Home » , , » Salah Jurusan

Salah Jurusan

 
Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Hal yang paling menohok seorang lulusan sekolah paling buncit adalah pertanyaan ajaib “Mau kuliah atau lanjut kerja? Mau ambil jurusan apa?”, dengan nadanya yang sok asik. Ajaibnya, pertanyaan ini selalu terulang di tengah obrolan. Yang bingung, ya, yang menjawab. Lha wong jawabannya belum mengalir di otaknya saat itu.

Paling jamak, ya, akan menjawab senada, “Hehe, masih bingung, belum punya pandangan mau ambil apa”. Receh, namun jika di generalisasi, berjibun persoalannya begitu. Sedikit di jumpai kasus siswa dengan jawaban tanpa pemrosesan macam, “Saya mantap akan memilih jurusan teknik karena saya ingin menjadi engineer muda!”. Kalau pun ada, agaknya dia hendak menjadi mahasiswa teladan: “telat lulus dan wisudaan”.

Luntang-lantung, lulus sekolah, ya, yang terbayang sekadar libur panjang, bebas, hingga kegiatan mbatang di atas kasur seharian. Rutinitas setiap pekan, tanpa kegalauan macam anak lulusan sekolah favorit yang setiap hari bersiap dengan lembaran soal, sembari lebih meneguhan pilihan jurusan yang bakal di pilih.

Rutinitas yang alhasil mengancam di tampuk perjalanan menjelang hari pemilihan jodoh (jurusan), lamun tak tahu benar tidaknya, dia adalah jodoh yang selama ini dicari atau bukan. Hanya bermodal hanpdhone merk anu, searching sana searching sini, tak menemui kejelasan. Hingga mencoba sok berlagak tanya dengan guru yang sejatinya tak tahu apa yang hendak ditanyakan. Begitu terus-menerus hingga akhirnya ladang gandum sudah terserang alien jahat.

Mujur andaikata yang di temui jodohnya sudah jelas, berkat masa pendekatan yang lama (sebut saja proses kepo dengan orang yang sudah ambil jurusan yang di pilih), menimbang apakah dia yang terbaik (dengan membandingkan jurusan lain yang akan di pilih sesuai bakat, passion, dll), dan yang paling penting siap tidaknya menjadi mahasiswa yang katanya jam tidurnya akan menyusut, patut menjadi orang yang berkembang lantaran sudah menjadi mahasiswa dan yang paling umum sih cita-cita menjadi mahasiswa berprestasi, berprestasi untuk tidak titip absen lebih tepatnya.

Kegalauan yang sejak kemarin singgah sejenak, kini kian lama lebih acap datang, entah dari mana asalnya, mendadak lebih sering mampir. Di tengah keragu-raguan, akhirnya tersaring satu diantara dua pilihan asal-asalan yang mbuh ah benar atau tidak, yang terpenting “jalani dulu”, sesal belakangan. Mudah bukan? Hanya di minta memilih kenapa harus pakai bingung.

Dalam prosesnya, “jalani dulu” yang kalau tidak klop, tidak semua mahasiswa baru, dapat langsung berucap “kita udahan aja ya, aku mau sama yang lain (pindah jurusan), yang lebih bisa buat aku nyaman”. Biasanya sih yang model beginian tidak kuat berkat selalu mendapatkan oleh-oleh berupa revisian dosen, hingga ujungnya tak lama pulang kampung lalu ternak lele, untung-untung ada yang langsung menikah dengan wanita yang dijanjikan akan di nikahi ketika lulus, namun nyatanya lebih cepat.

Ya, yang harus prihatin, ya, yang tetap terjerumus dalam dunia kelam (sebut saja revisian, laporan, rutinitas titip absen, dll), mau tidak mau harus mau untuk konsisten dalam ritual-ritual kemahasiswaan untuk menambah deret panjang nama belakang. Entah, nyaman atau tidak yang terpenting pulang kampung dengan tambahan gelar di ujung nama belakang. Entah, ketika di tanya “eh, bisa ngerjain ini tidak?”, dengan senyum simpul sembari membuka aplikasi browser, searching kemudian.

Proses-proses yang di lalui yang hanya waton mlaku tanpa di imbangi dengan proses benar dalam jalur kemahasiswaan yang ujungnya telat sadar dari pingsan setelah mengetahui kalau merasa salah jurusan, tidak lama akan muncul pikiran “mending nikah” lalu menimang anak-anak lucu sembari menatap istri cantik setiap mengurai rambut di pagi hari. Nikmat mana lagi yang ingin engkau dustakan daripada lembaran kertas revisian yang semakin menumpuk.

Selain itu, paling-paling yang masih tetap lanjut mengejar deadline lulus kilat, mikir mau nulis judul skripsi saja sudah bingung, ditambah di tolak terus oleh dosen, yang niatnya mau lulus cepat akhirnya berfikir “ntar dulu deh, nikmatin dulu jadi mahasiswa”, begitu seterusnya hingga surat peringatan sudah sampai di kamar kosan.

Mahasiswa yang di awal rapi, buku tebal tak pernah lupa di bawa dengan tas segede gaban, rambut klimis nan wangi, makin kesini kian kumal. Jarang mandi, seperti sudah kebiasaan berkat telat sadar bahwa jurusan yang di pilih bukan pilihan yang di dambakan. Yang lanjut, ya, paling niatnya cuma yang penting lulus, masalah ilmu sama mau kerja apa pikir belakangan. Hal umum yang ditemui.

Ujungnya, ya, lulus dengan gelar namun tak banyak memberi dampak positif bagi bangsa dan tetangga. Tak ada bedanya dengan masa lulus sekolah di tingkat akhir, luntang-lantung tak punya tujuan jelas dalam hidup. Memilih jurusan kuliah tak semudah memilih jurusan kereta prameks yang dapat di pilih online, membayar, naik kemudian selesai. Prosesnya tidak semudah itu, ada pribadi yang ditempa, untuk berkembang menjadi mahasiswa kreatif penuh karya, kritis dan yang berkualitas untuk kemajuan bangsa.

Kalau memilih jurusan kuliah saja masih bimbang, lebih baik piknik dulu dengan memilih jurusan Jogja-Solo agar segera tercerahkan setelah makan Richesee.

Baca tulisan lainnya tentang KULIAH dan karya dari Muhammad Arif lainnya.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini