Home » , , » Mencari Pentingnya Ospek yang Tak Penting

Mencari Pentingnya Ospek yang Tak Penting

Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Ronde pertama kuliah bagi jemaah mahasiswa baru netas dari bangku sekolah akan berhadapan dengan kegiatan riweuh yang bernama ospek atau remehnya sebut saja masa orientasi kampus. Kegiatan yang semisal di kupas lebih dalam, merupakan aktivitas tydack mendydyck yang berusaha di dramatisir menjadi genting oleh para senior.

Esensi ospek yang sudah keluar dari jalur semestinya, justru dalam praktiknya diperparah menjadi kegiatan yang seakan tak punya faedah. Bibit-bibit mahasiswa baru ini dipaksa diminta untuk mengikuti program pengenalan kampus yang tak penting-penting banget itu bagi mereka. Kegiatan yang sesungguhnya lebih banyak dihabiskan dengan mengibas-ngibaskan secarik buku supaya selamat dari panas terik seharian. Selebihnya, ya, sekadar menanti jadwal makan gratis bagi anak kos. Tidak lebih.

Rutinitas yang bagi separuh maba pecinta drama Korea, memandang ospek tak lebih penting dari drama-drama menye ala-ala Oppa dan Ukhti-Ukhti Sarangheo Korea.

Jikalau ada kakak-kakak senior berujar, “Ospek itu wajib dek, untuk lebih kenal dosen, kampus, dan dunia di dalamnya yang akan kalian alami kelak selama kuliah disini”. Jawab saja, “Hasssyyaahh, omong opo mz, rha masyuk blas, uompol!”.

Lagi pula, tanpa berpartisipasi dalam ospek juga anda tentu akan tahu dunia perkuliahan itu sendiri. Tanpa perlu ikut ospek sekali pun. Lha wong nanti ujung-ujungnya juga cuma menghabiskan waktu lebih dari 4 tahun untuk sebats di burjo sekitaran kampus.

Bagi mayoritas jemaah mahasiswa baru, sapaan hingga titel dosen yang perkenalan saja, nanti waktu pulang sudah lupa, apalagi mesti ingat beserta tahu seluk beluk perkuliahan yang belum tentu 4 tahun akan lulus. Bisa-bisa pecah ketuban di tempat kalau sejak dini di dogma dengan celoteh tak bermanfaat macam ini.

Turut tidaknya kala masa orientasi kampus jua tak akan berpengaruh pada derajat titip absen seorang mahasiswa, yang lebih menonjol sih, lebih kepada tingkat intensitas kiriman uang bulanan orang tua yang akan menaikan level kualitas mahasiswa, dalam hal tingkatan “kenal” dunia perkuliahan yang otentik.

Pun di pelbagai lingkungan kampus masih saja menerapkan penggunaan perlengkapan absurd bin nggriseni yang harus dibawa sepanjang periode ospek berlangsung. Yang sepatutnya saya bingung, tujuanya memang semurni susu murni nasional yang sekadar melanjutkan warisan generasi sebelumnya dengan pembodohan atau memang settingan acaranya seperti itu yang tak ada faedahnya? Entah, hanya panitia dan tukang burjo yang tahu.

Lebih jauh, dalam sebagian praktiknya, kegiatan ospek ini agaknya menjelma bak panggung cari jodoh layaknya acara Take Me Out Indonesia. Mahasiswa baru seakan menjadi talent yang hendak diseleksi, dengan para kakak-kakak tingkat ini berperan selayaknya sang pemilih pasangan hidup yang manasuka memilih berdasar kriteria dengan penuh keleluasaan, jika tak suka bisa dengan gampangnya tinggal tekan tombol merah.

Perangai gahar juga seakan menjadi prasyarat yang terpampang di paras senior terhadap maba laki-laki, akan tetapi bakal beralih seratus delapan puluh derajat menjelma jadi kakak tingkat super cool kepada maba wanita. Seraya penuh hasrat kecantol satu diantara banyak mahasiswa baru yang turut ikut ospek sesuai target awal. Kurang lebih, begitu.

ꝋꝋꝋ

Dunia perkuliahan pada prinsipnya lebih menguji mental, kesabaran, ketekunan yang lebih dari ospek, misal ketika dimarahi ibu kos ketika bayar telat uang sewa kamar, rela makan nasi telor yang penuh minyak dan harus di rapel pula, di php dosen yang mendadak membatalkan waktu bimbingan sampai-sampai friksi dengan kakak tingkat demi memenangi hati si cantik kawan satu angkatan. Apa perkara tersebut di kenalkan dalam ospek yang menggambarkan kepingan “nyata” dari dunia perkuliahan itu sendiri? Saya rasa tidak, entah kalau mas anang.

Memahami ospek dari sisi mahasiswa baru dengan kegiatan yang tak banyak memberi manfaat seharusnya para event organizer kampus berfikir ulang tentang jenis kegiatan, kualitas dan kuantitas ospek itu sendiri agar lebih mendapat hasil positif bagi maba, agar kegiatan masa orientasi kampus terasa lebih bermanfaat dengan hasil berupa kekeluargaan, antusiasme, tanpa perpeloncoan, hingga jauh dari hanya sekadar kegiatan hura-hura tak berdaefah.

Percayalah, kuliah itu bukan sekadar tentang pakaian putih, celana kain hitam dengan embel-embel kertas kardus bertuliskan nama, prodi hingga foto culun jaman smp dengan tali rafia klabangan menggantung di leher. Jika terus seperti ini, dibagian manakah manfaat penting ospek yang katanya wajib dan banyak manfaatnya mengenal dunia kampus itu?

Mbok uwes, nek aku mending turu hehehe.

0 komentar:

Post a Comment