Home » , » Surat dari Vietnam #1

Surat dari Vietnam #1

Oleh: Gusti Aditya

Diriku masih sama, kadar kewarasan yang juga aku jamin keabsahannya dengan yang dahulu. Dahulu, ya, terakhir kita bertemu. Kapan ya itu? Pokoknya ketika kamu menggenggam tanganku begitu kencang lantaran tahu esok aku akan terbang ke Vietnam.

Namun, rasa berbeda tentu saja ada. Lembabnya udara, jernihnya air hingga bisingnya kota ini. Rasanya aku tak kuat, ingin sekali rasanya aku sudahi dan bergegas masuk ke dalam pesawat.

Aku tak kuat di sini. Rasanya orang-orang Vietnam ini tak bisa jika tak membunyikan klaksonnya. Aku penasaran, bagaimana jika jalanan kosong, apakah mereka tetap membunyikan klaksonnya? Maaf, aku bukan marah kepadamu, namun saat surat ini aku tulis, bahkan apartemen lantai 5 masih saja bising akan bunyi klakson.

Di sini berdebu. Berbeda dengan Jogja yang walau panas terik, jarang ditemui debu yang beterbangan kesana-kemari. Mungkin di sini lah tempat yang tepat untuk mendapatkan penyakit pernapasan.

Airnya rasanya begitu panas walau aku sudah mengaturnya sedingin mungkin. Udara di sini begitu kering. Mungkin inilah alasan mengapa timnas kita selalu kalah jika bertandang ke Ha Noi. Indonesia lembab, mau jalan-jalan selama tiga jam juga tidak masalah. Berbeda dengan Ha Noi, aku perlu bawa es batu selama aku mengejar berita yang menguras begitu banyak tenaga.

Aku sudah makan, walau sebelumnya aku kebingungan hendak makan apa. Daging babi di mana-mana. Ada nasi goreng, namun aku jamin campuran dagingnya adalah pork. Sup hangat juga ada, namun aku jamin minyaknya adalah minyak babi. Untungnya aku membawa mie instan begitu banyak. Sesuai dengan saran dan candaanmu, aku harus membawa mie instan lebih banyak dari pada baju yang aku bawa di koper.

Maaf, aku hanya membawa kepercayaan yang selama ini kita bangun. Aku tak sempat menyelipkan Stasiun Lempuyangan sebagai media pelampiasan rinduku terhadap dirimu. Hanya boneka gajah yang engkau dapat dari sebuah maskapai penerbangan. Sudah cukup bagiku, walau bukan berarti boneka ini mampu membuatku tidak merindukanmu.

Selama diperjalanan aku selalu memikirkanmu. Bahkan megahnya Kuala Lumpur selama aku transit, tidak begitu menggugah nafsu menulisku lantaran aku begitu sedih meninggalkanmu. Jogja dan Solo mungkin tidak seberapa karena ada kereta seharga delapan ribu rupiah. Namun, bagaimana dengan Jogja - HaNoi?

Barangkali hanya boneka gajah yang engkau beri nama Gama ini adalah sobat yang mengerti rasa rinduku kepadamu. Kau tahu, Ha Noi malam hari begitu ramai, namun tanpa adanya dirimu, Ha Noi tetaplah sebuah kota yang menyedihkan untuk ditinggali.

Aku coba membayangkan adanya hadirmu di tempat ini, malam ini. Di lantai lima aku menghadap jendela, aku rengkuh tangan lembutmu, aku cium kening lebarmu itu, seraya aku akan berkata "Ha Noi adalah tempat terindah di muka bumi ini, selama ada dirimu di sampingku yang membuatnya sangat sempurna."

Terlepas dari semua kegelisahan ini, inilah surat pertamaku untuk dirimu di negara dengan bintang emas di tengah nyalanya warna merah. Tidak bermakna memang, namun surat ini hanya sebagai pembuka dari surat-surat lainnya yang pasti aku kirimkan untukmu tiap harinya. Jika seandainya suatu pagi aku tidak mengirimmu sebuah surat via dunia maya, barangkali aku sedang tidak berada dalam jangkauan internet yang stabil. Tenang saja, akan aku akumulasikan setiap surat ini, hanya untuk dirimu.

Terlepas dari segala keluhan, entah mengapa malam ini aku rindu dipaksa olehmu untuk makan malam lagi.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini