Home » , » Kebun

Kebun

Oleh: Gusti Aditya

Di belakang rumahku terdapat sebuah kebun yang di kelilingi oleh semak belukar. Belum aku sempat untuk membereskan halaman belakang rumahku yang sudah kian tak terurus itu. Mungkin sekitar tujuh bulan. Tepat ketika aku diterima di sebuah universitas di kota sana. Aku menjadi sibuk belajar, hingga lupa bahwa aku memiliki kebun yang lumayan luas. Sebuah kebun yang cukup menghidupiku dan membayar semua biaya kuliahku.

Tibalah saat masa akhir semester. Semua kegiatan perkuliahanku libur dan aku memiliki banyak waktu luang. aku gunakan untuk menyapa beberapa tetangga sekitar rumah, berolahraga dan tentunya membersihkan kebunku yang dipenuhi rumput liar.

Astaga! aku mengerti dan aku faham. Rerumputan itu akarnya masuk tepat di bawah tanah. Entah menjalar ke mana, entah berakhir di mana. Yang pasti rumputnya menuju ke atas, menuju ke sumber cahaya. Aku semakin pusing kala melihat kata-kata berupa “R.U.M.P.U.T” keluar dari substansi dirinya. Nama tersebut keluar dari sebuah tumbuhan hijau yang menjalar di tanah. Aku juga tak tahu apa nama alat yang bisa membasmi hal tersebut.

Aku melihat ke langit. Langit dipenuhi kata-kata yang barus saja melepaskan diri dari substansi. sama halnya dengan “R.U.M.P.U.T”, aku melihat semuanya, aku berada di antara mereka, tumbuhan hijau yang tidak memiliki nama. Aku membungkuk, kemudian jatuh terjungkal. Ada sesuatu keluar dari diriku, namaku! namaku sudah berada jauh dari tubuhku.

Aku hanya sebuah wadah yang tak memiliki isi. Otakku keluar, mata kanan ku berjalan dan kedapatan mengobrol dengan hidungku. Aku sudah tak kacau lagi, karena otakku sedang berciuman dengan seekor ayam tetanggaku. Ciumannya sangat ganas, saling melumat, entah mengapa aku jijik melihat mereka. Nah, itu dia, itu si tangan kiriku, sedang mencakar-cakar pagar yang kemarin baru aku cat.

Aku sadar, tanpa mereka aku bukanlah diriku. Diriku adalah kesatuan yang nyata. Kedua mata untuk melihat, hidung untuk mencium bau, otak untuk mencerna logika dan tangan untuk menggenggam. Aku sadar pula bahwa tanpa interaksi dengan alam, aku bukanlah aku yang sempurna. Aku buta akan adanya benda-benda. lahirnya benda-benda karena adanya kebutuhan. Hidup harmonis dalam lingkungan alam.

Aku tidaklah gila, aku hanyalah sedang bereksistensi semata.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini