Home » , , » Aku Bisa Menciummu Lagi

Aku Bisa Menciummu Lagi

Ketika Wanita Lain

Siapa yang mau menyatakan perang kepada kehidupan selain dirimu?
Ketika sebagian wanita lain memburu pria berseragam,
Ketika sebagian wanita lain mengendus pria dengan orangtua yang tajir,
Dirimu menyelam ke dalam lumpur
Bersama hal-hal yang kotor dan mengambang di permukaan

Dirimu tidaklah hina,
Malah, engkaulah yang sempurna.
Ketika sebagian wanita lain sibuk bersolek
Ketika sebagian wanita lain lebih memilih membuka instagram
Dirimu malah menyibukan diri dengan setumpuk buku ditambah hangatnya teh buatan ibumu

Apa lagi?
Tidak ada lagi, kecuali satu kata penutup yang pantas untukmu;
Sempurna.

ꝋꝋꝋ

Jika umpamanya adalah pahlawan, mungkin aku pahlawan yang mati dan tak terkenal.
Tetapi, peduli apa aku jika dirimu lah yang mengabadikan namaku dalam pusara.
Membersihkannya setiap hari; menganggap aku adalah manusia; yang terpenting.
Mungkin aku akan menjadi manusia yang lebih bahagia ketimbang Sudirman.
ꝋꝋꝋ

Permintaan Maaf

Maaf, seringkali diriku mengajakmu melihat manusia, bukan hijaunya alam.
Maaf, seringkali diriku mengajakmu makan di emperan ruko yang sudah tutup.
Permintaan maafku, atas dasar hal yang sederhana, tanpa mau memperbaikinya.
Biarlah kita tenggelam dalam pusaran umat manusia,
Melihat si miskin menangis, si kaya tertawa
Aku ingin mendengar “Ternyata ini realitanya” dalam bibir mungil milikmu yang nelangsa itu.

ꝋꝋꝋ

Aku Bisa Menciummu Lagi

Aku bisa menciummu lagi
Setelah sekian lama darahku beku
Berhari-hari hanyalah air yang masuk bersama nasi
Senyummu itu yang paling aku nanti, aku rindu disertai sebuah cumbu

Kita bertukar kabar, menganggap bahwa tidak ada apa-apa
Aku tak ceritakan semua yang sedih, aku tumpahkan semua yang bahagia
Di pengasingan, namaku sudah terpampang,
Jika aku membangkang, dirimu yang menjadi taruhan

Tidak adil, bukan?
Sudahlah, terpenting
Aku bisa menciummu lagi

ꝋꝋꝋ

Nimas

Sayang, ayahmu tidak jahat.
Banyak pria berseragam mencari ayah
Bukan karena ayah jahat,
Bukan karena ayah ini salah
Ayah hanya terlalu berani, nak.

Nimas sayang, ayah pergi dahulu
Ke tempat yang tak menentu
Tidur beralaskan bumi, menghadap matahari
Jogja atau Jakarta, ayah belum tetapkan, nak
Nimas jangan menangis, anak ayah itu berani.

Nimas sayang, ingat pesan ayah.
Jika ada yang mengetuk daun pintu dengan keras;
Jangan dibuka, itu serdadu.
Jika ada yang mengetuk daun pintu di tengah malam;
Itu ayah yang sedang rindu dengan Nimas.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini