Home » , , » Balasan Surat dari Jogja #1

Balasan Surat dari Jogja #1

 Oleh: Tresti Wikan

Aku membuka suratmu pukul delapan. Setelah aku meminum susu segar dan sepotong roti yang tidak aku habiskan. Aku memakai kaos berwarna hitam, entah karena ini warna favoritmu, atau aku punya perasaan lain, lihat saja balasan suratmu nanti.

Jujur saja ya, Ditya, ketika suratmu datang, walau tidak menggunakan kertas, setiap kata yang engkau tulis sungguh membuatku sesak. Pemilihan kata dan juga kejelianmu dalam mengolah diksi membuatku luruh. Aku membayangkan melihat kepakan burung camar dan seberkas cahaya yang hampir hilang ketika kata perkata aku olah dengan seksama.

Tidak, Ditya, aku tidak sedang terpukau. Biasa saja.

Aku ingin memberi judul "Sekuntum Rindu dari Jogja", tapi menurutku agak norak. Atau "Sepotong Kasih untuk Priaku", tapi kau tahu aku tidaklah puitis. Ya sudah, jadinya "Balasan Surat dari Jogja" saja. Bagus, kan? Iya!

Bagaimana rasanya daging babi? Kata teman ku rasanya lebih enak dari daging sapi. Bagi, lah. Yang penting perutmu harus terisi. Aku tidak suka pria kurus.

Jika di sana lebih kering dan panas, pakailah sun block yang aku bawakan. Aku tak peduli nanti kulitmu sehitam apa. Aku hanya takut kamu sakit. Jika sakit, carilah sakit yang agak elok. Ya masa sakit karena kepanasan.

Jogja hujan sayang. Diterpa angin sepoi-sepoi. Dedaunan berguguran, lari kesana-kemari, seakan mereka sedih karena manusia paling menyebalkan se-Nusantara telah pergi jauh. Kau akan pulang, kan?

Nikmatilah perjalananmu itu. Tidak ada aku lantas engkau bersedih? Aku kira engkau tidak selemah itu. Anggap saja aku ada di sampingmu; melihatmu sekaligus mengagumimu. Iya, kan? Bisa apa aku selain mengagumimu? Ya, selain mencubit perutmu jika kau mulai menyebalkan.

Iya, jagalah kepercayaanku. Eh, kepercayaan apa, sih? Agama? Itu hak mu. Ayolah, susah sekali rasanya agar aku tak menyeka sesuatu yang mengalir pelan di pelupuk mataku ini.

Aku sudahi, ya. Terimakasih sudah memberi kabar. Itu sangat berarti bagiku. Aku harus masak dan bergegas menuju Solo.

Aku tahu aku tidak puitis, tetapi aku ingin bilang seperti ini kepadamu; jangan biarkan harapan menguap. Teruslah kau jaga, kau genggam selama mungkin. Jagalah tiap bara itu menyala. Aku bisa apa, hanya berdoa, ditambah sedikit berharap agar engkau cepat pulang ke pelukan bumi Nusantara. Atau kepelukanku? Ah, terserah!

Rasanya aku ingin segera matahari terbenam, lalu terbit di esok harinya, agar aku dapat membaca balasanmu atas semua keberanianku untuk membalas suratmu.

Oh iya, ketika di bandara, mengapa kamu tengok kepalamu dan melihatku yang sudah jauh berada jauh di belakangmu? Sambil tersenyum pula. Mau melihatku menangis? Susah. Aku wanita kuat (dengan catatan jika sedang berada di depanmu).

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini