Home » , » Hanoi tanpa Motor Itu Bagai Jakarta tanpa Macet

Hanoi tanpa Motor Itu Bagai Jakarta tanpa Macet

Oleh: Gusti Aditya

Senyum dan menyeruput teh panas buatan dia. Itulah reaksi yang saya lontarkan ketika membaca berita di Tempo pada bulan Juli tahun 2017 lalu. Bagaimana tidak senyum, ketika kawan-kawan saya bertanya apa yang khas dari Hanoi, jelas saya hanya akan menyebutkan satu hal; motor. Dan dalam berita ini, saya seperti dipaksa membayangkan jika Jakarta tanpa ada macet.

Motor dalam negara berkembang memang sebuah sarana yang cukup ramah. Motor seakan menjadi mobilitas yang sakral bagi berlangsungnya perputaran ekonomi yang terjadi di bangsa berkembang. Contoh saja ketika maraknya transportasi online menginvasi Indonesia, khususnya ojek online, hal ini disambut oleh masyarakat dengan dalih menyelamatkan mereka dari pengangguran. Pun bagi pelanggan, hal ini memudahkan mereka untuk mencapai tujuan.

Hanoi dan motor adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Siang dan malam tidak ada bedanya lantaran bunyi klakson sepeda motor selalu memenuhi tiap sudut kota. Rambu lalu-lintas bukanlah suatu hal yang menakutkan seperti apa yang di kultuskan masyarakat Indonesia lantaran ada manusia berjaket hijau bersembunyi di balik pos. Di sana lampu hijau adalah maju dan lampu merah adalah lampu hijau. Ditambah penggunaan helm bukanlah sebuah perkara dan entah bagaimana dengan surat-surat kelengkapan kendaranya.

Menurut data yang penulis input dari Tirto, Hanoi kini berpenduduk 7,5 juta orang, jumlah sepeda motor di kota ini lebih dari 5 juta unit. Jumlah tersebut diambil pada bulan Juli dan terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Merujuk data pemerintah setempat, jumlah sepeda motor dan mobil di Hanoi adalah 1,34 kali kapasitas jalan, sementara di daerah pusat kota yang padat bisa menembus 3,72.

Di negara maju, hadirnya motor dapat menjadi pemecah kemacetan, namun terbalik di daerah berkembang, motor dapat menjadi pemicu kemacetan yang parah. Ditambah ketidak kondusifan Hanoi dalam menjalankan rambu lalu-lintas. Pun berbanding lurus dengan tingkat kecelakaan di kota ini seperti yang dilaporkan Vietnamese-German Transportation Research Centre pada 2014 menyebut sepeda motor menyumbang 75 persen angka kecelakaan lalu lintas tersebut.

Kemudian munculah sebuah wacana seperti yang penulis jabarkan pada awal. Menjadi pertanyaan, walau masih lama penerapannya pada tahun 2030, apakah ini jalan terbaik yang dilakukan oleh pemerintah Vietnam dalam mengatur lalu-lintas dan memecah kemacetan?

Sebentar, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca semua ke sebuah kebijakan di Cina. Cina menerapkan aturan untuk melarang penggunaan motor secara bertahap dan ujung-ujungnya penggunaan sepeda listrik menjadi pilihan. Penulis berpikiran, bagaimana jika Vietnam akhirnya melakukan hal yang sama?

Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti keluar. Dan di sini titik tekan penulis adalah permasalahan yang dilakukan Cina dan Vietnam dalam menekan jumlah pengendara bermotor berbeda. Di Cina, permasalahan utamanya adalah polusi, walau kemacetan dan kecelakaan bukanlah persoalan yang bisa dianggap remeh. Vietnam persoalannya adalah semrawutnya pengendara bermotor, tingkat kecelakaan dan kenyamanan.

Menjadi distopia saat penggunaan motor dilarang, namun penggunaan sepeda listrik menjadi pilihan. Kekacauan tetap terjadi, bahkan mereka akan lebih lincah kesana-kemari. Naik ke terotoar, nerabas lampu lalu-lintas dan tabrakan yang besar tidak bisa terelakan. Lebih tepatnya, seharusnya, diperjelas lagi spesifikasi yang bagaimana kendaraan itu dilarang. Jika masalah hanya karena mesin, saya rasa permasalahan utama bukanlah polusi.

Menurut penulis itu adalah blunder yang sangat besar. Bagai membuat peraturan jika PKI harus dibasmi, namun kenyataan yang ada adalah PKI itu tidak ada. Sia-sia. Lebih baik perketat hukumannya saat di jalan, dengan catatan: hati-hati pungli atau oknum yang menghukum pengendara tanpa alasan yang jelas.

Motor adalah ciri khas Hanoi. Tanpa motor, Hanoi bukanlah Hanoi, sama seperti Jakarta tanpa macet!

0 komentar:

Post a Comment