Home » , » Ketika Novel Dilan Bukan Lagi Menjadi Kitab Mbribik Nasional

Ketika Novel Dilan Bukan Lagi Menjadi Kitab Mbribik Nasional

 
Oleh: Gusti Aditya

Walau ndak paham apa yang sedang diributkan, pokoknya saya ingin ikutan!

Sebenarnya novel karya Pidi Baiq (yang saya tidak tahu orangnya baik beneran atau hanya sekedar nama) ini membuat saya pede setengah mati terhadap lawan jenis. Pacar saya korbannya, hasil nyata dari praktek lapangan hasil membaca novel Ayah di laman blog pribadinya. Bagaimana tidak berhasil, novel ini layaknya sebuah kitab bagi para jomblo yang mulai kehilangan arah dan tujuan hidup yang mulai kelimpungan ini sangat menggambarkan dan menjadi sebuah utopia.

Mulai dari cara gebet cewek dengan hemat; Dilan ngasih TTS ke Milea dan sudah terisi sepenuhnya dengan dalih agar si doi tidak capek-capek untuk mengisinya. Muka saya saat membaca ini sudah menyeringai geli, di saat ribuan remaja mengusung prinsip relationship goal dengan taburan bunga bertuliskan 'HBD', ini si Dilan dengan santainya memberi sebuah TTS yang harganya lebih murah dari setangkai bunga.

Lho, hati saya menjadi terenyuh kala mendengar respon dari Milea yang mengatakan Dilan ini orangnya tidak modal tapi sangat romantis dan hadiahnya berkesan.

Kemudian ketika mengajak berkenalan; "Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja." Iya, sudah. Tidak harus modus salah kirim chat atau pura-pura nabrak ketika jalan seperti di FTV. Langsung, terukur dan terarah. Milea mungkin gilo, tapi jika ditambah kalimat gombal di belakangnya mungkin akan menjadi sedikit penasaran. Gombalnya bukan sekadar gombal, lho.

Satu hal lagi, Milea pernah bilang jika Dilan itu tidak tampan. Saya ulang lagi, tidak tampan. Ada di bab keempat, Milea mengatakan jika Beni (mantannya) itu tampan dan keren. Kemudian ia juga mengatakan jika Nandan lebih tampan dari Dilan. Jadi, Dilan itu biasa. Bukan pria yang lebih mementingkan gaya rambut dan berpakaian melebihi segelanya seperti salah satu personel Koboy Kecil.

Semua saya praktekan. Alhamdulillah pacar saya sudah terpropaganda di otaknya jika mencari pacar tidak harus tampan, tapi yang bisa membuat senang. Selesai.

Tiba-tiba jagat dunia maya heboh, pemilihan Iqbaal (ini 'a'nya memang harus 2, ya?) dalam film Dilan 1990, membuat banyak pria kategori tampan bagian tengah seperti saya galau tidak terkira. Bagaimana tidak, alih-alih membayangkan Dilan itu sebuah representasi kebangkitan pria tampan level biasa saja dalam mendapatkan wanita cantik model Milea, eee dilalah malah pria yang 'tidak melambangkan cowok dari dunia perklitihan' ini yang dipilih.

Untung saya sudah dapat pacar cantik sebelum Iqbaal muncul dan diperkenalakan sebagai cast Dilan, bagaimana jika ia terpilih duluan sebelum saya nembak pacar saya? Repot!

Mungkin pacar saya standar memilih pria akan bergeser ke arah pria yang rambut berpomade, kulit mulus dan bodi cungkring ketimbang puitis, rela berkorban, gemar menabung dan percaya diri, jika boleh sombong ya seperti saya ini. Hehe.

Jujur saya harus berbelasungkawa bagi para penikmat novel Dilan yang baru mulai baca setelah dipilihnya Iqbaal sebagai pemeran. Bukannya apa-apa, namun tajinya novel ini sebagai kitab mbribik sudah tidak berlaku lagi bagi para pria yang jenis ketampanannya berada di level pas-pasan seperti saya. Mbok tenan.

Ini yang terjadi jika kamu masih ngeyel mempraktikan hal-hal romantis di novel Dilan.

Kata-kata Milea yang jujur mengatakan jika Dilan itu menyenangkan, perhatian, romantis dan dedelduel lainnya hanya sekadar cangkeman. Coba kamu beli TTS yang gambarnya Meriam Belina sedang senam, isi setiap pertanyaan dengan memerah segenap akal dan kekuatan, jika sudah selesai segera beri bribikanmu sebagai kado termanis.

Dalam novel tersebut Milea sangat terharu. Ia baru pertama kali diberi hadiah seperti itu sepanjang hidupnya. Lagian juga siapa yang berpikir jika wanita akan senang diberi apapun tetapi dengan perjuangan. Dilan lah yang melahirkan pola pikir seperti itu. Dilan dalam novel tentunya. Bukan dalam film. Hehe lagi.

Bukannya terharu karena perjuanganmu ngisi TTS tersebut semalam suntuk, yang ada malah bribikanmu tertawa. Bukan hanya tertawa, mak tratap ia juga akan foto hadiah tersebut dan diupload di Instagram dengan caption "Belagak Dilan, ganteng juga kagak. Belagak mirip Iqbaal, padahal kayak kadal."

Ketika kamu ngajak kenalan dengan cara bilang ia cantik tapi kamu belum suka, lihat nanti sore. Halah cara tersebut tidak bakal berhasil mbok opo. Bukannya membuat bribikanmu penasaran, yang ada kamu akan viral di media sosial dengan tuduhan catcall.

Si wanita yang tidak terima akan membuat status di line dan akan di like oleh seleb line seperti Usam dkk.  "Kejadiannya tadi sore. Ini cowok buntutin gua dari pulang sekolah. Dia naik motor tua, pakai jaket jeans. Dikiranya mirip si Iqbaal yang meranin Dilan, padahal kayak kangkung di ungkeb berjam-jam. Terus godain gua lagi bilang gua cantik lah ini lah itu lah. Najis. Share = save, like jika bermanfaat."

Bukannya berkesan, yang ada kamu akan menjadi bahan perbincangan seminggu penuh di kampus atau sekolah. Isin.

Bapak saya dulu bilang, jika mau nyari pacar cantik model Sarah dan Jaenab, kamu harus cool dan macho seperti Rano Karno dulu. Jangan lupa kuliah di teknik, biar makin cool.

Si Doel menjadi kiblat para pria dalam tabiatnya mencari cinta pada jamannya. Kini Dilan. Dilanku bukan Dilanmu. Kita menjadi berbeda karena aku suka bukunya, kamu suka filmnya. Tapi, akankah esensi Dilan yang menyenangkan akan tergantikan menjadi Dilan yang mbois nan tampan? Lalu, akankah muncul lagi sebuah buku atau cerita yang mewakili sebuah utopia bagi kaum tampan kategori unik seperti saya? Entah.

Dilan, kamu ganteng, aku belum suka sama kamu. Gak tahu kalau sore, semoga enggak juga.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini