ada, tanpa sebuah 'hilang' yang merusak segalanya.

Aku berdusta lagi saat aku berkata akan membangunkanmu sebuah istana. Bagaimana bisa aku membuatnya, ketika membeli samovar saja aku sudah tidak mampu untuk membelinya. Namun, bukankah sebuah gubuk, jika bersamamu, sudah merupakan sebuah tempat yang indah? Juga akan engkau tata layaknya sebuah istana untuk kita berdua?

Sayangku, aku berdusta kala aku bilang akan mencintaimu hingga mati, karena cintaku akan terus mengawalmu hingga tangan lembutmu mengetuk pintu surga, dan tangan besarku yang akan membukanya. Di situlah rasaku masih ada. Mengendap dengan indah bersama cacing-cacing tanah yang sedang memakan dagingmu dalam pusara.

Aku berdusta kala berdendang lagunya Banda Neira "Kau di liang yang satu, aku di sebelahmu", karena engkau harus tau, buat apa raga kita bersama tetapi nyawa kita entah kemana? Lebih baik raga kita berpisah, namun aku menunggumu di sebuah tempat, di mana kita pertama kali bersua. Aku akan seperti waktu itu; menantimu dan membaca sebuah buku.

Benar, aku akan menantimu, kali ini aku tak berdusta. Aku ingin terus menantimu, di tempat yang ramai dengan suara kereta api yang bising tiada hentinya meraung-raung seakan gelisah bahwa aku akan pulang. Tidak, aku tak akan pulang sebelum engkau menemuiku. Aku tunggu engkau hingga tiba, dan aku tunggu engkau hingga bertanya "kita hendak kemana?" Lalu aku jawab "menuju keabadian".

Kau akan kembali bertanya, "kemana?"

"Keabadian... Eh, maksudku kita hendak pulang. Kerumahmu. Istirahat dan mengikhlaskan kepergianku yang tragis nanti," jawabku yang kemudian aku merangkulmu erat-erat.

Ah, sayang, lagi-lagi aku berdusta.

0 komentar:

Post a Comment