Home » , , » Demi Allah Saya Membelot ke Siti atau Celsi, Syukur-syukur Madrid

Demi Allah Saya Membelot ke Siti atau Celsi, Syukur-syukur Madrid


Oleh: Gusti Aditya

"Dua puluh lima tahun Premier League di Britania sana sudah berlangsung, Gus. Dan kamu tahu berapa jumlah piala yang dimenangkan Liverpool?" Dumel kawan saya yang sedang kecanduan makan gorengan anget yang disajikan di Bonbin.

"Ya piala apa dulu," Jawab saya santai. Walau saya tahu arah pembicaraan dia adalah ngenyek.

"Lebih rendah dari IPK-ku."

"Bangga amat kamu, Reh. Oh, yang penting ada yang lebih rendah dari nominal IPK 0,5, ya?"

"Tepat! Nol. Alias nihil! Jika ikut mata kuliah Pak Sudar mungkin Liverpool nilainya adalah E. Harus pakai huruf kapital. Jika bisa fontnya berwarna merah," jawab Areh semangat sekali. Saya sih hanya haha-hihi, padahal sudah kemlutuk di dalam hati.

Areh ini anak kemarin sore yang baru faham mengenai dunia persilatan sepakbola. Betapa kerennya, sudah silat, ditambah main bola. Tidak usah dibayangkan, pasti kalian sedang memikirkan Shaolin Soccer? Ketahuan umur kalian sudah sepantasnya untuk menikah, bukan untuk mengerjakan makalah.

Areh ini pendukung sebuah klab asal Manchester. Sayangnya bukan yang warnanya merah, namun ia mendukung yang berwarna telur asin alias City. "City saja sudah dapat dua, Liverpool berapa? Delapan belas? Kamu sudah lahir emangnya?" Itulah kata-kata andalannya.

"Mendukung sebuah klab itu bukan perkara sok setia. Yang penting adalah diri kita yang selalu merasa bahagia. Tujuan kita lihat bola itu apa jika bukan untuk hiburan."

Untung dia sedang nggambleh di depan saya. Coba di depan ayah saya, bisa-bisa digampar tanpa ampun. Ayah saya ini pendukung Manchester merah garis keras, katanya; sepakbola itu agama. Nobar adalah ritual ibadahnya.

Saya dalam titik ini, ada setujunya dengan Ayah. Namun, lebih setuju dengan Areh. Begini;

Jika ayah mengatakan sepakbola sebagai agama, boleh lah. Namun sepertinya kurang relevan jika argumentasi seperti itu digunakan pada jaman sekarang. Remaja ginuk-ginuk yang baru tahu bola seperti Areh tidaklah menempatkan sepakbola sebagai hal yang utama. Itu!

Lalu apa yang utama? Pemain dan piala. Dua hal ini yang bermain begitu signifikan di era sekarang. Jika ayah menganggap MU sebagai agama, ia tidak peduli ketika Cantona yang memutuskan untuk pensiun. Siapa itu Cantona? Hanyalah buih di luasnya samudera United. Ada atau tidak adanya dia, United ya tetaplah United.

Bagaimana dengan Areh? Bagaimana jika Aguero dan Silva hengkang? Beberapa waktu yang lalu, ditinggal Joe Hart saja si Areh sudah ketahuan like fans page Torino di Facebook, bagaimana jika Yaya atau Aguero yang pindah. Bisa-bisa Areh stres lantaran harus memilih mendukung klab mana; apakah klabnya Aguero, atau klab tujuannya Yaya. Syukur-syukur jika mereka satu klab lagi. Jika tidak?

Ayah saya pernah berkata seperti ini; MU peringkat sembilan belas saja tidak masalah, tetapi yang di peringkat dua puluh adalah Liverpool. Ya, perang urat syaraf antara anak dan bapak adalah hal yang lumrah di keluarga saya. Piala? Bahkan sebuah mobil tua mengatakan jika itu hanyalah piala kosong.

Areh? Jangan ditanya. Setiap Nobar dia selalu berada di baris terdepan. Nobar apa? Ya Nobar apa saja; El-Classico hadir, final champion league hadir dan ajang lainnya tidak luput ia memeriahkannya. Pun, ia selalu membawa dua jersey. Katanya sih antisipasi; jika Barca kalah, jersey Madrid sudah siap di tasnya. Begitu juga sebaliknya.

Tetapi dengan berat hati, saya harus setuju satu hal dengan pemikiran manusia seperti Areh. Ia pernah berkata, "Saya sedang membuat sejarah bersama City. Bukan sepertimu yang telah membusuk bersama sejarah yang telah lapuk."

Benar kan? Mendukung Chelsea atau City bukan karena glory hunter, tetapi karena mereka sedang membangun sebuah peradaban baru yang ingin diakui. Reh, maaf, dari pada City yang sejarahnya sudah bisa diprediksi, mending dukung Kendal County FC yang saya tahu setelah searching Wikipedia. Bener-bener dari 0 itu, Reh.

Tapi ya sadar atau tidak, kalian telah mendukung sebuah klab yang telah berjaya di masanya. Iya, kan? Saya pun sadar bahwa Liverpool pernah jadi seperti Barca pada eranya. Menang dan piala adalah hal biasa. Barangkali ada manusia seperti Areh yang dahulu menyukai Liverpool lantaran menangan. Sedangkan ada seorang mahasiswa yang sedang diece lantaran dia pendukung Everton yang kalahan.

Kemudian pendukung Everton tersebut membuat sebuah tulisan berjudul "Demi Allah Saya Membelot ke Liverpool, Syukur-syukur Torino" sambil begadang menunggu Everton melawan Hofenheim dalam babak kualifikasi liga champion.

Tidak usah sok setia, karena semua akan dicap glory hunter pada eranya. Kecuali saya, mungkin saya lahir di jaman yang salah, karena apa untungnya mendukung Liverpool di jaman sekarang?

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini