Home » , , » Sebuah Awal: Cerita Bola dari Desa

Sebuah Awal: Cerita Bola dari Desa

Oleh: Gusti Aditya

Terdapat candaan yang terus terulang dari hari ke hari, yaitu "rumput sorga telah jatuh ke bumi manusia bernama lapangan SMA Negri 2 Banguntapan". Benar, memang berlebihan, namun jika dibanding sekolah kota, kualitas rumput di sekolah ini memang yang terbaik (karena di SMA kota biasanya tidak ada lapangan rumput). Sebuah prosa yang unik juga menyertai candaan tersebut, yaitu "hanya siswa "terpilih" yang diberi sebuah kesempatan untuk menyicipi rumput sorga tersebut".

Barangkali kata "terpilih" dapat diganti dengan "bandel" atau "ndableg" lantaran terdapat peraturan terkait larangan menginjak rumput selain keperluan pembelajaran. Mengapa "terpilih" sekaligus "bandel"? Ya, karena setiap sore, saya dan teman-teman selalu menjalankan sebuah tradisi sakral berupa menginjak-injak rumput dengan cara menggulirkan sebuah bola di tengah lapangan. Atau nama lainnya adalah sepakbola. Dengan catatan semua guru telah pulang.

Melihat sosok penafsir ruang seperti Steven Gerrard atau insting predator seperti Del Piero di lapangan hijau, tidak sebanding dengan kami yang begitu lihainya mengolah si kulit bundar. Puluhan gol atau assist pun bukan hal yang aneh. Gol-gol indah yang laik mendapatkan Puskas Award pun menjadi pemandangan wajib tanpa diabadikan oleh kamera.

Namun, poin utama bukanlah mencari kemenangan, melainkan nilai apa yang kami dapatkan setelah kami lelah mengadu kemampuan yang ditutup oleh Adzan Magrib bergema. Biasanya kami bergerombol di bawah pohon sembari saling tukar minum. Nah, setelah itu terjadilah obrolan yang barangkali adalah hikmah di balik rusaknya rumput indah sekolah kami tercinta.

Dari lapangan ini, lahirlah sosok Muhammad Arif dalam kehidupan saya. Badannya tidak tinggi-tinggi amat, pun tidak seberat badan saya, namun dia lah yang paling jago di antara kami. Jago bukan hanya seputar teknis dalam lapangan, namun juga penafsiran dan luasnya wawasan dia seputar sepakbola dalam maupun luar negri hingga akar rumput. Jika akar tersebut terdapat serabut, barangkali hingga ujung serabut.

Siapa sangka, dari sebuah desa yang ditutupi tebu seperti ini, hidup manusia seperti Apet (nama akrab dari Arif). Lebatnya tebu tidak menutupi niatnya untuk memahami 'sebenarnya apa yang kurang dalam sepakbola negri ini'. Laiknya syarat menikmati indahnya Stadion Sultan Agung di Bantul, kita harus mampu melewati rimbanya pohon tebu di sekitarnya. Begitu dengan Apet, kita harus melakukan penafsiran berbagai lapis agar mengerti substansi jalan pemikirannya.

Tiga tahun berlalu, rumput sorga telah menjauh dengan cara yang begitu tega, namun saya ingin membangkitkan hal tersebut dengan cara yang berbeda menengok berkumpul di atas rumput sorga dengan keadaan full tim adalah sebuah ketidakmungkinan. Melalui apa? Caranya bagaimana? Saya ingin membuat sebuah kenangan tentang lapangan SMA Negri 2 Banguntapan dengan abadi. Ya, karya tulis. Ketika muncul pertanyaan "dengan siapa pekerjaan ini dilakukan", jawabannya adalah Apet.

Suatu malam kami bertemu di rumah Apet yang hanya berjarak beberapa meter dari stadion kebanggaan Kabupaten Bantul, ditemani rintik hujan di langit yang menetes pelan di teras bumi dan ditambah dua rekan kami yang lainnya, Rifki Murwanto dan Akhid Kurniawan. "Bosan dengan kuliah. Harus ada sesuatu yang berbeda, buat karya, yuk?" Saya membuka pembicaraan.

Jadilah sebuah kesepemahaman di antara kami. Rencananya adalah rangkuman dari apa yang kami bicarakan tiga tahun lalu selepas ibadah main bola. Apa menariknya? Semua masalah ada akarnya, begitu halnya dengan sepakbola. Dan akar dari rumitnya sepakbola Indonesia adalah penataannya dari desa.

Loh, apakah semua permasalahan kami limpahkan kepada desa? Jadi begini, permasalahan itu tidak sepenuhnya salah. Ha? Begini, sepakbola desa adalah sebuah kultur yang kaya dan jarang dikaji. Kebanyakan karya tulis sepakbola berangkat dari hal-hal besar seperti nasionalisme hingga loyalitas, padahal sepakbola desa (tim, kultur dan perangkatnya) adalah pondasi sesungguhnya dari rumitnya sepakbola bangsa ini.

Karya kami berpijak dari hal tersebut (kultur desa), baru kami berbicara manis seputar nasionalisme dan loyalitas. Nah, berangkat dari 2 hal utama, kami bangun sebuah premis baru, yaitu sepakbola dunia sebagai pembanding sepakbola bangsa ini. Mulai dari feminisme, filsafat, politik, taktik hingga sepakbola negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Laos.

Sebenarnya rencana awal adalah membangkitkan kenangan selama kami berdiskusi seputar bola ba'da pelajaran sekolah, menjadi bahasan kultur dan sub kultur tim-tim legendaris macam Persiba, PSIM, PSS, Persis hingga Persebaya. Namun, saya jamin bahwa karya ini tidak ada kalimat saling puji maupun menjatuhkan antara saya dengan Apet satu lembar pun kecuali lembar ucapan terimakasih.

Bagi kami, kenangan berupa foto itu adalah semu, namun karya tulis sifatnya abadi. Jadi, apakah anda bisa menerka bahwa kami sedang merencanakan apa? Ya, sebuah karya yang dapat anda jumpai pada bulan Desember 2018, mepet-mepetnya ya Januari 2018.



Bukan hanya karya tulis, namun juga tersedia gambar menarik.
Versi PDF, tertarik?
Versi PDF, tertarik?
 Akhir kata, bukankah bakat sepakbola selalu dijumpai melalui desa? Apa salahnya kita bangun dahulu sepakbola bangsa dari desa? Semoga karya ini menjawab semua.

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini