Home » , » Prenjengan Anak UAD Itu Adalah Goal Kampus Lain

Prenjengan Anak UAD Itu Adalah Goal Kampus Lain

Jika kalian melihat mahasiswa menggunakan korsa, bertuliskan jelas fakultasnya di geger mereka, bisa dipastikan mereka adalah anak UGM. Syukur-syukur tulisannya masih ketutupan tas. Paling parah ya polo hadiah event BEM ia kenakan dengan dalih tidak punya kaos lagi untuk kuliah.

Husnudzon, mungkin mereka (walau tidak semua) berjaga-jaga jika ada yang bertanya "kuliah di mana", mereka tidak kualahan dalam menjawab itu semua. Atau ada maksud yang lain? Ya sudah, nasib dapat kampus bagus. "Bodo amat filsafat, yang penting UGM. Bajingan.".

Coba kita bahas kampus yang lain, karena Jogja tidak melulu UGM, to? Apa, ya? UAD coba.

Tapi memang, sengaja saya memilih UAD. Menurut saya pribadi (dan kalian saya wajibkan mempercayainya), setail anak UAD adalah idaman bagi calon mertua. Anak teknik? STAN? Sepertinya harus sungkem dulu sama prenjengan khas anak UAD.

Bukan melalui riset yang rumit, karena hal ini muncul ketika rutinitas saya berangkat kuliah. Saya selalu melewati 'kompleks' UAD selama seperempat menit (dihitung dengan kendaraan bermotor dengan kecepatan 60 km/jam); kampus 1, 2 dan 5. Betapa luasnya. Mahasiswa UAD pasti boros bensin.

Dengan keterangan kampus satu berada di Jalan Kapas. Dekat dengan Mandala Krida. Kampus dua berada di Jalan Pramuka. Dan terakhir, berada di dekat RSJ. Rumah sakit Jogja lho. Ingat, Jogja, bukan jiwa. Sekali lagi, luasnya UAD.

Lewat bukan berarti saya abai terhadap hal-hal menarik yang saya temui. Mulai dari jajanan di kampus Jalan Pramuka, hingga proyek besar mereka di Ringroad Selatan sudah menjadi santapan saya sehari-hari. Tenan. Semua menarik. Apa lagi polisi yang muncul tiba-tiba di daerah Jalan Kapas yang katanya satu arah, padahal mah....

Nah, setelah hampir dua setengah tahun rutinitas melewati UAD dan kawan saya di sana pun bukan main banyaknya, saya memiliki catatan tersendiri terhadap gaya berpakaian mahasiswa UAD yang tercinta ini. Begini;

Pertama, rombongan ukhti-ukhti sarangheo. Banyak saya temui di kampus jalan Pramuka dan Kapas. Biasanya mereka tidak bergerombol, bersifat nomaden dan mengikuti lajur air. Jiwa mereka adalah modis, namun kebijakan kampus yang menganjurkan berpakaian sopan, jadilah jilbab yang mereka lampiaskan. Ditambah model rok yang super metet.

Jilbab gubet dari satu titik ke titik lainnya. Tidak lupa maskara dan pelembab bibir. Suara tinggi atau mengarah ke cempreng. Hobinya nonton drama Korea, mungkin SNSD menjadi kiblat mereka. Obrolan mereka seputar dunia kosmetik atau gosip bunga kampus yang sedang didekati kumbang kampus.

Dan, yang membuat saya pribadi terganggu, ialah parfum. Karena harum parfum ukhti sarangheo ini sudah tercium dari radius lima kilometer. Lha nek parfum mahal aja ndakpapa, lha ini parfum isi ulang yang biasanya mereka isi di depan Fakultas Hukum UII itu lho. Mumet!

Kedua adalah cowok-cowoknya. Entah kenapa, berani taruhan, 90% cowok UAD biasanya memakai hem kotak-kotak. Ya, pokoknya kebanyakan memakai pakaian berkancing. Tidak ada yang berani memakai kaos. Biasanya ini di kampus Jalan Pramuka.

Tipe yang kedua ini kebanyakan memadukan kemeja monoton dengan sneakers berwarna gelap; hitam, abu atau coklat. Memakai sabuk dengan alasan bajunya kebesaran. Jika ada dosen lewat biasanya bajunya dimasukan sampai udel. Jika ada bribikan biasanya kancingnya dibuka dan di dalamnya memakai kaos bertuliskan "love orange zone" atau "My Trip My Adventure".

Ketiga, anak-anak cowok di kampus Ringroad. Memadukan gaya artsy dan trendy masa kiniy, biasanya mereka lebih suka jeans kinos dan kaos berwarna. Tentunya dikombinasi dengan kemeja. Namun tipe yang satu ini biasanya lebih suka menggunakan jaket.

Jaketnya tentu jaket bomber warna gelap agar supaya terlihat seperti Pak Dhe Jokowi. Atau biasanya korsa. Baik itu hadiah dari event atau keikutsertaan dalam himpunan mahasiswa. Jarang ditemui korsa yang mengatasnamakan kampus atau fakultasnya. Mbuh kenapa, mereka lebih suka dengan korsa himpunan dan organisasi kampus. Jika korsa biasanya dilinting sampai seperempat lengan.

Mereka ngumpul di burjonan. Sering berdiskusi masalah politik, namun lebih sering ngobrol tentang mahasiswa baru yang cantik-cantik. Di burjo cuma beli es teh, tapi bisa memakan waktu sampai tujuh semester lamanya.

Keempat, cewek-cewek kampus 5 memiliki setail yang lebih masyuk. Sama dengan cowoknya, si cewek juga lebih suka memakai jaket. Atau paling enggak ya kemeja yang kebesaran, dalamnya memakai kaos band yang tentunya mereka tidak hafal lagu-lagunya.

Jika jaket bahan jeans, mereka biasanya memakai patch tumbler yang biasanya dijual lima ribu dapat dua di depan Maskam UGM ketika Sunmor. Jeans di kombinasi dengan jilbab model simple dan celananya joger berwarna bladrus atau fit n flare yang sedang diskon di Instagram. Sepatunya ya sneakers kalau enggak ya flat shoes.

Biasanya nongkrong di Kalimilk dekat Pamela. Pesen susu ukuran standar, buka laptop dan nonton film sampai subuh. Namun kategori ini semakin langka karena peraturan kampus mengenai prenjengan semakin ketat. Seketat rok milik ukhti sarangheo tadi. Saya harap akan ada penerusnya di tahun semester yang baru ini.

Kelima, tipe cowok full aksesori. Entah tipe yang satu ini sedang berniaga atau apa, karena di tangannya biasanya terdapat jam tangan dan aksesori seperti gelang yang jumlahnya bukan cuma satu. Jam tangannya mati dan gelang-gelangnya bisa sampai leher saking banyaknya. Golongan ini sulit ditemui lantaran keberadaannya yang seperti mitos.

Keenam, bisa disebut golongan Nobita. Tahu kenapa? Golongan ini sukanya memakai polo. Punya beberapa pasang dan beli di Mirota Kampus seharga dua puluh lima ribu rupiah satu potongnya. Dijuluki Nobita karena pakaiannya itu-itu saja. Seperti tidak pernah ganti karena memiliki polo banyak dengan model yang itu-itu saja. Biasanya anak kos, tersebar di beberapa kampus.

Ketujuh, golongan almamater garis keras. Golongan yang satu ini saya sangat suka karena kebanggaan mereka akan almamater yang warnanya kurang masyuk dengan prenjengan kekinian. Namun golongan ini tetap bangga memakainya. Mungkin karena terpaksa atau karena tugas lapangan.

ꝋꝋꝋ
Barangkali di antara pembaca ada yang tidak setuju karena beberapa golongan yang saya sebut tidak mencerminkan prenjengan kalian. Maka dari itu, tambahan-tambahan teman-teman di kolom komentar akan sangat membantu saya untuk mengembangkan mini riset tulisan ini.

Tujuannya, jika lancar, riset tulisan ini akan saya kembangkan menjadi sebuah skripsi. Jika tidak lancar ya mau bagaimana lagi.

Mau bagaimana pun, tubuhmu adalah otoritasmu. Tidak ada yang berhak untuk membatasi setail teman-teman sekalipun itu sebuah aturan baku. Tingkat kebahagiaan atau keberhasilan sebuah kampus, dapat dilihat dari cara berpakaian mahasiswanya.

Lihat saja anak ISI, jika kalian masuk sana untuk sekedar berkunjung, kalian akan selalu melihat gelak tawa para mahasiswanya, bukan tampang-tampang sumpek karena mau pakai celana pendek saja bakal digelandang ke komdis kampus.

Jadilah mahasiswa yang merdeka, karena mahasiswa UAD di mata saya adalah yang tersempurna di antara yang lebih sempurna.

0 komentar:

Post a Comment