Home » , » Tentang Perpustakaan Impianmu

Tentang Perpustakaan Impianmu

Oleh: Tresti Wikan

Aku menahan air mataku kala jam berdenting dua belas kali. Aku tak beringsut pergi karena aku sadar bahwa mau jam berapa pun, aku tak akan berubah menjadi wujud asliku seperti tuan puteri bersepatu kaca. Inilah aku, wanita lemah yang menangis tersedu ketika ia pergi meninggalkanku menuju negara-negara yang aku tak tahu seperti apa wujudnya dan di mana letaknya. Sialan, pria itu membuat air mataku meleleh tiada hentinya.

Aku berada di antara dentingan jam dan luapan emosi yang karam kala aku mencoba menyadari bahwa pada hari-hari biasanya, malam tidaklah sepanjang ini. Pula kala bayangmu selalu singgah seperti tak memiliki dosa, kala napas terisak-isak dalam waktu yang sama. Harus aku akui, adanya dirimu membuat hidupku susah, namun jauhnya ragamu malah membuatku tersiksa. Sungguh, untuk apa aku dusta, orangnya saja sudah pergi entah kemana.

Aku mual, Ditya! Sungguh! Aku mual ketika mendengar kau bicara "agama itu candu", "Tuhan sudah mati", dan kata-kata busuk lainnya. Tak tahukah kamu bahwasannya kadar kapasitas cintaku sudah menyentuh puncak dan mengarah ke sebuah candu? Sampai kapan kau akan mengerti? Sampai semua rasaku ini mati seperti Tuhan yang ada dalam otak tololmu itu?

Kau mungkin memandangku hanya sebagai wanita biasa yang memberimu arah. Namun, aku memandangmu layaknya sebuah buku yang selalu engkau baca. Aku ingin engkau jamah, buka satu persatu dan kau mengerti apa yang aku mau. Seperti buku yang selalu melekat dalam tanganmu itu! Sampai kapan aku harus selalu diam, menunggu kamu membaca buku, lalu kau berkata; Eureka! Aku mencintaimu Tresti, sebatas konsep dan dogma semata.

Ya, kau pria yang hebat. Cita-citamu membuat perpustakaan di seluruh penjuru pedalaman di Indonesia. Pun kepergianmu lantaran masalah jam terbang profesi yang engkau tekuni. Marxisme, jurnalisme, nasionalisme dan entah apa lagi kata-kata sulit yang engkau ceritakan pada hari itu. Dengan senyum yang tidak seperti biasanya, dengan keyakinan yang aku kagumi atas bara semangat yang terus engkau kobarkan. Semua hasil dari jerih payahmu.

Kali ini aku bisa apa? Hanya ikhlas kala engkau tersenyum lebar saat meninggalkanku di sebuah bandara. Senyum yang selalu aku ingat; senyum yang lebih bahagia ketimbang saat aku mengecup pipimu. Kala aku harus mengalah; ya, Ditya, aku harus mengaku kalah dengan semua kegiatanmu itu.

0 komentar:

Post a Comment